Sekilas Info

Berbagi Kisah Sukses ‘Emas Biru’ di Maluku, Doni Monardo Hadirkan 2 Orang Ini

BERBAGI KISAH SUKSES - Ketua Umum PP PPAD, LetjenTNI (Purn) Doni Monardo berbagi kisah sukses program “emas biru” di hadapan para siswa PPRA 62 Lemhannas, Senin (4/4/2022).

MalukuTerkini.com – Ketua Umum Pengurus Pusat (PP) Persatuan Purnawirawan TNI Angkatan Darat (PPAD), LetjenTNI (Purn) Doni Monardo berbagi kisah sukses program “emas biru” di hadapan para siswa Program Pendidikan Reguler (PPRA) 62 Lemhannas, Senin (4/4/2022).

Pengalaman menggulirkan program “emas biru” semasa menjabat Pangdam XVI/Pattimura di tahun 2015-2017 menyedot perhatian para siswa PPRA 62 yang berkunjung ke Markas PPAD, Jakarta Timur.

Sebelum melanjutkan paparannya di depan para siswa PPRA 62 baik yang hadir di markas PPAD maupun hadir secara daring, Senin (4/4/2022), Doni Monardo menampilkan kisah sukses Emas Biru yang iagulirkan di Maluku, saat menjadi Pangdam di sana. Dua narasumber diundang, dan diminta berbicara.

Yang pertama diminta berbicara adalah tokoh emas biru budidaya ikan laut, Jefri Slampta. Ia adalah seorang PNS di Kodam XVI/Pattimura.

Doni mengatakan, berkat budidaya emas biru, Jefri bisa menyekolahkan anak sampai kuliah di fakultas kedokteran di Unpati, sebentar lagi bakal jadi dokter. Ia juga memiliki usaha kontrakan. Ekonomi keluarga jauh membaik.

“Saya masih pertahankan emas biru warisan bapak jenderal Doni Monardo. Sudah selama ini banyak melatih dan mendidik kawan-kawan nelayan budidaya di Maluku dan Maluku Utara,” katanya.

Jefri bukanlah contoh sukses instan. Ia mengawali tahun 2009 melalui perjuangan ekstra keras. Dimulai dari memulung botol-botol plastik yang ada di teluk Ambon. Selama empat bulan ia berhasil mengumpulkan 32.000 botol air kemasan. Botol-botol itulah yang ia jadikan keramba jaring apung.

Dalam perkembangannya, ia bisa meningkatkan kondisi keramba dengan membeli keramba bekas. Dan saat ini, ia sudah bisa memperluas keramba miliknya dengan jaringan keramba yang baru. Bukti bahwa usaha budidaya emas biru-nya berhasil. “Restoran apung ini juga semakin viral dan mendatangkan penghasilan tambahan,” katanya senang.

Resto apung di keramba itu dibangun tanggal 28 Maret 2021. Belakangan, makin viral setelah seseorang menayangkan di youtube. Mereka secara khusus datang ke kerambanya dan membuat konten yang viral. Belum lagi para pengunjung resto apung yang lain.

“Mereka ada yang datang dari Jakarta, Bandung, bahkan Surabaya,” kata Jefri bangga.

Mereka secara khusus datang ke Teluk Ambon untuk bisa makan di resto apung keramba milik Jefri karena aneka ikan seperti ikan kerapu, kakap, bobara, udang, cumi, kepiting, lobster yang segar.

“Makan seafood di sini sangat segar, karena langsung kami ambilkan dari keramba, bukan seafood yang disimpan di freezer berminggu-minggu,” katanya.

Untuk memberi suasana lain, Jefri yang mengikuti pertemuan melalui zoom, diminta Doni menunjukkan keramba dengan kamera HP-nya. Jefri juga diminta memperlihatkan ikan-ikan yang ada di kerambanya, serta koleksi lobster yang ada.

“Siapa tahu nanti para peserta PPRA 62 ke Ambon, bisa mampir dan makan di keramba jaring apung milik Jefri,” kata Doni sambil tertawa.

Sosok lain yang diminta Doni berbicara di hadapan para siswa Lemhannas adalah Achmad Jais Ely, Kepala Sekolah Usaha Perikanan Menengah, Waiheru, Ambon.

“Hingga hari ini, kampus kami tetaplah bernama kampus emas biru. Sebab, sejak pak Doni datang, teluk Ambon menjadi ujung tombak emas biru. SUPM ini adalah sekolah gratis yang sudah secara nyata meningkatkan perekonomian masyarakat,” katanya.

Achmad Jais Ely bangga, sebab SUPM pernah didatangi Presiden, Wakil Presiden dan sedikitnya 17 orang menteri. Itu semua karena program “emas biru”. Ada aktivitas budidaya keramba jaring apung, pembibitan yang disumbang kementerian KKP untuk diteruskan kepada masyarakat, serta aktivitas pemberdayaan masyarakat.

“Sungguh contoh yang baik tentang kolaborasi antara institusi pendidikan dengan instansi pemerintah daerah dan pemerintah pusat,” katanya.

Achmad Jais Ely menambahkan, saat Presiden Joko Widodo datang, ia mengatakan, “Tentara sekarang sistemnya bukan senjata yang bisa membunuh, tapi senjata sosial, atau senjata kesejahteraan. Pak Doni adalah warga kehormatan kota Ambon. Pak Doni adalah warga kebanggaan Ambon. Program beliau emas hijau, emas biru lalu emas putih perdamaian, sungguh tidak akan pernah dilupakan oleh masyarakat Maluku,” kata Achmad Jais, khidmat.

Ia berjanji dan bertekad akan melanjutkan semua program Doni Monardo.

“Izin pak Doni, jembatan warisan bapak yang menghubungkan kampus ke keramba sampai sekarang masih ada. Itu kenangan yang tidak boleh hilang. Emas biru yang bapak gulirkan sudah melahirkan banyak Jefry yang lain. Jefry-jefry di Seram, di Buru, dan lain-lain,” paparnya.

Berkas emas biru pula masyarakat meningkat ekonominya sehingga bisa menyekolahkan anak. Ada yang sudah menjadi sarjana, ada yang sudah bekerja di Korea, Jepang, Spanyol, semua terjadi berkat emas biru.

Atas dua testimoni tadi, Doni Monardo mengucapkan terima kasih.

Tak lupa ia menyampaikan rasa kagumnya, saat baru-baru ini mengunjungi Ambon. Kondisinya jauh lebih meriah dibanding saat ia bertugas di sana. Saat ini sangat banyak resto seafood yang ikan-ikannya disuplai oleh para nelayan tambak.

“Sungguh, ikan yang segar tidak perlu bumbu yang macam-macam, sudah sangat enak,” katanya.

Doni menyebutkan, salah satu kunjungan Presiden Joko Widodo ke Ambon. Salah satunya adalah menebar 1.000 ekor ikan barramundi. Ikan yang kualitasnya tidak kalah denan salmon.

“Seribu ekor ditebar, kesemuanya hidup. Ini ikan mahal. Baramundi itu kakap putih. Di Maluku, kakap putih sangat banyak,” kata Doni. (MT-04)

Penulis:

Baca Juga

error: Content is protected !!