AMBON, MalukuTerkini.com – Warga Negeri Rutong di Kecamatan Leitimur Selatan, Kota Ambon, yang menggantungkan hidupnya pada mata pencaharian ganda di laut dan darat, kini dibekali keterampilan teknis berbasis pembagian peran gender untuk menghadapi ancaman perubahan iklim dan degradasi lingkungan.
Tim Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM) Fakultas Pertanian (FAPERTA) Universitas Pattimura (Unpatti) merancang pelatihan spesifik dengan membagikan teknik perbanyakan vegetatif kepada kaum pria serta pengelolaan persemaian pekarangan mandiri bagi kelompok perempuan Dasawisma.
Kondisi geografis Negeri Rutong yang unik sekaligus rentan menjadi latar belakang utama pendekatan spesifik ini. Dengan luas wilayah mencapai lima kilometer persegi, kawasan ini didominasi oleh perbukitan curam dengan kemiringan di atas 25 persen pada lebih dari 52 persen wilayahnya, sementara sisanya merupakan kawasan pesisir yang menghadap langsung ke Laut Banda. Karakter lanskap tersebut memaksa warga menerapkan pola penghidupan ganda (double strategy livelihood), yakni melaut sebagai nelayan atau pedagang ikan (papalele) selama enam bulan, serta mengolah hasil hutan dan kebun pada enam bulan sisanya.
Ketua Tim PKM Faperta Unpatti, Fanny Soselisa, S.Hut., M.Sc., menjelaskan kerentanan masyarakat terhadap perubahan cuaca ekstrem, abrasi pantai, serta potensi kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di kawasan perbukitan menuntut intervensi yang menyasar langsung kebutuhan harian warga.
“Pemetaan keterampilan teknis berbasis gender menjadi kunci agar setiap elemen masyarakat memiliki peran konkret dalam menjaga ambang batas ekologis wilayahnya. Dalam pengabdian ini, kaum pria kita bekali dengan teknik perbanyakan vegetatif seperti stek tanaman kayu yang efisien dan murah untuk merehabilitasi lahan-lahan kritis serta kawasan rawan karhutla di perbukitan. Sementara itu, ibu-ibu Dasawisma difokuskan pada teknik perbanyakan generatif atau persemaian biji tanaman hortikultura untuk mengoptimalkan pekarangan rumah,” jelas Fanny Soselisa di Ambon, Selasa (6/10/2026).
Melalui pelatihan persemaian biji tersebut, menurutnya, sebanyak 15 kelompok Dasawisma, termasuk Kelompok Dasawisma Kolosung II, dibekali bibit sayuran seperti kangkung, terong, buncis, cabai, dan tomat, hingga bibit buah-buahan seperti mangga dan rambutan.

“Langkah ini menjadi jawaban atas kendala klasik warga yang selama ini harus membeli bibit dari luar desa dengan biaya yang relatif tinggi. Selain memperkuat ketahanan pangan keluarga, keterlibatan perempuan juga diarahkan pada pendampingan inovasi olahan pangan lokal berbahan dasar buah endemik Tomi-Tomi (Flacourtia inermis) yang kini mulai diolah menjadi sirup, selai, hingga minuman fermentasi (wine),” ,” ungkapnya..
Dari sisi ekologis, katanya, perlindungan kawasan hutan pegunungan dan ekosistem mangrove di pesisir Rutong diposisikan sebagai satu kesatuan lanskap yang tidak terpisahkan (ridge-to-reef).
“Keberadaan mangrove di pesisir Leitimur Selatan tidak hanya menjadi benteng alami penahan gelombang Laut Banda, tetapi juga merupakan penyimpan cadangan karbon biomassa yang sangat besar. Pemulihan kawasan pesisir dan hutan perbukitan di Negeri Rutong secara langsung menyokong agenda nasional Indonesia’s Folu Net Sink 2030. Ketika perempuan dan pria di desa ini secara konsisten merawat mangrove dan merehabilitasi lahan perbukitan, mereka sebenarnya sedang berkontribusi nyata dalam menurunkan emisi gas rumah kaca global,” kata Fanny Soselisa.
Tingginya efektivitas program ini didukung oleh kesadaran swadaya warga Negeri Rutong yang sudah terbentuk melalui lembaga adat Kewang Laut dan Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis).
“Berdasarkan hasil riset tim Unpatti terhadap 62 responden lokal, tingkat partisipasi sukarela masyarakat dalam menjaga kawasan konservasi mangrove mencapai 86,29 persen,” ujarnya.
Dikatakan, integrasi antara pengetahuan akademis, teknologi perbenihan mandiri, dan kearifan lokal ini diharapkan mampu menjadikan Negeri Rutong sebagai benteng ekonomi dan ekologi yang tangguh di Kepulauan Maluku. (MT-01)

