AMBON – Wakil Sekretaris Umum (Wasekum) Majelis Pekerja Harian (MPH) Sinode Gereja Protestan Maluku (GPM), Pendeta Max Takaria mengajak peserta Sidang ke-50 Klasis GPM Kota Ambon untuk tidak menjadikan persidangan sekedar retorika seremoni, namun melainkan dijadikan panggilan iman yang harus diwujudkan dalam hidup setiap pelayan gereja.
“Melayani umat dengan tekun adalah wujud spiritualitas pelayan gereja yang sejati. Karena itu kami mengingatkan seluruh pelayan GPM untuk peka dan tanggap atas setiap permasalahan yang dihadapi umat dan layanilah mereka dengan tekun atas dasar anugerah kasih Allah yang telah kita terima,” tandas Pendeta Max Takaria saat membuka Sidang ke-50 Klasis GPM Kota Ambon yang dipusatkan di Gereja Josep Kam, Jemaat Bethel, Ambon, Minggu (8/3/2026).
Dikatakan, tidak cukup bagi hanya melayani dalam pelayanan rutin tanpa terobosan yang digerakkan spiritualitas pembaruan dan pembebasan untuk melakukan transformasi nyata dalam hidup jemaat-jemaat yang layani, supaya membawa perubahan, kemajuan, pemulihan, dan peningkatan kualitas hidup bersama.
Menurut Pendeta Takaria, keluarga adalah ladang utama tempat nilai-nilai kasih Allah ditumbuhkan.
“Kita perlu memberikan perhatian dan pendampingan ekstra bagi keluarga-keluarga jemaat melalui pastoral keluarga yang berkelanjutan. Ini penting untuk memperkuat iman dan karakter warga gereja di tengah berbagai krisis keluarga yang terjadi saat ini,” ungkapnya.
Ia menegaskan gereja perlu memberi perhatian dan pendampingi kepada keluarga-keluarga jemaat sebagai gereja rumah tangga (Ecclesia Domestica).

“Perlu ada penguatan iman, karakter, dan spiritualitas warga gereja dengan jalan mengoptimalkan pastoral keluarga secara berkelanjutan. Ini menjadi penting sebab keluarga-keluarga kita hari ini mengalami krisis. Hal ini perlu mendapat perhatian bersama semua pelayan di jemaat secara berkelanjutan dalam rangka menata, membaharui, dan memperkuat kualitas hidup warga gereja yang adalah juga warga bangsa,” andasnya.
Ia juga memgapresiasi aksi simbolik para pelayan yang menggunakan becak menuju lokasi persidangan.
Baginya, hal tersebut bukan sekadar seremoni, melainkan bentuk keberpihakan nyata gereja terhadap masyarakat ekonomi bawah.
“GPM kini gencar mendorong Gerakan Keluarga Menanam, Melaut, Beternak dan Memasarkan (GKM-BM) sebagai motor penggerak ekonomi umat. Mari kita berusaha mengoptimalkan peluang-peluang pengembangan ekonomi dalam konteks perkotaan sebagai imperatif dari panggilan gereja dan praktis teologi. Karena itu, gerakan pemberdayaan ini sudah harus menjadi gerakan klasis dan jemaat-jemaat se-GPM yang harus dilakukan secara terprogram dengan indikator capaian yang jelas dan terukur berbasis potensi sumber daya yang tersedia. Secara khusus dalam konteks Klasis Kota Ambon, pemberdayaan warga jemaat melalui UMKM dan usaha ekonomi yang sudah dilakukan di jemaat-jemaat kiranya terus mendapat perhatian dan ditingkatkan lewat program dan kegiatan bersama. MPH akan menjadikan GKM-BM sebagai salah satu variabel evaluasi kinerja pegawai organik GPM. Dengan demikian, kami berharap hal ini mendapat perhatian semua pimpinan klasis dan pimpinan jemaat se-GPM sepanjang masa sinode ini,” tandasnya.
Ibadah Pembukaan Sidang ke-50 Klasis GPM Kota Ambon juga dihadiri Asisten Administrasi Umum Sekda Maluku Dominggus N Kaya, Wali Kota Ambon Bodewin M Wattimena, Ketua DPRD Kota Ambon Morits Tamaela, Ketua Klasis GPM Kota Ambon Pendeta Elrianton Muskitta serta delegasi dari 21 jemaat. (MT-01)




Tinggalkan Balasan