AMBON, MalukuTerkini.com – Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Maluku mencatat tingkat inflasi tahun ke tahun (year-on-year/y-on-y) di wilayah Maluku mencapai 2,75 persen pada Juli 2026.
Laju kenaikan harga ini utamanya didorong oleh lonjakan tajam pada kelompok transportasi serta sejumlah sektor pelayanan publik dan kebutuhan pokok.
Kepala BPS Provinsi Maluku, Maritje Pattiwaellapia, menjelaskan secara umum perkembangan harga berbagai komoditas pada Juli 2026 menunjukkan tren kenaikan jika dibandingkan dengan periode yang sama pada tahun sebelumnya.
“Hasil pemantauan BPS di tiga kabupaten dan kota mencatat adanya kenaikan Indeks Harga Konsumen (IHK) dari 110,10 pada Juli 2025 menjadi 113,13 pada Juli 2026. Meskipun demikian, secara bulanan (month-to-month/m-to-m) Maluku justru mengalami deflasi sebesar 0,75 persen, sementara tingkat inflasi tahun kalender (year-to-date/y-to-d) tercatat berada di angka 2,08 persen,” jelas Pattiwaellapia dalam keterangannya yang diterima malukuterkini.com, Senin (3/8/2026).

Inflasi tahunan tersebut, jelasnya, terjadi akibat naiknya indeks pada sepuluh kelompok pengeluaran masyarakat.
“Kelompok transportasi menjadi penyumbang kenaikan tertinggi dengan lonjakan mencapai 11,66 persen, disusul oleh kelompok kesehatan sebesar 7,50 persen, serta kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya sebesar 3,76 persen,” jelasnya.
Selain ketiga sektor utama tersebut, katanya, kenaikan indeks juga melanda kelompok pendidikan sebesar 3,27 persen, rekreasi, olahraga, dan budaya sebesar 2,74 persen, serta penyediaan makanan dan minuman atau restoran sebesar 2,06 persen. Kelompok perumahan, air, listrik, dan bahan bakar rumah tangga turut mengalami kenaikan sebesar 1,74 persen, diikuti kelompok informasi, komunikasi, dan jasa keuangan sebesar 1,29 persen, kelompok perlengkapan, peralatan dan pemeliharaan rutin rumah tangga sebesar 0,92 persen, serta kelompok makanan, minuman dan tembakau sebesar 0,86 persen.
“Sebaliknya, BPS mencatat hanya ada satu kelompok pengeluaran yang mengalami penurunan indeks, yakni kelompok pakaian dan alas kaki yang turun sebesar 2,90 persen,” katanya.
Ia merincikan, sejumlah komoditas dilaporkan memberikan andil cukup dominan terhadap pembentukan inflasi tahunan di Maluku pada bulan tersebut.
“Komoditas tersebut meliputi tarif angkutan udara, bensin, ikan cakalang, emas perhiasan, ikan tongkol atau komu, sigaret kretek mesin, cabai merah, nasi dengan lauk, mobil, sepeda motor, tarif rumah sakit, bahan bakar rumah tangga, daging ayam ras, biaya akademi atau perguruan tinggi, tarif angkutan laut, ikan tuna atau tatihu, pelumas mesin, telepon seluler, minyak goreng, hingga wortel,” rincinya.
Di sisi lain, ungkapnya, terdapat pula deretan komoditas yang menahan laju inflasi dengan memberikan sumbangan deflasi secara tahunan.
“Komoditas penahan inflasi tersebut di antaranya tomat, cabai rawit, ikan layang atau momar, sawi hijau, kangkung, bayam, kacang panjang, sabun mandi, lemon, terong, baju muslim wanita, celana panjang jeans pria, baju kaos pria, kelapa, baju anak stelan, popok bayi sekali pakai, telur ayam ras, daun singkong, ikan kembung atau lema, dan bawang Bombay,” ungkapnya. (MT-06)
