AMBON, MalukuTerkini.com – Sebanyak 25 Stand memeriahkan Pameran UMKM dalam rangka memperingati Hari Bakti Pemasyarakatan (HBP) ke-62, yang digelar di pelataran Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas IIA Ambon, Jumat (10/4/2026).

Sekretaris Kota Ambon, Roby Sapulette membuka pameran tersebut didampingi Kakanwil Ditjenpas Maluku dan Ketua Panitia yang juga Kalapas Ambon.

Selama pameran berlangsung, puluhan stad dikunjungi tamu-tamu dan langsung berbelanja memberikan hasil produk warga binaan setiap UPT yang ada di setiap stand.

Dalam sambutannya, Sapulette mengatakan peringatan HBP bukan sekadar seremoni, tetapi momentum penting untuk mengingat tujuan mulia sistem pemasyarakatan, yakni membina WBP agar kembali ke masyarakat sebagai pribadi yang lebih baik, mandiri, dan produktif.

“Pameran ini menjadi bukti nyata hasil pembinaan, khususnya dalam bidang keterampilan dan kewirausahaan. Produk yang ditampilkan menunjukkan kreativitas sekaligus semangat warga binaan untuk berubah,” ungkapnya.

Ia juga menekankan pentingnya peran UMKM dalam mendukung perekonomian daerah. Pemerintah Kota Ambon, lanjutnya, terus berkomitmen memperkuat sektor UMKM melalui berbagai program prioritas, termasuk penyediaan lapangan kerja, bantuan modal usaha, hingga perluasan akses pasar.

“Melalui kegiatan seperti ini, kami berharap produk UMKM, termasuk dari lingkungan pemasyarakatan, semakin dikenal dan mampu bersaing di pasar yang lebih luas,” katanya.

Sapulette juga mengajak masyarakat untuk mendukung para pelaku UMKM dengan membeli produk yang dipamerkan.

Menurutnya, setiap transaksi merupakan bentuk dukungan nyata terhadap upaya pemberdayaan dan pembinaan warga binaan.

Sementara itu, Kepala Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Pemasyarakatan (Ditjenpas) Maluku, Ricky Dwi Biantoro, menegaskan bahwa pelaksanaan bazar UMKM yang melibatkan Lapas dan Rutan se-Maluku merupakan bukti nyata keberhasilan proses pembinaan warga binaan.

Menurut Ricky, produk-produk yang dipamerkan bukan sekadar hasil kerajinan atau makanan olahan, tetapi mencerminkan proses panjang pembinaan yang dijalani warga binaan.

“Apa yang kita lihat hari ini bukan hanya produk, tetapi wujud nyata dari proses pembinaan, pembelajaran, dan perjuangan warga binaan hingga menghasilkan karya yang bernilai,” ungkapnya.

Ia menegaskan pemasyarakatan tidak hanya berfungsi sebagai tempat menjalani hukuman, tetapi juga sebagai wadah membangun kembali kualitas hidup seseorang.

“Melalui kegiatan ini, kami ingin mengedukasi masyarakat bahwa pemasyarakatan adalah tempat membangun kembali manusia. Warga binaan adalah individu yang sedang belajar dan berusaha menjadi lebih baik,” jelasnya.

Sementara itu, Ketua Panitia Pelaksana, Sumarwoto Hendra Budiman dalam laporannya menjelaskan pameran ini bertujuan membuka peluang pemasaran produk warga binaan sekaligus mendorong pemberdayaan ekonomi di lingkungan pemasyarakatan.

“Paneran ini diikuti 25 stand, terdiri dari 19 stand internal dan 6 stand eksternal. Produk yang ditampilkan merupakan hasil karya warga binaan dari berbagai Unit Pelaksana Teknis,” jelasnya.

Ia menambahkan, kegiatan ini dilaksanakan berdasarkan sejumlah regulasi terkait pemasyarakatan serta dukungan anggaran dari Direktorat Jenderal Pemasyarakatan Tahun 2026. (MT-04)