Sekilas Info

PP Muslimat NU & YAICI Edukasi Gizi Masyarakat

AMBON, MalukuTerkini.com - PP Muslimat NU dan Yayasan Abhipraya Insan Cendekia Indonesia (YAICI) memberikan edukasi tentang Gizi untuk masyarakat.

Salah satunya adalah tentang  konsumsi kental manis sebagai susu dan pengganti ASI eksklusif tidak layak bagi tumbuh kembang anak-anak. Sebab hingga kini kental manis masih  dijadikan sebagai minuman susu.

Hal ini dilakukan di Provinsi Maluku sekaligus dalam upaya untuk mencegah stunting.

Ketua Harian YAICI, Arief Hidayat menjelaskan, saat ini persepsi masyarakat terhadap keberadaan kental manis sebagai susu masih sangat tinggi dan masih di angka 97 persen.

Hal ini ditemui berdasarkan hasil survey YAICI 2018 silam dan hingga kini  belum ada kebijakan apapun dari pemerintah padahal saat ini salah satu upaya pemerintah adalah menurunkan angka stunting.

YAICI, menurut Hidayat merasa perlu dan sangat peduli terhadap tumbuh kembang anak karena itu melalui YAICI dilakukan sosialisasi bersama dengan PP Muslimat NU di Maluku.

"Kami lakukan sosialisasi kepada kader-kader Muslimat NU provinsi dan Kabupaten/Kota maupun orang tua yang memang anaknya terkena stunting, serta beberapa unsur pemerintahan," jelasnya.

Diakuinya kerjasama  dengan Muslimat NU sudah berlangsung sekitar 5 tahun lebih.

Diakatakan, pentingnya literasi dan edukasi ini dilakukan terutama untuk ibu-ibu penting pasalnya masih banyak yang minim  informasi.

"Fakta lapangan saat kami turun di kampung salah satunya di kampung baru Laha-Kota Ambon, dari lima keluarga yang sempat kami dalami masih ada empat keluarga  ternyata masih berikan kental manis sebagai susu kepada anak. Dan cukup tinggi,” ungkapnya.

Hal inipun bisa menjadi pemicu angka stunting melalui pola hidup pemberian makanan atau asupan terhadap anak, karena dengan kebiasaan kecil diberi makanan yang manis-manis, membuat mereka tidak ingin lagi konsumsi makanan lain karena sudah rasa kenyang.

“Ini akibatnya nutrisi yang masuk ke tubuh, rendah. Akhirnya terjadi gizi buruk, terus menerus, kronis dan larinya ke stunting. Temuan dilapangan ada anak usia 2 tahun tidak bisa bicara. Stunting itu yang paling berbahaya otaknya. Dimana anak itu kerdil dan kecerdasan menurun,” tandasnya

Karena itu dengan apa yang dilakukan PP Muslimat NU dan YAICI  agar  yang semula pola makan dan asuh kepada anak itu salah.

Tak hanya menjangkau ke masyarakat namun PP Muslimat NU dan YAICI juga telah berkoordinasi dengan pemerintah provinsi Maluku dan telah bertemu langsung dengan Penjabat Gubernur Maluku, Sadali Ie.

Ketua Bidang Kesehatan PP Muslimat NU dr. Erna Yulia Soefihara mengatakan PP Muslimat NU telah berkomitmen dalam mendukung upaya pemerintah untuk menekan angka prevalensi stunting.

“Kita di NU tidak hanya mengurusi hal-hal yang berkaitan dengan agama saja, namun juga pendidikan dan kesehatan, seperti edukasi gizi untuk masyarakat agar masyarakat jangan sampai salah mengkonsumsi susu. Seperti kental manis ini, karena ini bukan susu yang untuk dikonsumsi anak-anak sebagai minuman susu,” jelas Erna.

Sebagaimana diketahui, persoalan kental manis telah menjadi sorotan publik sejak badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) mengeluarkan Peraturan BPOM no. 18 tahun 2018 tentang label pangan olahan. Melalui regulasi tersebut, BPOM melarang penggunaan kental manis sebagai pengganti susu dan sumber gizi serta larangan penggunaan visual anak di bawah 5 tahun untuk label maupun iklan promosinya. (MT-04)

Penulis:

Baca Juga

error: Content is protected !!