AMBON,MalukuTerkini.com – Pemerintah Provinsi (Pemprov) Maluku mulai memetakan potensi gejolak harga dan ketersediaan pangan menjelang empat momen besar keagamaan tahun ini, yakni Imlek, Ramadan, Idul Fitri, dan satu momentum besar lainnya.

Dari keempat momen tersebut, Ramadan dan Idul Fitri dinilai paling signifikan memicu lonjakan konsumsi masyarakat.

Hal itu diungkapkan Kepala Dinas Ketahanan Pangan Provinsi Maluku, Faradilla Attamimi, di Kantor Gubernur Maluku, Jumat (13/2/2026).

Ia merincikan, pihaknya bersama instansi terkait telah melakukan analisis terhadap komoditas yang berpotensi mengalami kenaikan harga berdasarkan tren 2024 hingga awal 2025, untuk mengantisipasi potensi inflasi serupa pada 2026.

“Data Dinas Ketahanan Pangan mencatat, satu bulan sebelum Ramadan pada periode Maret 2024 hingga Februari 2026 terdapat 11 komoditas yang mengalami kenaikan harga.  Di antaranya beras, sayuran hijau, wortel, kacang panjang, kacang buncis, mentimun, minyak goreng, serta sejumlah kebutuhan pokok lainnya. Yang perlu kita antisipasi bersama terutama beras, sayuran tertentu, dan minyak goreng,” rincinya.

Sementara satu bulan setelah Ramadan dan Idul Fitri, komoditas yang berpotensi berfluktuasi antara lain cabai rawit, cabai merah, tomat, ikan, telur, bawang putih, susu kental manis, dan ikan asap.

“Pada pekan pertama Februari 2026, harga bawang merah dan beras tercatat masih berada di atas rata-rata harga tiga tahun terakhir (2024–2026). Kendati bawang merah menunjukkan tren penurunan, nilainya tetap lebih tinggi dibanding rata-rata historis. Adapun telur, cabai merah, dan cabai rawit masih relatif stabil dibandingkan rerata tiga tahun terakhir,” jelasnya.

Dari 15 komoditas yang diatur melalui Harga Eceran Tertinggi (HET) dan Harga Acuan Pemerintah (HAP), sebanyak 11 komoditas dijual di atas harga acuan. Hanya beras medium, beras SPHP, beras medium non-SPHP, dan daging sapi yang masih berada di bawah HET atau HAP.  (MT-04)