AMBON, MalukuTerkini.com – Di musim mudik, jalanan sering terasa seperti sungai yang tak pernah benar-benar tidur. Kendaraan mengalir tanpa jeda, membawa rindu yang ingin segera ditunaikan. Namun di tengah arus itu, ada satu tempat yang memilih untuk diam an justru dari situlah kehangatan mengalir.

Halaman Gereja Kristen Jawi Wetan (GKJW) Jemaat Purwosari di jalur Kediri menjadi salah satunya.

Sejak 18 – 22 Maret 2026, gereja ini membuka pintunya lebar-lebar melalui program “Gereja Peduli Pemudik”.

Bukan hanya sebagai rumah ibadah, tetapi sebagai ruang singgah bagi siapa saja yang lelah di perjalanan.

Di sana, pemudik tidak ditanya berasal dari mana, menuju ke mana, atau memeluk agama apa. Mereka cukup datang dan disambut.

Senyum ramah, secangkir teh atau kopi hangat, serta camilan sederhana menjadi pengantar pertama. Di sudut lain, tersedia area istirahat yang nyaman. Bahkan, ruang khusus untuk salat pun disiapkan.

Program ini merupakan bagian dari inisiatif Kementerian Agama melalui gerakan “Rumah Ibadah Ramah Pemudik”, yang mendorong rumah-rumah ibadah di seluruh Indonesia menjadi ruang aman dan terbuka selama musim mudik.

Di GKJW Jemaat Purwosari, pelayanan itu dijalankan bersama para penyuluh Kristen dari Kabupaten Trenggalek. Mereka bergantian berjaga, menyapa, dan memastikan setiap pemudik yang singgah merasa diperhatikan.

“Ini adalah bentuk kasih yang sederhana, tapi kami percaya bisa berarti besar bagi mereka yang sedang dalam perjalanan,” ujar Rini Sulistyowati, salah satu penyuluh Kristen yang terlibat, Rabu (18/3/2026)

Bagi para pemudik, tempat seperti ini bukan hanya soal beristirahat. Ia menjadi tempat menarik napas, meredakan penat, dan mengisi ulang energi yang hampir habis di jalan.

Di tengah perjalanan yang panjang dan kadang melelahkan, mereka menemukan sesuatu yang tak selalu bisa dibeli: ketenangan.

Kehadiran GKJW Jemaat Purwosari di jalur mudik Kediri menghadirkan wajah Indonesia yang sering kali sunyi dari sorotan tentang kemanusiaan yang melampaui sekat identitas.

Lebih dari itu, inisiatif ini juga menjadi cermin dari komitmen bersama dalam merawat moderasi beragama. Rumah ibadah tidak hanya menjadi tempat mendekat kepada Tuhan, tetapi juga ruang untuk menghadirkan kasih bagi sesama manusia.

Di ujung lelah perjalanan, gereja itu tidak hanya berdiri sebagai bangunan. Ia menjadi pelukan. Dan dari sana, mengalir pesan yang sederhana, namun tak lekang oleh waktu: kita semua bersaudara. (MT-01)