AMBON, MalukuTerkini.com – Pencanangan Dies Natalis ke-63 Universitas Pattimura (Unpatti) diwarnai dengan Ikrar Lesa.
Ikrar Lesa tersebut dibacakan oleh Rektor Unpatti, Prof Dr Fredy Leiwakabessy MPd usai mencanangkan rangkaian Dies Natalis ke-63 Unpatti.
Pencanangan dipusatkan di pelataran Rektorat Unpatti, Poka Ambon, Selasa (31/3/2026).
Rektor Prof Fredy Leiwakabessy menempati posisi di ‘kepala lesa’ sememtara disisi kiri dan kanan lesa ditempati para wakil rektor, para dekan, Direktur Pascasarjana, kepala lembaga, Ketua Umum Dewan Pimpinan Pusat (DPP) Ikatan Alumni Unpatti (IKAPATTI) yang juga Sekda Provinsi Maluku Ir Sadali Ie MSi, Ketua Harian DPP IKAPATTI yang juga Kadis Pertanian Provinsi Maluku Dr Ilham Tauda SP MSi serta Anggota DPRD Maluku Nita bin Umar SP.

Rektor kemudian membacakan ikrat lesa: yang berbunyi:
“Di hadapan Tuhan Yang Maha Kuasa, kami berikrar untuk maju bersama, menggerakkan potensi unggul Universitas Pattimura, melalui inovasi, kolaborasi, dan keberlanjutan dengan integritas dan komitmen untuk memberi dampak nyata, memanfaatkan kekayaan alam Maluku, menuju Indonesia Emas 2045 dan Universitas Pattimura berkelas dunia. Janji ini kami genggam dan kami tunaikan bersama. HOTUMESE”.
Usai membaca Ikrat Lesa, Rektor bersama para wakil rektor, para dekan, Direktur Pascasarjana, kepala lembaga, Ketua Umum DPP IKAPATTI, Ketua Harian DPP IKAPATTI serta anggota DPRD Maluku Nita bin Umar bersulang dan memenium miuman tomi-tomi.
Sebagaimana diketahui, Lesa merupakan salah satu tradisi leluhur, yang dikenal dan hidup dalam masyarakat Maluku, khususnya Maluku Tengah, Seram dan Lease. Tradisi lesa tidak diketahui kapan dimulai dan digunakan oleh orang Maluku. Tradisi ini sudah menjadi kebiasaan dan gaya hidup generasi terdahulu, yang biasanya hidup berkelompok kemudian dilestarikan hingga kini. Lesa selain digunakan untuk pembinaaan keluarga, lesa juga berfungsi untuk menghimpun persekutuan keluarga batih dan mata rumah.
Lesa dilihat sebagai suatu wadah persekutuan sosial, yang mempunyai kekuatan pengikat, pemersatu, kebersamaan, solidaritas, sepenanggungan, persaudaraan dan sama rasa, sebagai simbol yang utuh terhadap kualitas nilai orang basudara1 ala orang Maluku.
Tidak sekedar dipamahi sebagai wadah untuk menghimpun keluarga menikmati makanan, tetapi lesa dipahami sebagai wadah yang sakral. Lesa dipahami sebagai tempat perdamaian, musyawarah, persekutuan dibangun, tempat mengikat janji. Kemudian karena perkembangan lesa dimanfaatkan untuk pembinaan anak-anak sehingga mereka menjaga kerukunan, hidup saling menopang seorang dengan yang lain dalam keadaan apa pun.
Simbol lesa dalam bentuk ”Meja makan” merupakan tempat alami untuk berbagi, bercakap-cakap dan bersekutu. Bagi orang Maluku percakapan mendalam, baru akan terjadi pada saat makan disekitar lesa dari pada berlangsung dalam rapat atau pertemuan formal, sebab melalui lesa persaudaraan diperdalam dan solidaritas ditempa.
Tema Dies Natalis ke-63 Unpatti yaitu “Potensi Unggul Untuk Indonesia Emas 2045: Inovasi. Kolaborasi, Keberlanjutan dan Berdampak”.
Sebagaimana diketahui, Unpatti resmi berdiri melalui Keputusan Presiden Nomor 66 Tahun 1963 yang ditandatangani oleh Presiden Soekarno pada 23 April 1963, sehingga setiap tanggal tersebut diperingati sebagai hari berdirinya Unpatti. (MT-01)









Tinggalkan Balasan