AMBON, MalukuTerkini.com –  Sidang ke-50 Klasis Gereja Protestan Maluku (GPM) Kota Ambon mulai digelar di Gereja Josep Kam, Jemaat Bethel, Ambon, Minggu (8/3/2026).

Sidang Klasis tersebut diawali dengan ibadah yang dipimpin Pendeta JA Tuasela.

Dalam khotbahnya yang terambil dari  Lukas 22:54-62, Pendeta Tuasela menegaskan Klasis Kota Ambon berdiri tepat di episentrum dari peradaban GPM.

“Pusat GPM ada di sini. Di klasis inilah berpadu segala kompleksitas problematika masyarakat. Melalui Persidangan ke-50 ini kini dipanggil untuk melihat dan mengakaji ulang pola pelayanan kita. Kita tidak boleh lagi melihat jemaat ini secara buta, kita tidak boleh melihat klasis ini secara buta, atau juga gereja ini secara buta, tetapi kita memandangnya dengan tatapan secara komprehensif,” tandasnya.

Dikatakan, gereka harus kembali memandang keluarga sebagai tempat pertama dan utama di mana iman itu dihidupkan.

“Persidangan ini harus melahirkan desain pelayanan pastoral yang hadir, tekun, dan menatap secara dekat ke ruang makan dan dapur keluarga,” katanya.

Ia juga mengingatkan realita melebarnya jarak antar generasi. Di satu sisi ada generasi Gen X yang memegang kendali kepemimpinan struktural, di sisi lain ada Gen Z dan Gen Alpha yang tumbuh dengan cara berpikir berbeda.

“Seringkali orang tua memandang anak muda dengan tatapan menghakimi.  menganggap mereka generasi instan. Sebaliknya, anak muda memandang gereja sebagai tempat kaku dan tidak relevan. Kita harus memikirkan kurikulum dan pola ibadah yang menjembatani dialog antar generasi ini,” ungkapnya.

Pendeta Tuasela, menjelaskan di era AI dan algoritma, digitalisasi bukan hanya soal live streaming ibadah atau grup WhatsApp dari jenjang unit hingga jemaat, tapi tentang bagaimana menghadirkan kasih Allah di ruang siber yang penuh ujaran kebencian dan hoaks.

“Gereja harus melatih umat memiliki spiritualitas digital untuk menyelamatkan mereka dari jeratan pinjol ilegal, kecanduan layar (screen addiction), dan judi online.

Ia mengegaskan, Persidangan ke-50 Klasis GPM Kota Ambon ini merupakan momentum teologis karena ada penafsiran tentang angka-angka di dalam Alkitab. Yang enyatakan angka 50 itu sebagai angka Yobel.

“Angka 50 itu angka pembebasan, angka kedewasaan, angka perenungan, dan angka di atas segalanya. Jadi jika hari ini Klasis Kota Ambon bersidang yang ke-50, maka angka ini menuntut suatu evaluasi total di hadapan sang pemilik gereja ini. Sebeelum memutuskan program, mengestimasi anggaran, menggagas kebijakan strategis untuk menjawab realitas bergereja kita di Maluku, khususnya Kota Ambon, tapi Indonesia dan global, Tuhan meminta kita berhenti sejenak seperti Petrus pada malam paling gelap dalam hidupnya untuk mengalami perjumpaan melalui tatapan mata dengan sang Juru Selamat,” tandasnya.

Ibadah Pembukaan Sidang ke-50 Klasis GPM Kota Ambon juga dihadiri Wakil Sekretaris Umum (Wasekum) MPH Sinode GPM Pendeta Max Takaria, Asisten Administrasi Umum Sekda Maluku Dominggus N Kaya, Wali Kota Ambon Bodewin M Wattimena, Ketua DPRD Kota Ambon Morits Tamaela, Anggota DPRD Kota Ambon Body Wane Ruperd Mailuhu, Ketua Klasis GPM Kota Ambon Pendeta Elrianton Muskitta serta delegasi dari 21 jemaat. (MT-01)