oleh

Kurangi Penggunaan Pestisida, Pemkot Ambon Dampingi Petani

-Ekonomi-262 views

AMBON – Pemerintah Kota (Pemkot) Ambon intenstif melakukan pendampingan sekaligus pengawasan bagi petani untuk mengurangi batas penggunaan residu pestisida dan juga pupuk organik pada sayuran.

Wakil Wali kota Ambon Syarif Hadler mengatakan berdasarkan hasil pengujian laboratorium terhadap sampel Pangan Segar Asal Tumbuhan (PSAT)  terdeteksi ada residu pestisida golongan peritroit dengan bahan aktif parethrin pada sampel sayuran dari petani di Kota Ambon.

“Pengujian laboratorium terhadap sampel PSAT berupa sayur-sayuran produksi sejumlah petani di Kota Ambon yang diduga terdeteksi residu pestisida menunjukkan masih di bawah ambang batas, tetapi harus terus diawasi penggunaan pestisidanya,” kata Hadler kepada wartawan di Balai Kota Ambon, Kamis (19/9/2019).

Ia menjelaskan, pendampingan dan pengawasan untuk menekan batas residu pestisida dan pupuk organik yang menimbulkan bakteri e-coli yang berasal dari hewan.

“Hasil pengujian laboratorium terhadap sampel PSAT yang terdeteksi residu pestisida golongan peritroit dengan bahan aktif parethrin, terjadi pada sayuran kangkung, terong hijau dan terong ungu serta bakteri e-coli pada sayuran sawi hijau dan selada, yang masih di bawah ambang batas. Untuk kita terus melakukan pengawasan dan pembinaan terhadap petani agar menggunakan pestisida sesuai dengan batasan,” jelasnya.

Menurutnya, hasil pengujian sesuai SNI 7313 : 2008, batas maksimum residunya 0,1 mg/kg untuk terong. Sedangkan hasil pengujian laboratoioum untuk terong adalah 0,0058 mg/kg, termasuk kangkung.

“Hasil ini menunjukkan kandungan residu pestisida tersebut masih di bawah ambang batas residu sehingga dapat dinyatakan aman untuk dikonsumsi masyarakat,” katanya.

Hadler juga mengimbau seluruh masyarakat kota Ambon untuk tidak perlu khawatir mengkonsumsi sayuran, selain itu petani juga dapat melakukan panen, dipasarkan dan dikonsumsi masyarakat.

“Yang menarik hasil penelitian per Agustus 2019 dalam prosesnya sayur-mayur telah dipanen petani dan dikonsumsi masyarakat, jika ada indikasi residu pestisida dan e-coli maka akan ada dampak yang dirasakan masyarakat,” ungkapnya.

Dikatakan, dampak penggunaan residu pestisida perlahan dan butuh waktu cukup panjang, tapi bakteri e-coli setelah dikonsumsi hanya membutuhkan waktu beberapa jam, langsung reaksinya mulai terasa.

“Tetapi selama ini sebelum penelitian dilakukan masyarakat telah mengonsumsi sayuran, karena itu saya ingin sampaikan bahwa semua jenis sayur yang diberitakan aman untuk dikonsumsi atau masih di bawah ambang batas,” tandasnya.

Sebagaimana diketahui, masalah sayuran yang terkontaminasi pestisida menjadi sorotan public menyusul surat Plt Kepala Dinas Ketahanan Pangan (DKP) Provinsi Maluku, Habiba Saimima kepada Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Kota Ambon viral di media sosial (medsos), sejak Rabu (18/9/2019) pagi.

Surat nomor 521/709/DKP/VIII/2019 tertanggal 14 Agustus 2019 perihal Penyampaian Hasil Uji Laboratorium tersebut viral karena berisi informasi hasil laboratorium terkait produk sayuran yang terdeteksi residu pestisida dan mikroba e-coli.

Menindaklanjuti hasil uji laboratorium dari PT Saraswanti Indo Geneteh nomor SIG.CL.V/2019.012786, perihal Penyampaian Hasil Uji Laboratorium tanggal 21 Mei 2019 terhadap beberapa produk sayuran antara lain Bayam Merah, Kangkung, Sawi, Terong Ungu, Terong Hijau dan Selada yang sampelnya diambil dari kebun milik La Adong di Desa Poka, Erwin di Dusun Airlow dan Yanti di Dusun TAeno. dengan ini kami informasikan bahwa pada produk sayuran tersebut terdeteksi residu pestisida dan mikroba e-coli. Untuk itu kami garapkan agar bapak/ibu dapat menyampaikan dan melakukan pembinaan kepada petani tersebut,” begitu bunyi surat yang ditandatangani Plt Kepala Dinas Ketahanan Pangan Provinsi Maluku, Habiba Saimima

Viralnya surat tersebut menimbulkan keresahan di masyarakat yang selama ini mengkonsumsi sayur-sayuran tersebut.

Menyikapi viralnya surat dimaksud, Plt Kepala DKP Provinsi Maluku, Habiba Saimima mengatakan kandungan residu pestisida maupun mikroba tersebut masih di bawah ambang batas residu.

“Terkait dengan hasil pengawasan (uji) laboratorium yang dilakukan oleh Dinas Ketahanan Pangan Provinsi Maluku terhadap sampel pangan segar asal tumbuhan (sayur-sayuran) pada beberapa petani di Kota Ambon yang terdeteksi residu pestisida golongan peritroit dengan bahan aktif parethrin pada sayuran kangkung, terong hijau dan terong ungu serta bakteri e-coli pada sayuran sawi hijau dan selada,  maka dengan ini dijelaskan bahwa kandungan residu pestida  tersebut masih di bawah ambang batas residu,” ungkap Saimima dalam rilisnya, Rabu (18/9/2019).  (MT-03)

Komentar

News Feed