AMBON, MalukuTerkini.com – Kota Ambon masih berada dalam kondisi diselimuti asap akibat sebaran partikulat kebakaran hutan dan lahan (karhutla).

Kondisi atmosfer tersebut menunjukkan kecenderungan peningkatan konsentrasi polutan pada sore hingga malam hari, sehingga masyarakat diimbau untuk meningkatkan kewaspadaan saat beraktivitas di luar rumah.

Kepala Dinas Lingkungan Hidup dan Persampahan (DLHP) Kota Ambon, Apries B Gaspersz, mengaku berdasarkan pemantauan data prakiraan kualitas udara ambien dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), wilayah Kota Ambon masih mengalami penurunan kualitas udara akibat fenomena asap.

“Peningkatan konsentrasi partikel debu halus polutan terlihat cukup signifikan jika dibandingkan antara jam pemantauan siang hari dengan sore maupun malam hari,” ungkap Gaspersz kepada malukuterkini.com di Ambon, Jumat (16/10/2026).

Ia merincikan, berdasarkan data prakiraan kualitas udara ambien Kota Ambon pada Jumat (16/10/2026), konsentrasi partikulat halus PM2.5 yang berada pada angka 20 hingga 40 µg/m³ pada pukul 12.00 WIT tercatat mengalami kenaikan menjadi 40 hingga 60 µg/m³ pada pukul 17.00 WIT dan kondisi tersebut bertahan hingga pukul 21.00 WIT.

“Pola peningkatan yang sama juga terjadi pada parameter PM10, di mana konsentrasi yang semula berada pada kisaran 40 hingga 60 µg/m³ pada siang hari meningkat menjadi 60 hingga 80 µg/m³ pada pukul 17.00 WIT serta bertahan pada tingkat tersebut hingga malam hari,” rincinya.

Sementara itu, untuk indikator sebaran partikulat karhutla skala AOD 550 nm, pemantauan menunjukkan kondisi yang cenderung konstan pada skala 0,6 hingga 0,7 sepanjang waktu pengamatan mulai dari pukul 12.00 WIT, 17.00 WIT, hingga 21.00 WIT.

“Di sisi lain, kadar Ozon Permukaan (O3) juga terdeteksi mengalami kenaikan dari tingkat awal 0 hingga 40 ppb pada siang hari menjadi 40 hingga 60 ppb saat memasuki sore dan malam hari,” jelasnya.

Melihat pergerakan angka indikator polusi udara tersebut, Gaspersz mengimbau warga agar senantiasa mengenakan masker perlindungan standar apabila harus terpaksa beraktivitas di ruang terbuka.

“Kita juga mengingatkan masyarakat untuk membatasi aktivitas fisik yang terlalu berat di luar rumah guna menghindari paparan polutan yang dapat mengganggu sistem pernapasan,” ujarnya.

Gaspersz juga berharap adanya perhatian dan perlindungan ekstra kepada kelompok rentan, terutama anak-anak, lansia, serta warga yang memiliki riwayat penyakit asma atau gangguan pernapasan lainnya.

“Masyarakat juga disarankan untuk meminimalkan masuknya asap ke dalam hunian dengan selalu menutup jendela ruang tinggal saat paparan asap terasa makin tebal, serta memperbanyak konsumsi air putih guna menjaga kebugaran tubuh di tengah kondisi udara yang kurang sehat,” tandasnya. (MT-06)