oleh

Film “Beta Mau Jumpa”, Kisah Warga Ambon Bangun Perdamaian

AMBON – Film “Beta Mau Jumpa” yang diangkat dari konflik Maluku tahun 1999, di-launching di Auditorium Institut Agama Kristen Negeri (IAKN) Ambon, Selasa (28/1/2020).

Film itu dirancang bagi para pendidik, jurnalis, pengambil kebijakan, serta masyarakat, melalui kolaborasi antara Center for Religious and Cross-cultural Studies (CRCS) Sekolah Pascasarjana UGM, The Pardee School of Global Studies Boston University, dan  WatchdoC Documentary dengan dukungan dari Henry Luce Foundation New York.

Sutradara Ari Trismana, mengatakan, film tersebut merupakan salah satu project dari indonesiapluraties yang menceritakan persoalan Indonesia.

“Ambon termasuk salah satu yang ingin kita ceritakan karena skala konfliknya  sangat besar, lalu kemudian bagaimana warga Ambon membangun perdamaian, dan ini bisa jadi contoh bukan hanya untuk warga Kota Ambon tetapi juga untuk Indonesia bahkan juga untuk dunia,” kata Ari kepada wartawan usai launching film tersebut.

Terkait dengan judul film, Ari menjelaskan pihaknya melakukan beberapa kali diskusi, agar bisa menghasilkan judul yang dapat diterima oleh masyarakat Kota Ambon.

Sutradara, Ari Trismana

“Sebenarnya sudah diperdebatkan bahkan judul ini sudah berubah beberapa kali, memang karena motifasi di awal kami dan rekan-rekan memang ingin menciptakan ruang-ruang perjumpaan baru lewat media flim ini, maka kita pilih judul ini, sehingga bisa menggambarkan isi film, dimana komunitas ibu-ibu yang hidup bertetangga dan kemudian terpisah, tapi di saat konflik semakin memuncak justru, mereka punya kerinduan untuk terus berjumpa,” jelasnya.

Tak hanya itu, dalam pembuatan film pun pihaknya harus membutuhkan waktu yang cukup lama, sebab mereka harus melihat gambar-gambar yang layak, karena ditakutkan bisa menimbulkan emosi atau hal-hal yang bersifat psikologis yang masih ada di masyarakat Kota Ambon.

“Saya punya 10 kaset yang saya dapat dan saya putarkan secara sah, tapi itu musti kita proses untuk memilih gambar seperti apa yang layak dengan flim ini, bisa jadi kalau kami salah pilih gambar bisa saja masyarakat menimbulkan emosi atau hal-hal yang sifatnya skilogis yang hari ini belum juga selesai kami tidak ingin seperti itu maka kami sangat berhati-hati sekali,” katanya.

Ia menambahkan, dengan acara launching yang dilaksanakan, justru mendapatkan berbagai macam pendapat dan itu merupakan masukan agar film yang dibuat nanti bisa berbobot lagi. (MT-05)

Komentar

News Feed