AMBON, MalukuTerkini.com — Tim Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM) dari Fakultas Pertanian Universitas Pattimura (Unpatti) menggalakkan program pemberdayaan bertajuk “Peran Gender Dalam Pengelolaan Sumberdaya Alam dan Penguatan Ekonomi Keluarga Dalam Mendukung SDGs 1 dan 13”, di Negeri Rutong, Kecamatan Leitimur Selatan, Kota Ambon, dalam rangka

Kegiatan yang direalisasikan pada September 2026 ini dirancang untuk memperkuat kapasitas masyarakat lokal—khususnya kaum perempuan—dalam mengonservasi ekosistem pesisir dan hutan secara berkelanjutan, sekaligus membangun ketahanan ekonomi rumah tangga berbasis kemandirian pangan di tengah ancaman pemanasan global.

Program yang didanai melalui Skema Pengabdian Berbasis Masyarakat (PBM) Program Dosen Mengabdi (PMD) Unpatti ini diketuai oleh Fanny Soselisa, S.Hut., M.Sc (Dosen Ilmu Lingkungan Jurusan Kehutanan Faperta Unpatti). Tim ini beranggotakan Dr. Debby V. Pattimahu, S.Hut., M.Si., Margaretha A. Wuri, S.Si., M.Sc., dan Ir. C.K. Pattinasarany, M.P., serta turut melibatkan dua mahasiswa Jurusan Kehutanan, yaitu Rivaldi Makaruku dan Deni Erik Liptiay.

Integrasi akademisi dan mahasiswa ini dihadirkan untuk memberikan pendampingan teknis dan edukasi langsung kepada warga pemangku kawasan pesisir Leitimur Selatan.



Ketua Tim PKM Faperta Unpatti, Fanny Soselisa, S.Hut., M.Sc., menegaskan perempuan memegang peranan krusial yang tidak dapat diabaikan dalam menjaga keseimbangan ekosistem sekaligus menopang stabilitas finansial keluarga. Keterlibatan perempuan secara terstruktur menjadi kunci sukses transformasi kesadaran lingkungan di tingkat tapak.

“Perempuan memiliki posisi yang sangat strategis dalam pengelolaan rumah tangga dan pemanfaatan sumber daya lokal. Melalui peningkatan kapasitas kaum perempuan, khususnya yang tergabung dalam kelompok Dasawisma, kita tidak hanya mendorong pemulihan ekosistem pesisir dan hutan pegunungan yang terdegradasi, tetapi juga membuka akses peluang ekonomi produktif dari pekarangan rumah,” ungkap Fanny Soselisa di Ambon, Selasa (6/10/2026).

Secara geografis, Negeri Rutong memiliki wilayah seluas 5 kilometer persegi yang berjarak sekitar 24 kilometer dari pusat Kota Ambon. Kawasan ini memiliki karakteristik lanskap yang unik namun rentan, di mana lebih dari 52 persen wilayahnya terdiri dari perbukitan curam dengan kemiringan di atas 25 persen, sementara sisanya merupakan kawasan pesisir yang berbatasan langsung dengan Laut Banda.

Masyarakat setempat menerapkan sistem penghidupan berganda (double strategy livelihood), yakni menggantungkan mata pencaharian selama enam bulan di laut sebagai nelayan atau pedagang ikan (papalele), serta enam bulan di darat dengan mengelola hasil hutan dan kebun.

Pola kehidupan berwajah ganda tersebut membuat stabilitas ekonomi warga sangat dipengaruhi oleh dinamika iklim dan kondisi kesehatan lingkungan. Perubahan cuaca ekstrem, gelombang tinggi, abrasi pesisir, hingga risiko kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di kawasan perbukitan berpotensi menekan pendapatan rumah tangga.

Dalam menghadapi tantangan ekologis ini, tim Unpatti mengusung pendekatan lanskap terpadu dari hulu ke hilir (ridge-to-reef) yang menempatkan konservasi hutan pegunungan dan ekosistem mangrove sebagai benteng pertahanan wilayah.

Dikatakan, ekosistem mangrove dan hutan daratan di Negeri Rutong memiliki fungsi ganda sebagai penyangga fisik pesisir dari abrasi serta sebagai penyimpan cadangan karbon yang melimpah. Perlindungan terhadap kawasan ini selaras dengan komitmen nasional dalam mereduksi emisi gas rumah kaca.

