AMBON, MalukuTerkini.com – Program Pascasarjana Institut Agama Kristen Negeri (IAKN) Ambon menggelar Bedah Karya 2026 dengan mengangkat tema “Bunyi yang Bercerita: Kreativitas, Identitas, dan Inovasi dalam Penciptaan Musik Nusantara”.

Bedah Karya ini menjadi ruang akademik untuk menguji kreativitas, menggali identitas budaya, serta mendorong inovasi musik nusantara agar tetap relevan di tengah perkembangan musik global.

Bedah Karya yang berlangsung di Auditorium IAKN Ambon, Jumat (30/10/2026), dibuka oleh Direktur Pascasarjana IAKN Ambon, Dr. Agusthina Ch. Kakiay, M.Si.

Dalam sambutannya, Kakiay mengatakan, bedah karya merupakan agenda rutin Program Pascasarjana IAKN Ambon yang memiliki arti penting, terutama dalam pengembangan kajian musik dan seni di lingkungan akademik.


“Musik tidak sekadar menjadi sesuatu yang dinikmati melalui pendengaran, tetapi juga perlu dikaji, diuji, dan dipertanggungjawabkan secara akademik maupun factual,” katanya

Ia menjelaskan, tema yang diangkat tahun ini mengandung tiga aspek penting, yakni kreativitas, identitas, dan inovasi.

“Ketiganya menjadi landasan untuk melihat bagaimana penciptaan musik tidak hanya menghasilkan rangkaian nada, tetapi juga menghadirkan makna dan pesan di dalamnya,” jelasnya.

Dari aspek kreativitas, Kakiay berharap para pencipta musik mampu melahirkan karya yang tidak sekadar mengandalkan komposisi nada, tetapi juga memiliki kedalaman makna.

Sementara dari sisi identitas, ia menegaskan pentingnya mempertahankan karakter musik nusantara di tengah derasnya pengaruh musik global.

“Aspek inovasi, berkaitan dengan kemampuan mengembangkan tradisi musik nusantara agar dapat berdialog dengan perkembangan musik masa kini tanpa kehilangan nilai dan karakter aslinya,” katanya.

Karena itu, Agusthina berharap forum bedah karya dapat menjadi ruang dialog yang kritis sekaligus membangun.

“Seluruh peserta untuk memberikan penilaian secara terbuka terhadap karya yang dipresentasikan dengan tetap menjunjung tinggi kejujuran akademik.Silakan untuk melihat karya, mengkritik karya, dan di sinilah kejujuran akademik kita uji,” ungkapnya

Khusus bagi mahasiswa pascasarjana, kegiatan ini diharapkan menjadi kesempatan untuk mempelajari secara langsung metodologi penciptaan dan metodologi kritik seni dari para pakar yang memiliki kompetensi di bidang musik.

Kakiay juga berharap hasil pembahasan tidak hanya berhenti di ruang auditorium, tetapi dapat memberikan kontribusi nyata bagi pengembangan musik gereja nusantara, musik pendidikan, hingga industri musik di Maluku dan Indonesia.

Dalam Bedah Karya 2026 tersebut, terdapat dua karya komposisi musik yang menjadi objek pembahasan. Karya pertama berjudul “SEI HALE HATU, HATU LISA PEI: Re-interpretasi Sumpah Batu dalam Penciptaan Karya Musik Etnis Maluku” yang diciptakan oleh komposer sekaligus dosen IAKN Ambon, Dr. Nelsano Anesry Latupeirissa, S.Sn., M.Sn. Karya kedua berjudul “Ninga Sentawar: Komposisi Musik Programatik Tentang Kisah Misi Dr. Ra Jaffray di Tanah Kutai Barat” yang merupakan karya Frangky Lawandatu, S.Sn., M.Sn., lulusan Program Magister IAKN Ambon.

Kedua karya tersebut dibedah oleh empat akademisi dan pakar musik yaitu Prof. Junita Batubara, S.Sn., M.Sn., PhD (Guru Besar Program Studi Seni Musik Fakultas Bahasa dan Seni Universitas HKBP Nommensen Medan); Dr. Eko Raharjo, M.Hum. (Wakil Dekan Bidang Akademik dan Kemahasiswaan sekaligus dosen Pendidikan Seni Musik Fakultas Bahasa dan Seni Universitas Negeri Semarang), Dr. Henry Virgan Tanasale, M.Pd., (Akademisi Program Studi Pendidikan Seni Musik Fakultas Pendidikan Seni dan Desain Universitas Pendidikan Indonesia Bandung); serta Dr. Branckly Egbert Picanussa, D.Th., S.Si., M.Th., L.M., (Wakil Rektor III Bidang Kemahasiswaan dan Kerja Sama IAKN Ambon).  (MT-01)