AMBON, MalukuTerkini.com – Di tahun pelayanan 2026, Gereja Protestan Maluku (GPM) menegaskan kembali panggilan penting gereja sebagai eklesia domestik, yaitu Gereja Yang Hidup dan Bertumbuh di dalam Rumah Tangga.
Hal ini diungkapkan Pendeta Vonny Sinay dalam khotbahnya saat Ibadah Pembukaan Sidang ke-41 Jemaat GPM Toisapu Klasis Pulau Ambon Timur, di Gereja Damai Sejahtera, Minggu (18/1/2026).
Dikatakan, Iman Kristen tidak hanya dihayati pada hari Minggu atau di dalam gedung gereja, tetapi terutama dihidupi dalam kehidupan keluarga sehari-hari, dalam relasi suami dan istri, relasi orang tua dan anak, serta dalam cara kita berelasi dengan sesama di tengah masyarakat.
“Karena itu, firman Tuhan hari ini sangat relevan untuk menolong kita memahami bahwa iman kepada Kristus bukan hanya berdampak secara pribadi, tetapi juga secara komunal, bahkan menjangkau seisi rumah,” katanya.
Menurutnya, Kisah Para Rasul 16: 19-34 menceritakan tentang Paulus dan Silas yang dipenjarakan di Filipi.
“Mereka bukan dipenjara karena melakukan kejahatan, namun karena kesetiaan memberitakan Injil. Mereka dipukuli, dirantai, dan ditempatkan di bagian penjara yang paling dalam. Namun Alkitab mencatat sesuatu yang luar biasa: di tengah malam, Paulus dan Silas berdoa serta menyanyikan puji-pujian kepada Allah. Penderitaan tidak memadamkan iman mereka. Penjara tidak membungkam doa dan pujian mereka. Dari peristiwa ini, kita belajar bahwa iman yang sejati justru diuji dan dimurnikan di tengah kesulitan,” ungkapnya.
Ia mengaku banyak keluarga saat ini hidup dalam ‘penjara kehidupan’. “Ada yang terpenjara oleh tekanan ekonomi. Ada yang terpenjara oleh sakit penyakit. Ada yang terpenjara oleh konflik rumah tangga. Ada pula yang terpenjara oleh rasa bersalah, kegagalan, dan pergumulan iman.
“Firman Tuhan hari ini mengingatkan kita bahwa sekalipun rumah tangga kita berada dalam situasi sulit, rumah tetap dapat menjadi tempat kudus, tempat hadirat Tuhan dinyatakan, jika di dalamnya ada doa, pujian, dan iman kepada Kristus.Keselamatan yang dari Tuhan tidak berhenti pada satu orang, tetapi mengalir kepada keluarga, kepada rumah tangga, dan kepada komunitas. Itulah panggilan gereja sebagai eklesia domestik: menghadirkan keselamatan Allah mulai dari rumah kita masing-masing,” tadasnya.
Ia mengatakan, gereja yang kuat selalu lahir dari keluarga-keluarga yang berakar di dalam Kristus dan bertumbuh ke arah Kristus.
“Melalui firman Tuhan hari ini, kita diingatkan bahwa percaya kepada Tuhan memberi kekuatan dalam penderitaan, dan kesetiaan iman di tengah kesempitan hidup dapat membuka jalan keselamatan bagi orang lain. Karena itu, keluarga adalah gereja yang paling awal dan paling menentukan dalam pembentukan iman. Ketika peran keluarga melemah, iman generasi muda pun menjadi rapuh dan mudah terjerumus oleh nilai-nilai dunia. Sebaliknya, ketika keluarga kuat di dalam Tuhan, gereja akan bertumbuh dengan kokoh,” katanya. (MT-04)


Tinggalkan Balasan