AMBON, MalukuTerkini.com – Perjalanan seorang perempuan Maluku dalam memadukan dunia akademik, budaya dan ekonomi kreatif tercermin kuat dalam rekam jejak Fransina Sarah Latumahina, dosen Fakultas Pertanian (FAPERTA) Universitas Pattimura (Unpatti) Ambon, yang juga dikenal sebagai pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) berbasis seni budaya melalui brand Azael Collection.

Sebagai akademisi, Fransina Latumahina yang merupakan Guru Besar Bidang Ilmu Perlindungan dan Kesehatan Ekosistem Hutan telah lama menekuni dunia pendidikan dan pengembangan ilmu pengetahuan.

Di Jurusan Kehutanan Fakultas Pertanian Unpatti Ambon, ia dikenal sebagai dosen yang tidak hanya berfokus pada pengajaran di ruang kelas, tetapi juga mendorong mahasiswa untuk memahami realitas sosial, budaya, dan ekonomi masyarakat Maluku.

Bagi Fransina, pendidikan tinggi memiliki tanggung jawab moral untuk melahirkan kesadaran kritis serta keberpihakan pada konteks lokal dan kelompok marjinal, termasuk perempuan.

Di luar kampus, Fransina menunjukkan konsistensi perjuangannya melalui Azael Collection, sebuah brand UMKM yang mengusung tagline “Fashion Etnik Maluku”. Dirintis sejak lima tahun lalu, Azael Collection tumbuh dari kegelisahan akan minimnya ruang bagi seni dan budaya Maluku dalam industri kreatif nasional. Melalui sentuhan desain yang berakar pada motif, simbol, dan nilai-nilai budaya lokal, Azael Collection menghadirkan karya fashion yang memadukan tradisi dan modernitas.

Dalam kurun waktu lima tahun, Azael Collection berhasil berkembang pesat dan menguasai pangsa pasar di Maluku, sekaligus menembus pasar nasional hingga mancanegara.

Produk-produk Azael Collection tidak hanya diminati karena keunikan visualnya, tetapi juga karena narasi budaya yang melekat pada setiap karya. Setiap produk menjadi medium cerita tentang identitas Maluku, sejarah, dan kekuatan perempuan dalam menjaga warisan budaya.

Fransina memandang UMKM bukan sekadar aktivitas ekonomi, melainkan strategi kultural dan sosial.  Fransina yang juga Sekretaris DPD GAMKI Maluku mengatakan bahwa usaha ini lahir dari keinginan untuk menjadikan budaya Maluku sebagai kekuatan ekonomi yang berkelanjutan.

“Kami ingin membuktikan bahwa budaya Maluku tidak hanya layak dilestarikan, tetapi juga dapat menjadi sumber ekonomi yang mampu bersaing di pasar nasional bahkan global,” ujar Fransina saat ditemui di Ambon.

Menurutnya, Azael Collection tidak hanya berorientasi pada keuntungan, tetapi juga pada pemberdayaan pelaku seni dan perajin lokal. Proses produksi melibatkan masyarakat setempat, khususnya perempuan, sehingga memberikan dampak ekonomi langsung bagi komunitas.

“Fashion bagi kami adalah ruang ekspresi budaya sekaligus alat pemberdayaan. Ketika perempuan dan perajin lokal diberi ruang, maka ekonomi daerah ikut bergerak,” tambahnya.

Keberhasilan Azael Collection juga mendapat perhatian dari konsumen dan pelaku ekonomi kreatif. Salah satu pelanggan Azael Collection, Maria Pattiasina, salah seorang karyawan sawsta di Kota Ambon menilai produk yang dihasilkan memiliki keunikan tersendiri.

“Desainnya khas Maluku dan tidak pasaran. Setiap produk punya cerita budaya, itu yang membuat Azael Collection berbeda,” ungkapnya.

Dari sisi pemasaran, Azael Collection telah memanfaatkan platform digital dan jejaring pameran UMKM untuk memperluas pasar. Produk-produknya kini tidak hanya dipasarkan di Maluku, tetapi juga di berbagai kota besar di Indonesia serta sejumlah negara luar bahkan mengikuti pameran di Darwin Australia pada tahun 2025 lalu.

Pengamat ekonomi kreatif di Maluku menilai keberadaan Azael Collection menjadi contoh nyata bahwa UMKM berbasis budaya memiliki potensi besar untuk mendorong pertumbuhan ekonomi daerah. Dengan inovasi yang berkelanjutan dan dukungan kebijakan yang tepat, UMKM seperti Azael Collection diyakini mampu menjadi motor penggerak ekonomi Maluku.

Ke depan, Azael Collection berkomitmen untuk terus mengembangkan desain, memperluas jaringan pasar, serta menjaga nilai budaya sebagai identitas utama.

“Harapan kami sederhana, Azael Collection bisa terus menjadi jembatan antara budaya Maluku dan dunia, sekaligus membuka lebih banyak peluang ekonomi bagi masyarakat lokal,” ujar Fransina.

Melalui Azael Collection, ia membuka ruang pemberdayaan bagi perempuan dan pelaku seni lokal, sekaligus membuktikan bahwa budaya daerah dapat menjadi kekuatan ekonomi yang berdaya saing tinggi. Model usaha ini juga menjadi contoh nyata bagaimana ekonomi kreatif dapat berjalan seiring dengan upaya pelestarian budaya.

Rekam jejak Fransina Latumahina menunjukkan bahwa peran perempuan sangat strategis dalam pembangunan daerah. Dengan mengintegrasikan pengetahuan akademik, praktik seni budaya, dan kewirausahaan, ia menghadirkan wajah pembangunan Maluku yang berdaulat secara budaya, adil secara sosial, dan berkelanjutan.

Melalui kiprahnya sebagai dosen dan pelaku UMKM, Fransina Latumahina tidak hanya menginspirasi generasi muda dan perempuan Maluku, tetapi juga memperlihatkan bahwa kekuatan perempuan mampu menjadi motor penggerak perubahan sosial dan ekonomi, baik di tingkat lokal, nasional, maupun global. (MT-06)