AMBON, MalukuTerkini.com – Pembangunan Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) sebagai pelaksana program Makanan Bergizi Gratis khususnya di wilayah-wilayah terpencil di Maluku sering terkendala karakteristik wilayah setempat.

“Memang untuk percepatan pembangunan SPPG di daerah terpencil di Maluku sudah doibetuk Satgas Percepatan SPPG Terpencil di 10 kabupaten/kota, selain Kota Ambon. Namun memang tantangan tersendiri daerah terpencil itu disebabkan karakter wilayah seperti pesisir, pegunungan, lembah, pulau kecil dan itu memang situasi yang sulit,” ungkap Perwakilan PT Krakatau Steel (Persero) Tbk  di Maluku Costansius Kolatfeka kepada wartawan di Ambon, Jumat (27/2/2026).

Kendati diperhadapkan dengan karakteristik wilayah yang menantang, namun jelasnya,Badan Gizi Nasional (BGN) mempunyai skema pembiayaan yang memberikan insentif lebih sebagai bentuk penghargaan kepada investor yang memilih membangun dapur-dapur di wilayah terpencil ini.

“Misalnya di Kawasan Tehoru hingga Kesui itu pondasinya semua sudah siap, pengiriman modularnya sementara jalan karena kita kerja sama dengan PT Krakatau Steel sebagai produsen baja. Jafa memang karakteristik kepulauan dan tantangan cuaca yang ekstrem itu menjadi hambatan utama dalam percepatan pembangunan dapur MBG di daerah terpencil. Resikonya ketika ombak, angin, seringkali juga material yang terbatas karena jauh. Karena itu, investor yang bekerja di wilayah-wilayah terpencil itu harus punya komitmen yang kuat dan harus membangun karena nama sudah terdaftar di BGN,” jelasnya.

Ia berharap pemerintah kabupaten/kota di Maluku melihat keberadaan SPPG itu dari hulu sampai hilir.

“Jangan kita lihat objek bangunan ini saja, tapi misalnya ketersediaan bahan baku. Sesuai SOP bahan baku, tidak semua bahan baku itu harus mengandung karbohidrat dan lain-lain, ini harus dari persiapan lahan untuk memenuhi kebutuhan hal ini. Jadi jika kabupaten/kota tidak siap maka pasti dalam situasi tertentu kita kesulitan menyuplai terpenuhinya kebutuhan bahan baku dimaksud,” ungkapnya. (MT-01)