AMBON, MalukuTerkini.com – Majelis Pekerja Klasis (MPK) Gereja Protestan Maluku (GPM) Pulau Ambon Penatua Phil Latumaerissa menegaskan pentingnya evaluasi menyeluruh terhadap pelaksanaan Rencana Strategis (Renstra) lima tahunan Jemaat GPM Soya sebagai pijakan utama dalam merancang arah pelayanan ke depan.
Penegasan ini disampaikan Penatua Phil Latumaerissa mewakili MPK Pulau Ambon saat pembukaan Sidang ke-41 Jemaat GPM Soya Tahun 2026 yang berlangsung di Gedung Gereja Lazarus Kayu Putih, Minggu (25/1/2026).
Dalam sambutannya, Latumaerissa memegaskan sidang jemaat bukan sekadar forum formal, melainkan ruang refleksi iman yang objektif terhadap seluruh perjalanan pelayanan selama lima tahun terakhir.
“Evaluasi tersebut harus dibarengi dengan apresiasi atas capaian pelayanan, sekaligus keberanian melihat berbagai persoalan dan tantangan yang masih dihadapi jemaat,” tandasnya.
Ia menilai hasil monitoring dan evaluasi (monev) lima tahunan memiliki peran strategis sebagai fondasi dalam menyusun perencanaan pengembangan pelayanan jemaat lima tahun ke depan.
“Tanpa evaluasi yang objektif, jemaat berisiko kehilangan arah dan kesinambungan pelayanan,” ujarnya.
MPK Pulau Ambon, kata Latumaerissa, mendorong agar monev lima tahunan mampu memotret secara utuh tiga pilar kehidupan jemaat, yakni praksis iman atau perbuatan, kualitas dan peran para pelayan, serta aspek kelembagaan jemaat. Ketiga pilar tersebut dinilai menjadi dasar penting dalam merumuskan arah kebijakan dan program pelayanan Jemaat GPM Soya pada tahun pelayanan 2026.
Selain itu, ia mengingatkan agar setiap perencanaan strategis dan program kerja jemaat disusun berbasis data serta kebutuhan riil umat, sekaligus menjadi komitmen bersama antara para pelayan dan seluruh warga jemaat.
Terkait implementasi keputusan Sidang ke-39 Sinode GPM, Latumaerissa mengakui adanya sejumlah perubahan, khususnya di bidang liturgi dan musik gerejawi.
Kendati demikian, ia menekankan agar proses penyesuaian dilakukan secara bertahap dan proporsional, sesuai kemampuan jemaat, sehingga tidak memberatkan anggaran.
Perhatian khusus juga diberikan pada pengelolaan keuangan jemaat. MPK GPM Pulau Ambon menegaskan pentingnya tata kelola keuangan yang transparan, akuntabel, dan dilandasi sikap takut akan Tuhan, mengingat seluruh persembahan merupakan wujud kasih karunia Allah. Peran otorisator dalam fungsi pembinaan, pengawasan, dan pengendalian keuangan jemaat pun ditekankan sebagai bagian dari tata kelola yang sehat.
MPK Pulau Ambon juga mendorong Jemaat GPM Soya untuk mulai mengembangkan sumber-sumber pendapatan baru guna memperkuat kemandirian finansial, mengingat selama ini jemaat masih bertumpu pada pola pendapatan konvensional.
Sementara itu, Camat Sirimau yang diwakili Sekretaris Camat Ricky Manuel menegaskan Sidang Jemaat merupakan momentum strategis dalam memperkuat peran gereja di tengah masyarakat.
“Dengan mengusung subtema “Layanilah Umat dengan Sungguh-Sungguh Sesuai Kasih Allah”, persidangan jemaat diharapkan menjadi ruang evaluasi, koordinasi, dan konsolidasi dalam merumuskan program pelayanan yang menghadirkan nilai kebenaran, keadilan, dan damai sejahtera,” tandasnya.
Ricky berharap program-program yang dihasilkan tidak hanya berdampak bagi internal gereja, tetapi juga mampu bersinergi dengan pemerintah negeri, kecamatan, hingga Pemerintah Kota Ambon.
Menurutnya, gereja memiliki peran strategis sebagai mitra pembangunan sosial yang harmonis dan berkeadilan.
Memasuki tahun 2026, ia mengingatkan masih adanya berbagai tantangan sosial di Kota Ambon, khususnya potensi konflik antarwilayah yang kerap dipicu isu provokatif.
Untuk itu, ia mengajak gereja memberi perhatian serius pada pembinaan generasi muda agar terhindar dari perilaku negatif seperti tawuran, balap liar, penyalahgunaan narkoba, dan minuman keras.
Ia juga menyinggung praktik baik Desa Galala melalui Peraturan Desa tentang Ketertiban Umum yang mengatur batas kecepatan kendaraan serta larangan konsumsi minuman keras pada kegiatan tertentu, dan mendorong agar langkah tersebut dapat dikolaborasikan di Negeri Soya.
Selain itu, Ricky mengingatkan pentingnya peran gereja dalam mengedukasi umat agar bijak menggunakan teknologi digital, di tengah maraknya hoaks, ujaran kebencian, dan provokasi di media sosial. Ia juga mengajak jemaat mendukung program prioritas Pemerintah Kota Ambon, seperti pengembangan ekonomi kreatif dan UMKM, peningkatan kualitas pendidikan dan kesehatan, serta kesadaran menjaga kebersihan lingkungan.
Pada kesempatan yang sama, Raja Negeri Soya Herve R.J Rehatta menegaskan bahwa Sidang Jemaat GPM Soya bukan sekadar agenda rutin gerejawi, melainkan momentum iman yang strategis untuk mengevaluasi pelayanan dan merumuskan arah program ke depan demi kemuliaan nama Tuhan.
Menurut Rehatta, evaluasi pelayanan harus dilakukan dalam semangat saling melengkapi, bukan saling menyalahkan, agar gereja semakin relevan dan hadir menjawab kebutuhan umat. Pelayanan, katanya, harus mampu menjawab kesenjangan sosial dengan pendekatan yang memberdayakan, memulihkan, dan menyatukan umat, sejalan dengan subtema pelayanan tahun 2026.
Dalam konteks pembangunan Negeri Soya, ia menyampaikan bahwa arah perencanaan tahun 2026 difokuskan pada penguatan tata kelola pemerintahan negeri, peningkatan kesejahteraan masyarakat, serta pelestarian kebudayaan sebagai identitas bersama. Ia juga menyoroti dampak efisiensi anggaran pemerintah pusat yang menuntut kemandirian dan kreativitas masyarakat, khususnya dalam menjaga ketahanan pangan melalui pemanfaatan lahan pertanian dan pekarangan rumah.
Sidang Jemaat GPM Soya ke-41 diharapkan menjadi momentum memperkuat arah pelayanan jemaat yang berkelanjutan, kontekstual, dan bertanggung jawab bagi kehidupan gereja dan masyarakat.
Untuk diketahui, ibadah pembukaan Sidang Jemaat dipimpin oleh Pendeta G. Telussa/Loupatty dengan pembacaan firman Tuhan dari Mazmur 147:1–20. (MT-04)


Tinggalkan Balasan