AMBON, MalukuTerkini.com – Menteri Agama (Menag) Nasaruddin Umar menyambangi lima situs bersejarah di Pulau Banda, Kabupaten Maluku Tengah (Malteng), Jumat (16/1/2026).

Kelima situs bersejarah dimaksud yaitu rumah pengasingan Bung Hatta, rumah budaya Banda Neira, rumah pengasingan Sutan Syahrir, Perigi Rante, dan Istana Mini.

Langkah pertama Menag tertuju pada rumah pengasingan Bung Hatta. Bangunan bercat putih itu berdiri sederhana, dikelilingi halaman yang teduh. Rumah ini menjadi saksi bisu pengasingan salah satu pendiri bangsa oleh pemerintah kolonial Belanda. Di tempat inilah Bung Hatta menjalani masa pembuangan, jauh dari hiruk-pikuk pergerakan nasional, namun justru kian meneguhkan gagasan tentang kemerdekaan, persatuan, dan masa depan Indonesia.

Di ruang-ruang sempit rumah itu, sejarah tak hanya berbicara tentang penderitaan, tetapi juga keteguhan prinsip. Meja kerja sederhana dan rak buku tua seolah masih menyimpan jejak perenungan Bung Hatta. Ia dikenal sebagai sosok yang menjunjung tinggi nilai moral, etika, dan kejujuran, nilai yang juga sejalan dengan ajaran agama.

Bagi Menag, rumah pengasingan ini menjadi pengingat perjuangan kemerdekaan Indonesia lahir dari perpaduan antara kecerdasan intelektual, keteguhan iman, dan komitmen kebangsaan.

Perjalanan kemudian berlanjut ke rumah budaya. Bangunan ini menjadi ruang hidup bagi seni dan tradisi lokal Banda Neira. Di dalamnya tersimpan alat musik tradisional, kain tenun, serta dokumentasi sejarah masyarakat setempat. Suasana hangat terasa dari cerita-cerita tentang adat istiadat yang masih dijaga hingga kini.

Bagi Menag, rumah budaya bukan sekadar tempat penyimpanan benda bersejarah. Ia adalah ruang pewarisan nilai, tempat generasi muda belajar tentang jati diri dan akar budaya mereka. Dari sinilah denyut kebudayaan Banda Neira terus dijaga agar tak lekang oleh waktu.

Dari rumah budaya, Menag melanjutkan kunjungan ke rumah pengasingan Sutan Syahrir. Bangunan ini berdiri tak jauh dari pusat pemukiman warga. Di tempat inilah tokoh pergerakan nasional itu pernah menjalani hari-hari pengasingannya.

Di ruang-ruang sederhana rumah tersebut, Sutan Syahrir banyak menghabiskan waktu membaca dan menulis. Sejarah mencatatnya sebagai pemikir kritis yang teguh memegang prinsip. Bagi Menag, rumah ini menjadi simbol perjuangan kemerdekaan juga lahir dari kekuatan gagasan dan keberanian bersikap.

Perjalanan berlanjut ke Perigi Rante. Sumur tua ini terletak di tengah permukiman, dikelilingi pepohonan rindang. Dahulu, perigi ini menjadi sumber air utama warga sekaligus ruang perjumpaan sosial. Di sinilah warga saling bertukar cerita sembari menimba air.

Keberadaan Perigi Rante merekam kehidupan masyarakat yang erat dengan nilai kebersamaan. Menag melihat situs ini sebagai simbol gotong royong dan kearifan lokal yang tumbuh secara alami di tengah masyarakat Banda Neira.

Perjalanan Menag mengingat sejarah berakhir di Istana Mini Banda Neira. Bangunan ini menyimpan beragam artefak dan foto-foto lama yang merekam perjalanan masa lalu. Dari ruang ke ruang, Menag menyusuri jejak perjumpaan berbagai budaya, suku, dan agama yang sejak lama hidup berdampingan di Kepulauan Banda.

Sejarah Banda Neira memang tak bisa dilepaskan dari peran agama yang berkembang melalui jalur perdagangan dan interaksi antarbangsa. Jejak itu tampak jelas dalam koleksi dan narasi yang tersaji di Istana Mini.

Di tempat ini, Menag juga berdialog langsung dengan warga. Suasana berlangsung hangat dan penuh kekeluargaan. Warga menyampaikan cerita tentang kehidupan sehari-hari, tradisi yang masih dijaga, serta harapan mereka untuk masa depan Banda Neira. Percakapan mengalir santai, diselingi senyum dan tawa. Tak lupa ia mengajak warga setempat untuk menjaga warisan Sejarah bangsa Indonesia di pulau Banda ini.

“Mari kita rawat benda-benda, rumah-rumah, dan tempat bersejarah ini, bukan hanya untuk anak-anak-anak kita di Banda itu sendiri, tetapi warisan untuk anak-anak kita di seluruh Indonesia,” ungkap Menag.

Dikatakan, Banda Neira adalah contoh bagaimana nilai keagamaan, kebangsaan, dan kemanusiaan tumbuh bersama. Keberagaman yang terawat sejak masa lampau menjadi fondasi kuat bagi kehidupan berbangsa hari ini.

Dari timur Indonesia, Banda Neira mengajarkan bahwa toleransi dan persatuan bukanlah konsep baru, melainkan warisan sejarah yang harus terus dijaga.

Perjalanan ini menjadi penegasan bahwa Banda Neira bukan sekadar destinasi wisata alam. Ia adalah ruang belajar sejarah, tempat nilai-nilai perjuangan, keagamaan, dan kebangsaan saling bertaut.

Di balik pesonanya yang menawan, Banda Neira menyimpan pesan penting, yaitu kemerdekaan dan persatuan lahir dari ingatan yang dirawat, sejarah yang dipahami, dan nilai yang terus dihidupkan. (MT-01)