1. Beranda
  2. Bencana

Pasca Gempa, PLN Pastikan Sistem Kelistrikan di Tanimbar Aman

Oleh ,

AMBON, MalukuTerkini.com - PT PLN (Persero) memastikan sistem kelistrikan di Kabupaten Kepulauan Tanimbar dalam kondisi aman, baik di sisi pembangkitan maupun distribusi pasca gempa bumi tektonik berkekuatan magnitudo M 7,9 (parameter update M 7,5) yang terjadi Selasa (10/1/2023).

Beberapa lokasi terdampak yang sempat mengalami padam listrik langsung segera dipulihkan oleh petugas PLN dengan tetap memperhatikan informasi terkini dari BMKG dan juga kondisi lapangan demi keselamatan masyarakat.

Manager PLN Unit Pelaksana Pelayanan Pelanggan (UP3) Saumlaki, Robert Leimena menjelaskan penyulang utama kota Saumlaki dan penyulang arah luar kota yang terdampak gempa segera dilakukan pemulihan.

Lokasi-lokasi untuk pelayanan publik menjadi prioritas, seperti Rumah Sakit, tempat ibadah, dan fasilitas publik lainnya aktivitas Kembali berjalan normal.

"Saat ini petugas PLN di lapangan tengah melakukan percepatan pemulihan kelistrikan secara bertahap agar sesegera mungkin pasokan kelistrikan kembali normal seperti sedia kala," jelas Robert dalam keterangannya, Selasa (10/1/2023).

Dikatakan, pasokan listrik di beberapa lokasi desa terdampak saat ini sudah kembali normal dan akan terus dilakukan upaya percepatan penormalan secara bertahap, sampai di saluran listrik ke arah luar kota.

Sebagaimana diketahui, gempa bumi tektonik berkekuatan magnitudo M 7,9 yang terjadi di kawasan Laut Banda khususnya yang berada di wilayah Kabupaten Kepulauan Tanimbar dan Maluku Barat Daya, Provinsi Maluku, Selasa (10/1/2023) pukul 02.47 WIT.

“Hasil analisis BMKG menunjukkan gempa bumi ini memiliki parameter update dengan magnitudo M7,5. Episenter gempabumi terletak pada koordinat 7,37° LS ; 130,23° BT, atau tepatnya berlokasi di laut pada jarak 136 Km arah Barat Laut Kabupaten Kepulauan Tanimbar, Maluku pada kedalaman 130 km,” jelas Kepala Pusat Gempa Bumi dan Tsunami BMKG, Daryono dalam keterangannya yang diterima malukuterkini.com, Selasa (10/1/2023).

Dengan memperhatikan lokasi episenter dan kedalaman hiposenternya, menurut Daryono, gempa bumi yang terjadi merupakan jenis gempabumi menengah akibat adanya aktivitas subduksi Laut Banda.

“Hasil analisis mekanisme sumber menunjukkan bahwa gempabumi memiliki mekanisme pergerakan naik (thrust fault),” ungkapnya.

Ia merincikan gempa bumi ini berdampak dan dirasakan di daerah Saumlaki dengan skala intensitas V MMI (Getaran dirasakan hampir semua penduduk, orang banyak terbangun), daerah Dobo, Tiakur IV MMI (Pada siang hari dirasakan oleh orang banyak dalam rumah, di luar oleh beberapa orang, gerabah pecah, jendela/pintu berderik dan dinding berbunyi), daerah Sorong, Kaimana, Alor, Waingapu, Waijelu, Lembata dengan skala intensitas III-IV MMI (Bila pada siang hari dirasakan oleh orang banyak dalam rumah), daerah Kairatu, Merauke, Nabire, Tanah Merah, Wamena, Bakunase, Kolhua, Sabu, Rote, Ende, Amarasi Selatan, Kota Kupang dengan skala intensitas II-III MMI (Getaran dirasakan nyata dalam rumah. Terasa getaran seakan akan truk berlalu), daerah Ambon dan Piru II MMI (Getaran dirasakan oleh beberapa orang, benda-benda ringan yang digantung bergoyang).

“Hasil pemodelan menunjukkan bahwa gempabumi ini Berpotensi Tsunami, dengan tingkat ancaman Siaga di Maluku Tengah, Kepulauan Maluku Tenggara, Kabupaten Kepukauan Tanimbar dan Kota Ambon; sedangkan tingkat ancaman Waspada di Maluku Tenggara, Seram Bagian Timur, Seram Bagian Barat, Buru, Wakatobi, Kendari Pulau Watulumango, Kepulauan Kendari, Konawe Bagian Selatan, Kota-Kendari dan Kendari,” rincinya. (MT-05)

Berita Lainnya