AMBON, MalukuTerkini.com – Balai Pelaksanaan Jalan Nasional (BPJN) Maluku terus mengakselerasi pengerjaan proyek strategis nasional pembangunan jalan Kota Baru–Air Nanang di Kabupaten Seram Bagian Timur (SBT).
Proyek ini diprioritaskan untuk membuka keterisolasian wilayah pesisir yang selama puluhan tahun hanya bergantung pada jalur laut.
Kepala Satuan Kerja PJN Wilayah II Provinsi Maluku, Toce Leuwol mengaku hingga awal Februari 2026, progres fisik proyek menunjukkan perkembangan positif.
“Realisasi fisik saat ini telah mencapai 4,993 persen. Pekerjaan difokuskan di STA 06+000, terutama pada kegiatan galian serta penyiapan fondasi jalan,” ungkapnya.
Jalan yang merupakan bagian dari konektivitas Trans Seram ini memiliki panjang efektif 31,7 kilometer hingga Kampung Akat Fadedo. Proyek tersebut dikerjakan dengan skema Multi Year Contract (MYC) dan didukung pembiayaan dari Surat Berharga Syariah Negara (SBSN) senilai Rp185 miliar.
“Kontrak dimulai sejak 10 Oktober 2025 dan ditargetkan rampung pada 2027. Skema tahun jamak memastikan keberlanjutan anggaran hingga akses jalan benar-benar terhubung,” katanya.
Leuwol mengakui, tantangan utama proyek ini adalah kondisi geografis yang ekstrem. Saat pelaksanaan Mutual Check Nol (MC0), tim teknis harus melakukan pemetaan jalur di kawasan hutan primer yang belum tersentuh pembangunan.
“Alat berat harus menembus hutan dan rawa-rawa dengan kedalaman tertentu. Karena itu, penyesuaian desain dilakukan secara cermat agar konstruksi jalan kokoh dan sesuai karakter tanah,” ujarnya.
Lebih dari sekadar proyek infrastruktur, pembangunan jalan ini dinilai sebagai jawaban atas kerinduan masyarakat yang telah menunggu akses darat selama puluhan tahun. Antusiasme warga pun sangat tinggi karena selama ini mobilitas mereka sepenuhnya bergantung pada transportasi laut yang berisiko tinggi saat cuaca buruk.
“Masyarakat menyampaikan bahwa setelah hampir 80 tahun Indonesia merdeka, barulah akses jalan ini masuk ke wilayah mereka. Dukungan dan partisipasi warga menjadi motivasi besar bagi kami untuk menyelesaikan proyek ini tepat waktu,” jelasnya.
Dari sisi ekonomi, kehadiran jalan nasional ini diproyeksikan menjadi urat nadi baru yang memangkas biaya logistik dan mempercepat distribusi hasil bumi. Komoditas unggulan seperti pala, cengkeh, kopra, hingga hasil perikanan kini dapat diangkut langsung ke pusat pasar di Bula dan Ambon dengan lebih cepat dan efisien.
“Selama ini distribusi lewat laut mahal dan berisiko. Dengan jalan darat, pendapatan petani dan nelayan akan meningkat karena akses pasar menjadi lebih terbuka,” ungkapnya.
Dampak positif juga dirasakan pada sektor pelayanan publik, khususnya kesehatan dan pendidikan. Jalan nasional ini akan memudahkan mobilisasi ambulans menuju desa-desa terpencil serta memperlancar aktivitas guru dan siswa antarwilayah.
“Intinya, proyek ini menghapus sekat isolasi dan mendorong perubahan sosial-ekonomi masyarakat. BPJN Maluku hadir untuk menjawab kebutuhan dasar itu,” kata Leuwol. (MT-04)

Tinggalkan Balasan