AMBON, MalukuTerkini.com – Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Maluku mencatat inflasi tahunan (year-on-year) Provinsi Maluku pada September 2026 berada di angka 3,91 persen dengan Indeks Harga Konsumen (IHK) mencapai 113,97.
Kepala BPS Provinsi Maluku, Maritje Pattiwaellapia mengaku perkembangan harga berbagai komoditas pada September 2026 secara umum menunjukkan tren kenaikan jika dibandingkan dengan periode yang sama pada tahun sebelumnya.
“Berdasarkan hasil pemantauan BPS Provinsi Maluku di tiga kabupaten/kota, pada September 2026 terjadi inflasi y-on-y sebesar 3,91 persen, atau terjadi kenaikan Indeks Harga Konsumen dari 109,68 pada September 2025 menjadi 113,97 pada September 2026,” kata Pattiwaellapia dalam keterangannya yang diterima malukuterkini.com, Kamis (1/10/2026).
Ia menjelaskan kendati secara tahunan mengalami kenaikan, tingkat laju harga bulanan (month-to-month) di Maluku pada September 2026 justru mencatatkan deflasi tipis sebesar 0,07 persen.
“Adapun untuk tingkat inflasi tahun kalender (year-to-date), wilayah Maluku tercatat berada pada posisi 2,84 persen,” katanya.
Menurutnya, inflasi tahunan tersebut dipicu oleh kenaikan harga yang ditunjukkan oleh melonjaknya indeks di 10 kelompok pengeluaran. Kelompok transportasi menjadi penyumbang kenaikan tertinggi mencapai 11,62 persen, diikuti kelompok kesehatan sebesar 5,61 persen, serta kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya sebesar 4,20 persen.
“Sektor kebutuhan pokok seperti kelompok makanan, minuman, dan tembakau turut mengalami kenaikan sebesar 3,92 persen. Kenaikan juga terjadi pada kelompok pendidikan sebesar 3,12 persen, kelompok rekreasi, olahraga, dan budaya sebesar 2,07 persen, kelompok perumahan, air, listrik, dan bahan bakar rumah tangga sebesar 2,03 persen, kelompok penyediaan makanan dan minuman/restoran sebesar 1,94 persen, kelompok perlengkapan, peralatan, dan pemeliharaan rutin rumah tangga sebesar 1,38 persen, serta kelompok informasi, komunikasi, dan jasa keuangan sebesar 1,31 persen,” ungkapnya.
Di sisi lain, Maritje menyebutkan terdapat satu kelompok pengeluaran yang mengalami penurunan indeks, yakni kelompok pakaian dan alas kaki yang mencatatkan penurunan sebesar 2,63 persen.
Mengenai komoditas spesifik, ia merincikan tarif angkutan udara, bensin, cabai merah, ikan cakalang, emas perhiasan, cabai rawit, mobil, sigaret kretek mesin (SKM), nasi dengan lauk, ikan layang/momar, ikan tongkol/komu, hingga bahan bakar rumah tangga tercatat sebagai penyumbang utama inflasi tahunan.
“Sementara itu, komoditas seperti tomat, bawang merah, lemon, bayam, beras, telur ayam ras, serta beberapa produk sandang justru memberikan andil penahanan laju inflasi melalui sumbangan deflasi,” rincinya. .(MT-06)
