Oleh: Amril Jambak

Peneliti Centre of Risk Strategic Intelligence Assessment (CERSIA)

 

Tekanan ekonomi global masih membayangi banyak negara. Perlambatan ekonomi dunia, ketegangan geopolitik, serta ketidakpastian pasar keuangan membuat pemulihan berjalan tidak merata.

Dalam situasi seperti ini, kemampuan sebuah negara menjaga stabilitas menjadi penentu utama arah ekonominya.

Indonesia menunjukkan daya tahan yang patut diapresiasi. Di tengah gejolak global, perekonomian nasional tetap bergerak dengan stabil. Inflasi berada dalam rentang terkendali, aktivitas konsumsi rumah tangga tetap terjaga, dan sistem keuangan berjalan relatif solid.

Kondisi ini mencerminkan fondasi ekonomi yang cukup kuat dalam menghadapi tekanan dari luar.

Kekuatan pasar domestik menjadi salah satu penopang utama. Dengan jumlah penduduk besar dan aktivitas ekonomi yang terus berlangsung, konsumsi dalam negeri mampu meredam dampak perlambatan global.

Ketika ekspor menghadapi tekanan, roda ekonomi domestik tetap berputar, menjaga momentum pertumbuhan. Kebijakan fiskal dan moneter yang dijalankan secara hati-hati turut memperkuat ketahanan tersebut.

Pengelolaan anggaran yang lebih terukur serta respons kebijakan yang adaptif membantu menjaga stabilitas tanpa mengorbankan ruang pertumbuhan.

Pengalaman menghadapi krisis sebelumnya tampak membentuk kehati-hatian dalam pengambilan keputusan ekonomi.

Ketangguhan ini juga tercermin dari kepercayaan pelaku usaha dan investor. Di tengah ketidakpastian global, Indonesia masih dipandang sebagai tujuan investasi yang menjanjikan, terutama karena stabilitas politik dan potensi pasar domestik.

Kepercayaan ini menjadi modal penting untuk menjaga kesinambungan pertumbuhan.

Meski demikian, optimisme ini perlu dijaga dengan kerja nyata. Tantangan struktural masih ada, mulai dari ketergantungan pada komoditas hingga kesenjangan kualitas sumber daya manusia.

Tekanan global seharusnya menjadi momentum untuk mempercepat agenda pembangunan nasional sebagaimana dirumuskan dalam Asta Cita, bukan alasan untuk menunda pembenahan.

Upaya peningkatan nilai tambah melalui hilirisasi industri perlu terus diperluas, disertai penguatan sektor manufaktur dan UMKM. Penciptaan lapangan kerja berkualitas harus menjadi fokus utama agar pertumbuhan ekonomi benar-benar dirasakan oleh masyarakat luas.

Sejalan dengan Asta Cita, peningkatan kualitas pendidikan dan keterampilan tenaga kerja menjadi investasi strategis jangka panjang yang tidak dapat ditawar.

Ketangguhan ekonomi juga bergantung pada tata kelola yang kredibel. Konsistensi kebijakan, transparansi, dan kepastian hukum akan menjaga kepercayaan publik sekaligus memperkuat daya saing nasional

Dalam situasi global yang penuh ketidakpastian, stabilitas dan kepastian menjadi modal utama untuk mewujudkan arah pembangunan yang berkelanjutan.

Menatap ke depan, ketangguhan ekonomi hari ini harus menjadi fondasi bagi pelaksanaan Asta Cita secara konsisten dan terukur.

Bonus demografi, kekayaan sumber daya alam, serta posisi strategis Indonesia di kawasan hanya akan bermakna jika dikelola dengan visi jangka panjang, tata kelola yang kuat, dan keberpihakan pada kesejahteraan rakyat.

Indonesia tidak cukup hanya bertahan dari tekanan global, tetapi harus mampu melangkah menuju transformasi ekonomi yang bernilai tambah, inklusif, dan berkelanjutan sebagaimana semangat Asta Cita.

Jika stabilitas dijaga, reformasi struktural dilanjutkan, dan pembangunan benar-benar berpihak pada kualitas sumber daya manusia, maka tekanan global bukan penghalang, melainkan ujian menuju konsolidasi kekuatan ekonomi nasional. Di titik inilah Asta Cita berpeluang diwujudkan bukan sekadar sebagai visi kebijakan, tetapi sebagai realitas pembangunan yang dirasakan masyarakat. (*)