AMBON, MalukuTerkini.com – Polda Maluku menggelar simulasi pengamanan aksi unjuk rasa.
Simulasi yang melibatkan ratusan personil gabungan berlangsung di Lapangan Chr Tahapary, Ambon, Jumat (5/12/2025).
Simulasi tersebut disaksikan oleh Wakapolda Maluku, Brigjen Pol Imam Thobroni dan para pejabat utama polda Maluku.
Pantauan malukuterkini.com, dalam simulasi tersebut, disimulasikan massa aksi melakukan demo di Mapolda Maluku. Ratusan massa yang berorasi meminta keadilan menyerbu depan Mapolda.

Aparat keamanan berusaha menghalau masa dipimpin Kapolresta Pulau Ambon dan Pulau-pulau Lease, namun karena situasi mulai memanas sehinggapengamanan dipertebal dengan pengerahan personel Ditsamapta disertai kendaraan taktis Water Canon guna memukul mundur massa.
Kendati demikian, masa tetap berusaha menerobos hingga akhirnya personel Brimob langsung diperbantukan untuk menghalau massa dengan menembakan gas air mata hingga akhirnya masa memilih mundur.
Wakapolda Maluku, Brigjen Pol Imam Thobroni saat penutupan simulasi menjelaskan pelatihan seperti ini sudah sering dilakukan, bahkan kadang terasa sepeleh tetapi jangan dianggap remeh.

“Semakin sering kita berlatih, semakin sering kita mengulang ujian atau simulasi, maka kemampuan kita akan makin terasah dan makin terampil. Ibarat pemain bulu tangkis, sehebat apa pun dia bahkan juara dunia sekalipun kalau dua bulan saja berhenti latihan, dia akan kembali lagi dari nol. Begitu juga dengan kita. Mungkin dalam latihan kita merasa main-main, tertawa, atau bosan. Tapi tanpa pelatihan yang terus-menerus, tanpa pengulangan, kita akan lupa. Dan ketika menghadapi situasi nyata seperti kejadian bulan Agustus,’ ungkap alumni Akademi Kepolisian (Akpol) 1991 ini.
Wakapolda mengingatkan, situasi di lapangan tidak pernah sama dengan yang disimulasikan sehingga membutuhkan penanganan yang berbeda.
“Di negara kita ini, dengan tugas seperti yang kita emban, kita sering berada pada posisi yang disalahkan. Kita sudah bekerja sesuai SOP, sesuai teori, sesuai apa yang dilatihkan, tapi di mata netizen belum tentu dianggap benar. Contohnya saat penanganan banjir. Polisi menggunakan helikopter untuk menjatuhkan bantuan karena tidak bisa mendarat, ada beras yang pecah akibat terhempas angin. Kita sudah berusaha maksimal, tetapi masyarakat tetap marah. Itu kenyataan tugas kita. Karena itu saya minta, jangan berkecil hati. Tetap semangat. Justru karena tugas kita penuh risiko, maka latihan harus lebih sering. Insya Allah, dengan pengulangan, kita akan semakin mahir dan siap menghadapi situasi apa pun,” ungkap mantan Kepala Biro Operasi Polda Nusa Tenggara Barat ini.
Brigjen Imam Thobroni yang pernah menjabat Direktur Polairud Polda Sumatera Selatan ini menambahkan, penanganan aksi unjuk rasa kedepan dilakukan secara humanis oleh Polisi. (MT-04)


Tinggalkan Balasan