“Rehabilitasi dan perlindungan ekosistem pesisir di Negeri Rutong sangat vital karena mangrove mampu menyimpan karbon biomassa dan sedimen dalam jumlah besar. Langkah ini secara nyata mendukung pencapaian target Indonesia melalui Indonesia’s Folu Net Sink 2030, sekaligus meningkatkan ketahanan masyarakat pesisir terhadap dampak pemanasan global,” katanya.

Dalam pelaksanaannya, transfer teknologi dan edukasi lingkungan dibagi berdasarkan diferensiasi peran gender dan kebutuhan praktis warga. Bagi kaum pria, pelatihan difokuskan pada teknik perbanyakan tanaman secara vegetatif seperti metode stek. Teknologi vegetatif yang sederhana dan berbiaya murah ini memungkinkan warga memperoleh anakan pohon dalam waktu singkat guna merehabilitasi lahan-lahan kritis, kawasan gundul, maupun lokasi bekas kebakaran hutan.

Sementara itu, kaum perempuan dan kelompok ibu-ibu Dasawisma dibekali keterampilan perbanyakan tanaman secara generatif atau persemaian biji. Pelatihan ini mencakup teknik persemaian bibit sayuran dan tanaman buah seperti kangkung, terong, buncis, bayam, cabai, tomat, rambutan, hingga mangga. Selain itu, peserta diajarkan teknik penanganan gangguan tanaman, pembuatan pupuk organik, serta pengendalian hama berbasis bahan alami guna mengoptimalkan pemanfaatan lahan pekarangan rumah.

Sebanyak 15 Kelompok Dasawisma di Negeri Rutong, salah satunya Kelompok Dasawisma Kolosung II, mendapatkan bantuan bibit tanaman hortikultura beserta modul panduan praktis pengelolaan lahan secara mandiri. Langkah ini disambut hangat oleh warga, mengingat ketersediaan bibit selama ini sangat bergantung pada pembelian dari luar desa dengan harga yang relatif mahal.

Tidak hanya sektor pertanian pekarangan, pengabdian masyarakat ini juga menyoroti potensi olahan pangan lokal, seperti pemanfaatan buah Tomi-Tomi (Flacourtia inermis) yang merupakan komoditas ikonik Negeri Rutong. Kelompok kreatif warga lokal telah mengolah buah endemik ini menjadi produk olahan bernilai tambah tinggi seperti sirup, selai, hingga minuman fermentasi (wine Tomi-Tomi). Kendati demikian, tim PKM mengidentifikasi adanya kendala pasokan bahan baku yang bersifat musiman serta kendala perizinan resmi yang membatasi pemasaran produk di ritel modern dan toko oleh-oleh.

Fanny Soselisa menjelaskan pendampingan berkelanjutan akan terus diberikan untuk membantu memecahkan hambatan produksi dan legalitas usaha mikro tersebut.

Tim Unpatti berjanji memperkuat jejaring kemitraan agar produk lokal hasil olahan masyarakat memiliki daya saing pasar yang lebih luas.

“Kesadaran swadaya masyarakat Negeri Rutong terhadap kelestarian lingkungan sejatinya telah mengakar kuat melalui pranata adat dan organisasi lokal seperti Kewang Laut dan Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis). Data hasil survei tim Unpatti terhadap 62 responden lokal menunjukkan bahwa tingkat partisipasi mandiri masyarakat dalam menjaga kawasan konservasi mangrove mencapai angka 86,29 persen. Kehadiran program PKM Unpatti berhasil memperkuat basis kelembagaan lokal tersebut dengan menyuntikkan ilmu pengetahuan modern dan keterampilan praktis,” ungkapnya.

Rangkaian intervensi yang terintegrasi ini menjadi bukti nyata aktualisasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (Sustainable Development Goals/SDGs), khususnya SDG 1 (No Poverty) dalam mengentaskan kemiskinan melalui diversifikasi pendapatan keluarga, serta SDG 13 (Climate Action) dalam penanganan perubahan iklim berbasis adaptasi komunitas.

Melalui sinergi antara perguruan tinggi, pemerintah negeri, dan kelompok perempuan, Negeri Rutong kini bertransformasi menjadi model desa tangguh iklim yang mandiri secara ekonomi dan lestari secara ekologi di Kepulauan Maluku. (MT-01)