oleh

BMKG Ungkap Penyebab Maluku – Malut Rawan Gempa

-Bencana-721 views

AMBON – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) membeberkan penyebab kawasan Provinsi Maluku maupun Maluku Utara (Malut) kerap diguncang gempa, seperti yang terjadi di utara kawasan itu sepanjang Jumat (15/11/2019).

Maluku Utara diguncang gempa berkekuatan 7,1 skala Richter pada Jumat dini hari. Hingga pukul 17.30 WIT, BMKG mencatat ada 112 gempa susulan.

Kepala Bidang Mitigasi Gempa Bumi dan Tsunami BMKG, Daryono, mengatakan bahwa gempa itu berpusat di Busur Sangihe dan Halmahera.

Zona gempa ini membentang dalam arah utara-selatan, didasari oleh zona subduksi ganda (double subduction). Zona ini menghunjam ke Pulau Halmahera di sebelah timur, dan ke bawah Busur Sangihe di sebelah barat.

“Zona subduksi ini membentuk kemiringan ganda yang tidak simetris. Slab Lempeng Laut Maluku di bawah Busur Sangihe menerus hingga di kedalaman 600 kilometer,” kata Daryono sebagaimana dilansir CNNIndonesia.com, Sabtu (16/11).

Daryono juga mengatakan slab lempeng di bawah Busur Halmahera relatif lebih dangkal hingga di kedalaman sekitar 300 kilometer.

Subduksi ganda zona ini terbentuk akibat tekanan Lempeng laut Filipina dari timur, di zona Halmahera. Sementara dari Barat, Lempeng Sangihe relatif mendorong ke Timur.

Akibat dorongan ini terbangun akumulasi medan tegangan akibat gaya kompresi pada batuan kerak samudra di bagian tengah Zona Tumbukan Laut Maluku (Molucca Sea Collision Zone).

“Di zona inilah terbentuk jalur Punggungan Mayu (Mayu Ridge) yang ditandai dengan keberadaan Pulau Mayu,” ujarnya.

Akumulasi medan tegangan di sepanjang jalur Punggungan Mayu inilah yang pada akhirnya memicu dislokasi batuan dalam lempeng.

Di zona ini terdapat banyak sebaran episentrum gempa bumi. Pusat gempa bumi ini memiliki mekanisme sesar naik (thrust fault). Gempa bumi di Maluku pada 15 November juga merupakan mekanisme sumber sesar naik. (MT-06)

Komentar

News Feed