AMBON, MalukuTerkini.com – Tingkat inflasi tahunan di Kota Ambon pada September 2026 tercatat mencapai 4,76 persen akibat lonjakan harga pada sejumlah komoditas utama, terutama sektor transportasi dan bahan pangan.
Kenaikan tersebut memicu peningkatan Indeks Harga Konsumen secara signifikan dibandingkan dengan periode yang sama pada tahun sebelumnya.
Kepala Badan Pusat Statistik Kota Ambon, Pauline Gaspersz, menjelaskan pergerakan harga komoditas pada September 2026 secara umum memang menunjukkan tren kenaikan.
“Berdasarkan hasil pemantauan BPS Kota Ambon, pada September 2026 terjadi inflasi year-on-year sebesar 4,76 persen, atau terjadi kenaikan Indeks Harga Konsumen dari 110,17 pada September 2025 menjadi 115,41 pada September 2026. Selain inflasi tahunan, Kota Ambon juga mencatatkan inflasi bulanan sebesar 0,68 persen dan tingkat inflasi tahun kalender sebesar 3,29 persen,” jelas Gaspersz dalam keterangannya yang diterima malukuterkini.com, Kamis (1/10/2026).
Menurutnya, laju inflasi tahunan terjadi karena kenaikan harga yang melanda sepuluh kelompok pengeluaran masyarakat.
“Kelompok transportasi mencatatkan lonjakan tertinggi yakni mencapai 12,40 persen, disusul kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya sebesar 6,55 persen. Kenaikan signifikan juga terjadi pada kelompok makanan, minuman, dan tembakau sebesar 4,83 persen, serta kelompok pendidikan sebesar 4,07 persen. Selain itu, kelompok rekreasi, olahraga, dan budaya naik sebesar 3,10 persen, kelompok penyediaan makanan dan minuman atau restoran naik 2,78 persen, serta kelompok perlengkapan, peralatan, dan pemeliharaan rutin rumah tangga naik 1,58 persen. Adapun kelompok perumahan, air, listrik, dan bahan bakar rumah tangga mengalami kenaikan 0,84 persen, kelompok kesehatan naik 0,70 persen, dan kelompok informasi, komunikasi, serta jasa keuangan naik 0,56 persen,” ungkapnya.
Ia merincikan, terdapat sejumlah komoditas utama yang memberikan andil paling dominan terhadap pembentukan inflasi di Kota Ambon pada periode ini.
“Komoditas yang dominan memberikan andil inflasi tahunan pada September 2026 antara lain tarif angkutan udara, emas perhiasan, bensin, cabai merah, mobil, cabai rawit, serta nasi dengan lauk,” rincinya Pauline.
Selain sektor transportasi dan energi, katanya, komoditas pangan segar dan olahan seperti ikan layang, ikan asap, daging ayam ras, minyak goreng, kangkung, ketimun, hingga roti manis turut mendorong kenaikan harga.
“Tekanan inflasi juga dipengaruhi oleh peningkatan biaya pendidikan seperti perguruan tinggi, sekolah dasar, sekolah menengah pertama, hingga biaya les privat, disamping komoditas harian lain seperti sigaret kretek mesin, tarif kendaraan roda empat daring, dan pelumas mesin,” katanya. (MT-06)
