AMBON, MalukuTerkini.com – Jemaat Gereja Protestan Maluku (GPM) Toisapu, menggelar Persidangan Jemaat ke-41, Minggu (18/1/2026).

Sidang jemaat digelar dibawah sorotan tema “Anugerah Allah Melengkapi, Meneguhkan Gereja Menuju Satu Abad GPM”

Pembukaan sidang diawali dengan ibadah di Gedung Gereja Damai Sejahtera, Toisapu dipimpin oleh Pendeta Vonny Sinay.

Prosesi pembukaan ditandai dengan touchscreen Anggota Majelis Pekerja Klasis (MPK) Pulau Ambon Timur, Jimmy Sitanala didampingi Ketua Majelis Jemaat GPM Toisapu, Pendeta Y Siahaya dan Ketua Panitia Yanni Parinussa.

Anggota MPK Pulau Ambon Timur, Jimmy Sitanala dalam sambutannya saat membuka persidangan tersebut mengatakan,masa pelayanan yang baik lahir dari kebersamaan, persekutuan dan ketaatan iman.

“Dengan semangat yang sama, dalam kesepakatan bersama yang diikrarkan dalam persidangan ini,  telah membuktikan segala kesulitan, persoalan, dan tantangan dapat kita lalui bersama,” katanya.

Sitanala menjelaskan, Gereja harus terus bertumbuh menjadi gereja yang melayani: memberi teladan dalam kehidupan iman, keberagaman, dan kebersamaan; menjadi contoh dalam sikap, perkataan, dan tindakan.

“Pelayanan gereja tidak hanya terbatas pada para imam, pendeta, uskup, atau pelayan khusus lainnya, tetapi terbuka dan ramah bagi seluruh subjek pelayanan gereja, termasuk kaum intelektual, akademisi, dan mereka yang bergumul dalam ranah sosial-politik. Sebagai gereja, kita dipanggil untuk menyatakan kebenaran Allah secara nyata dan praktis dalam konteks sosial dan politik daerah maupun bangsa,” jelasnya.

Fokus pelayanan, katanya, adalah memuliakan Allah dengan menghadirkan keadilan, kemanusiaan, dan damai sejahtera, sambil terus menjangkau mereka yang lemah, terpinggirkan, dan membutuhkan kasih.

Sementara itu, Ketua Majelis Jemaat GPM Toisapu, Pendeta Y Siahaya dalam pidato pembukaan sidang jemaat mengatakan Sidang Jemaat menumbuhkan panggilan gereja sebagai kerangka kehadiran di dunia untuk membawa damai, keadilan, dan kasih di tengah kehidupan bersama.

“Hari ini, kita kembali hadir dalam Sidang ke-41 Jemaat GPM Toisapu sebagai ruang bersama untuk mengevaluasi berbagai program pelayanan dan pengelolaan keuangan tahun 2025, sekaligus menetapkan program pelayanan serta rencana penetapan anggaran ke depan,” katanya.

Dijelaskan, perjalanan pelayanan yang telah di tempuh bersama dalam upaya menumbuhkembangkan identitas jemaat, memperdayakan kompetensi gereja melalui berbagai potensi, kemampuan, dan karunia yang Tuhan anugerahkan, telah mengajarkan arti tanggung jawab bersama.

“Kita diajak untuk terus menumbuhkan semangat kebersamaan ini kedepan. Sekalipun kita menyadari di sepanjang perjalanan terdapat banyak pergumulan dan tantangan pelayanan yang tidak ringan, kita tetap percaya bahwa semua itu dapat kita jalani karena Tuhan senantiasa menyertai dan memberkati kehidupan kita. Kita memiliki pengharapan yang teguh bahwa Tuhan yang memulihkan akan terus menuntun hidup dan pelayanan kita memasuki tahun yang baru, tahun 2025,” jelasya.

Ia mengatakan, Sidang ke-41  Jemaat GPM Toisapu menegaskan gereja dipanggil dan diutus oleh Tuhan untuk memperjuangkan kehidupan, sambil terus menaruh pengharapan sepenuhnya kepada Allah sebagai sumber kehidupan itu sendiri.

“Tema “Anugerah Allah Melengkapi, Meneguhkan Gereja Menuju satu Abad GPM” ini menjadi inspirasi untuk meneguhkan identitas gereja dalam menyongsong satu abad pelayanan Gereja Kristen Maluku, yang penuh dinamika dan liku-liku, namun senantiasa berada dalam tuntunan Tuhan. Gereja yang kuat adalah gereja yang memiliki kedewasaan spiritual, perilaku yang jujur dan bertanggung jawab, serta mampu menghadapi tantangan zaman, termasuk di era digitalisasi saat ini, tanpa kehilangan jati diri dan panggilannya. Sebagai umat dan pelayan Tuhan, kita patut bersyukur karena pelaksanaan program pelayanan sepanjang tahun 2025 dapat berjalan dengan baik. Meskipun tidak terlepas dari berbagai tantangan, semuanya dapat dilaksanakan berkat kerja sama yang solid antara umat dan pelayan, sektor-sektor pelayanan, warga organisasi, serta seluruh komponen gereja yang ada,” katanya.

Melalui persidangan jemaat ini, menurtnya, juga akan idsahkan Rencana Tata Ruang dan Cakupan Pelayanan Jemaat (RTRC) sebagai pedoman arah pelayanan jemaat selama lima tahun ke depan. (MT-04)