AMBON, MalukuTerkini.com – Fakultas Kedokteran Universitas Pattimura (FK Unpatti) menggelar Aksi Peduli Kesehatan Masyarakat Kepulauan di Negeri Aboru, Kecamatan Pulau Huruku, Kabupaten Maluku Tengah (Malteng).

“Aksi Peduli Kesehatan Masyarakat Kepulauan ini meripakan bagian dari Pengabdian Masyarakat (Pengmas) FK Unpatti yang digelar dalam bentuk Pelatihan Pengukuran Status Gizi Balita bagi kader Posyandu serta Skrining Penyakit Tidak Menular (PTM) dan Katarak Bagi Masyarakat yang berlangsung 16 Agustus 2025,”  ungkap Dosen FK Unpatti, drg Christiana Rialine Titaley, MIPH., Ph.D kepada malukuterkini.com di Ambon, Senin (29/9/2025).

Dijelaskan, aksi tersebut melibatkan Tim FK Unpatti berjumlah 20 orang yang terdiri dari dosen, dokter, dokter muda dan mahasiswa;   Tim Kesehatan UPTD Klinik Mata Ambon Vlissingen berjumlah 15 orang yang terdiri dari dokter spesialis, dokter muda dan perawat; serta mitra sasaran yaitu Puskesmas Perawatan Haruku Sameth, Kabupaten Malteng.

“Melalui Aksi Peduli Kesehatan Masyarakat Kepulauan ini juga dilakukan diseminasi hasil penelitian status gizi yang dilakukan FK Unpatti,” jelasnya.

Titaley yang juga Koordinator Program Studi (Prodi) Kedokteran Gigi pada FK Unpatti merincikan saat penyuluhan dan edukasi terkait anemia balita pada ibu  diberikan materi terkaittanda gejala anemia, penyebab anemia, dampak anemia, serta edukasi pemberian makanan untuk mencegah anemia pada balita sesuai rentang usia balita (pemberian MP-ASI).

“Kita juga mempresentasikan hasil penelitian FK Unpatti ang berfokus pada stunting, dimulai dari memberikan pemahaman tentang apa itu stunting, cara menilai, dampak, cara pencegahan, dan dilanjutkan dengan faktor risiko dan temuan stunting berdasarkan hasil penelitian,” rincinya.

Saat Aksi Peduli Kesehatan Masyarakat Kepulauan tersebut, katanya, juga diberikan pelatihan untuk memperkuat kapasitas kader dalam melakukan pemantauan pertumbuhan anak dengan benar dan sesuai standar.

“Materi pelatihan mencakup pemahaman dasar tentang pentingnya antropometri dalam deteksi dini masalah gizi, cara mengkalibrasi alat ukur, pengenalan alat ukur seperti timbangan digital dan infantometer, serta praktik langsung dengan pendampingan oleh tim pengmas. Peserta berlatih mengukur berat badan dan panjang/tinggi badan anak balita dalam posisi berbaring maupun berdiri sesuai indikasi,” katanya.

Tak hanya itu, menurut Titaley, kegiatan pengmas berupa skrining PTM dan katarak juga dilaksanakan pada masyarakat sasaran.

“Skrining PTM difokuskan pada pemeriksaan kadar kolesterol dan gula darah untuk mendeteksi risiko dislipidemia dan diabetes mellitus secara dini. Sementara itu, skrining katarak dilakukan melalui pemeriksaan visus dan anamnesis sederhana terkait gejala yang dialami responden. Peserta juga diberikan edukasi mengenai pola makan seimbang, aktivitas fisik teratur, dan pentingnya pemantauan kesehatan berkala secara lisan maupun dengan pembagian leaflet,” ungkapnya.

Secara keseluruhan jelasya, kegiatan pengabdian masyarakat berjalan dengan baik dan mendapat respon positif.

“Peserta menyatakan materi dan praktik yang diberikan relevan dalam upaya meningkatkan keterampilan kader posyandu dalam melakukan pemantauan pertumbuhan balita secara akurat dan sesuai standard,” jelasnya.

Titaley mengatakan, melalui penyuluhan dan edukasi, peserta memperoleh pemahaman mengenai anemia, stunting, serta faktor risikonya.

“Sesi pemaparan hasil penelitian berhasil memberikan informasi yang relevan dan kontekstual, sehingga masyarakat lebih memahami kondisi kesehatan balita di lingkungannya,” katanya.

Selain itu, menurut Titaley, pelatihan antropometri meningkatkan keterampilan kader posyandu dalam melakukan pengukuran status gizi secara benar dan sesuai standar.

“Secara keseluruhan, kegiatan ini berkontribusi pada peningkatan kapasitas kader dalam pemantauan pertumbuhan balita serta mendukung upaya pencegahan stunting di tingkat desa,” ujarnya.

Bagi kader posyandu, tim Pengmas FK Unpatti berharap keterampilan pengukuran antropometri yang telah diperoleh perlu diterapkan secara rutin dalam kegiatan posyandu agar data pertumbuhan balita lebih akurat.

“Bagi puskesmas dan pemerintah desa, disarankan untuk terus melakukan pembinaan dan pendampingan kepada kader, khususnya dalam penguatan edukasi gizi dan pencegahan stunting. Bagi masyarakat/ibu balita, diharapkan meningkatkan praktik pemberian makanan bergizi seimbang dan menerapkan pola asuh sehat untuk mendukung tumbuh kembang balita,” ungkapnya.

Sebagaimana diletahui, kegiatan diseminasi hasil pelatihan dan edukasi anemia diikuti 29 peserta, pelatihan pengukuran antropometri (12 peserta) dan skrinning PTM (213 peserta). (MT-01)