Sekilas Info

Ketua Dewan Pers Ingatkan Media Tidak Gelorakan Potensi Konflik Pemilu 2019

Ketua Dewan Pers, Yosep Adi Prasetyo

JAKARTA - Ketua Dewan Pers Yosep Adi Prasetyo mengingatkan media tidak “menggelorakan” potensi konflik yang ada di Pemilu 2019 dengan menghindari ekspos pernyataan yang tidak diperlukan dari pihak yang bersengketa.

Hal itu diungkapkan Yosep Adi Prasetyo didepan peserta Peningkatan Pemahaman Hak Konstitusional Warga Negara bagi wartawan se-Indonesia, di Pusdik Pancasila dan Konstitusi, Cisarua, Bogor, Senin (22/4/2019) malam,

Ia mengaku prihatin melihat kondisi saat ini media sepertinya terbelah menjadi dua kutub mengikuti persaingan dua pasangan capres-cawapres, dimana para pemilik media menjadi pimpinan partai, sementara para pendukung menggalang massa dan opini.

“Media sosial menyebarkan hoaks dan ketakutan. Banyak ekspos tentang kekurangan penyelenggaraan Pemilu. Media pun mengekspos komentar-komentar orang yang menimbulkan kemarahan. Celakanya, kita semua membiarkan meme beredar massal di media sosial dengan caramerendahkan sekaligus melecehkan para politikus dan calon-calon pemimpin kita,” ungkapnya.

Menyikapi situasi tersebut, ia mengingatkan kembali peran dan fungsi pers, yaitu menyebarkan informasi secara faktual, akurat, netral, seimbang dan adil serta selalu skeptis dan menguji kebenaran semua informasi yang didapat.

“Pers  perlu mengubah jurnalisme talking news dengan jurnalisme presisi. Pers harus melakukan cek dan ricek terhadap semua fakta, data dan informasi yang disampaikan semua pihak,” jelasnya.

Terlebih dari itu, kata Yosep Adi Prasetyo,  pers harus fokus pada masalah dan penanganan yang dilakukan dan yang akan dilakukan Bawaslu, Dewan Kehormatan Penyelenggaraan Pemilu, kepolisian, kejaksaan, pengadilan, Komisi Yudisial, dan tentu saja Mahkamah Konstitusi.

“Para wartawan harus selalu mengecek peraturan perundang-undangan terkait Pemilu. Jangan segan bertanya pada ahli yang berkompeten dan kredibel, bukan pengamat yang partisanshipnya tinggi,”katanya.

Ia juga mengingatkan para wartawan berhati-hati dalam menggunakan informasi dari media sosial. Perlakukan apa yang ada di media sosial hanya sebagai sebuah “informasi”. Boleh saja informasi itu menjadi bahan awal untuk menulis berita, tapi tetap harus melakukan verifikasi atas kebenaran faktualnya dan  konfirmasi kepada pihak-pihak yang harus dikonfirmasi.

“Ini untuk mencegah munculnya hoaks.  Ingat, jujung tinggi Kode Etik Jurnalistik yang menjadi pegangan kita dalam bekerja. Berita harus berbasis pada fakta,” tandas Yosep Adi Prasetyo.

Dalam Pemilu 2019 ini, katanya,  pers Indonesia harus bisa menjadi wasit dan inspektur pembimbing yang adil, menjadi pengawas yang teliti dan seksama, dan tidak justru sebaliknya menjadi  “pemain” yang menyalahgunakan ketergantungan masyarakat terhadap media.

“Kita perlu mendorong munculnya pemberitaan yang berorientasi pada problem solver terhadap masalah yang sedang kita hadapi saat ini,” katanya. (MT-07)

Penulis:

Baca Juga

error: Content is protected !!