AMBON, MalukuTerkini.com – Spiritualitas yang mendukung ketahanan ekonomi dan kecakapan digitalisasi menjadi Titik Tumpu Utama Atau Fokus Pelayanan Klasis Gereja Protestan Maluku (GPM) Pulau Ambon Utara untuk periode 2026-2030.

Hal itu diungkapkan Ketua Klasis GPM Pulau Ambon Utara Pendeta R Haliwela saat pembukaan Sidang ke-14 Klasis GPM Pulau Ambon Utara yang digelar di Gereja Pniel, Jemaat GPM Wayame, Minggu (15/3/2026).

Dijelaskan, Rencana Pengembangan Pelayanan Klasis (RPPK) tahun 2026-2030 akan menjadi peta jalan spiritual untuk mewujudkan pelayanan yang lebih transformatif sesuai dengan core service pelayanan KPAU tahun 2025-2030, yaitu Spiritualitas yang mendukung ketahanan ekonomi dan kecakapan digitalisasi.

“Tentu implementasi dokumen perencanaan ini membutuhkan komitmen kolektif dan sinergi dari seluruh perangkat pelayan dan warga jemaat. Kita tidak lagi berjalan berdasarkan kebiasaan, melainkan bergerak berdasarkan pemetaan kebutuhan yang objektif dan visi yang terukur dalam mewujudkan tata kelola pelayanan yang lebih profesional sekaligus profetik guna menjawab tantangan zaman yang kian dinamis. Apa yang kita rencanakan hari ini adalah bentuk tanggung jawab iman kita kepada Tuhan demi pertumbuhan kualitas pelayanan Klasis di masa depan,” jelasnya.

Menurutnya, satu hal yang harus disadari bahwa implementasi dokumen perencanaan ini berlangsung dalam era digitalisasi yang berlangsung pesat.

“Dalam konteks itu, digitalisasi tidak bisa dipandang sebelah mata. Digitalisasi bukan sekadar tren teknologi, melainkan ruang pelayanan baru di mana umat menghabiskan sebagian waktu pada ruang dimaksud. Karena itu, gereja tidak boleh absen dari ruang dimaksud, melainkan harus hadir dan berani membangun sebuah ekosistem pelayanan gereja yang berbasis digital agar peran gereja untuk menjadi terang di tengah perkembangan digitalisasi dapat diwujudkan,” ungkap Pendeta Haliwela.

Ia mengaku pelaksanaan Prasidang dan Sidang ke-14 Klasis Pulau Ambon Utara ini dengan mengurangi kertas dan menggunakan sistem digital asistensi AI Klasis, di mana seluruh dokumen sidang serta peraturan kegerejaan dapat diakses dengan mudah dan membantu peserta sidang untuk mengikuti alur sidang dengan baik.

“Hal ini tidak sekadar merupakan respon gereja atas tuntutan digitalisasi, melainkan sekaligus wujud efisiensi anggaran pada sidang gerejawi,” ungkapnya.

Di tengah kemajuan teknologi dan arus informasi yang mengalir deras melalui gerbang digital, jelasnya, umat menghadapi polikrisis dengan dampaknya yang sangat terasa dalam kehidupan keluarga, gereja, dan masyarakat.

“Gereja terpanggil untuk memperkuat Ecclesia Domestica atau gereja rumah tangga, suatu strategi yang memiliki dampak besar bagi ketahanan keluarga. Sebab pada era ini, batas-batas ruang tamu kita telah ditembus oleh algoritma global yang seringkali menjauhkan yang dekat dan mendekatkan yang jauh, serta mengaburkan nilai-nilai etik kristiani,” jelas Pendeta Haliwela.

Dalam konteks itu, katanya, perlu memperlengkapi orang tua dan anak-anak dengan literasi digital yang sehat agar teknologi tidak menjadi tembok pemisah melainkan jembatan untuk mempererat persekutuan.

“Karena itu, gerakan untuk mengoptimalkan Binakel pada keluarga-keluarga jemaat harus mendapat porsi prioritas dalam gerak pelayanan kita di jemaat-jemaat dengan pola pengawasan secara kontinu, sambil kita memastikan bahwa keluarga-keluarga pelayan lebih dahulu mempraktikkannya dalam keluarga. Dengan mempraktikkan hal berdoa, membaca Alkitab, dan saling menasihati dalam keluarga, kita sedang membangun fondasi keluarga dan jemaat yang kuat, yang tidak mudah terombang-ambing oleh gelombang perubahan, namun tetap berdiri kokoh sebagai terang yang menuntun generasi penerus menuju masa depan yang penuh harapan,” jelasnya.

Pembukaan Sidang ke-14 Klasis GPM Pulau Ambon Utara dihadiri Ketua MPH Sinode GPM Pendeta Sacharias Izaac Sapulette, Wali Kota Ambon Bodewin M Wattimena, Sekretaris Klasis GPM Pulau Ambon Utara Pendeta H Siahay MM.

Hadir juga Majelis Pekerja Klasis (MPK) Pulau Ambon Utara periode 2025 – 2030 yang terdiri dari Pendeta  LW Laisila, Pendeta VH Maitimu, Pendeta Y Tomatalla/S, Penatua Franky DJ Tutuarima, Penatua J Labetubun, Diaken L  Siahainenia dan Penatua August Ernst Pattiselanno. (MT-01)