AMBON, MalukuTerkini.com – Direktur Rumah Sakit Khusus Daerah (RSKD) Provinsi Maluku, dr. Sherly Yakobus, Sp.KJ, membagikan sejumlah strategi komprehensif untuk memitigasi dan mencegah risiko academic burnout bagi para mahasiswa Fakultas Kedokteran (FK) Universitas Pattimura (Unpatti).

Strategi tersebut disampaikan saat ia menjadi narasumber dalam kuliah umum bertajuk “Kesehatan Mental – Lived Experience Heard: Real Voices, Real Change” yang berlangsung di Aula FK Unpatti, Ambon, Selasa (13/10/2026).

Kuliah Umum ilmiah yang diselenggarakan dalam rangka memperingati Hari Kesehatan Jiwa Sedunia ini menyoroti tingginya tekanan psikologis di lingkungan pendidikan kedokteran.

Dalam paparan materinya, Sherly menjelaskan mahasiswa kedokteran memiliki risiko gangguan kesehatan mental yang lebih tinggi dibandingkan populasi umum.

“Beban akademik yang berat, waktu istirahat yang terbatas, serta dinamika saat memasuki fase kepaniteraan klinik menjadi pemicu utama kelelahan emosional dan penurunan performa belajar,” jelasnya.

Ia mengaku academic burnout merupakan bentuk respons individu terhadap stres akademik kronis yang berkembang secara bertahap.

“Kondisi ini mencakup tiga dimensi utama, yaitu kelelahan emosional (emotional exhaustion), sikap sinis atau depersonalisasi (cynicism), serta penurunan rasa pencapaian pribadi (reduced personal accomplishment). Kendati dapat disertai gejala kecemasan dan suasana perasaan depresif, ia menegaskan bahwa burnout tidak identik dengan gangguan depresi mayor dan penentuannya membutuhkan penilaian klinis yang tepat,” ungkapnya.

Untuk mengatasi tantangan tersebut, Sherly memaparkan strategi pengelolaan diri (self-management) dan kesadaran penuh (mindfulness). Mahasiswa diimbau untuk melatih pembuatan kesepakatan target belajar yang realistis (self-contract), memberikan apresiasi diri secara berkala (self-reward), serta mencatat aktivitas maupun emosi harian (self-monitoring).

Selain itu, pendekatan problem-focused coping dinilai sangat efektif melalui pemetaan masalah secara jelas, penyusunan alternatif solusi, hingga eksekusi tindakan secara terukur.

“Mengenali tanda-tanda sejak dini bukanlah tanda kelemahan, tetapi bentuk kepedulian terhadap diri sendiri,” ujar Sherly saat menekankan pentingnya deteksi dini kesehatan jiwa.

Ia juga mengatakan upaya pencegahan burnout tidak hanya bertumpu pada peran mahasiswa dalam menjaga kualitas tidur, pola makan, dan aktivitas fisik, tetapi juga membutuhkan komitmen aktif dari pihak institusi pendidikan.

“Pihak kampus diharapkan dapat terus mengevaluasi beban akademik, menciptakan lingkungan belajar yang kondusif dan adil, serta menyediakan akses layanan konseling mental yang memadai,” katanya.

Kuliah Umum yang dipandu moderator dr. Leonardo Jecerson Sipahelut (Dokter RSKD Maluku/alumnus FK Unpatti) diikuti para mahasiswa FK Unpatti tersebut juga dihadiri Dekan dr. Farah Christina Noya, M.HPEd., Ph.D; para dosen dan jajaran manajemen RSKD Maluku, (MT-01)