oleh

Duta Parenting Maluku Berbagi Pengalaman di Puncak Peringatan HGN 2020

-Kesehatan-136 views

AMBON – Duta Parenting Provinsi Maluku, Widya Murad Ismail berbagi pengalamannya di depan peserta puncak peringatan Hari Gizi Nasional (HGN) ke-60 tahun 2020 di Kantor Kementerian Kesehatan, Jakarta, Selasa (28/1/2020).

Saat acara yang dihadiri juga dihadiri Menteri Kesehatan (Menkes), Terawan Agus Putranto, Widya sejak dikukuhkan sebagai Duta Parenting 3 Juli 2019, langsung berkordinasi dan membuat rencana aksi bersama Dinas Kesehatan sebagai leading sector untuk penanggulangan kasus stunting di Maluku, mengingat masalah stunting juga menjadi concern dan perhatian serius Presiden Joko Widodo.

“Izinkanlah saya untuk berbagi sedikit pengalaman, selama menjalankan tugas sebagai Duta Parenting di daerah kepulauan, Provinsi Maluku. Tanggungjawab sebagai Duta Parenting menjadi serius saya jalankan, mengingat Maluku adalah provinsi dengan tingkat stunting yang sangat tinggi. Berdasarkan Riset Kesehatan Dasar tahun 2018, prevalensi stunting di Maluku mencapai angka 34 persen. Kondisi ini menjadikan Maluku termasuk daerah rawan dengan tingkat stunting yang tinggi, setelah Nusa Tenggara Timur,” ungkapnya.

Tingginya angka kemiskinan, katanya merupakan akar permasalahan kesehatan dan gizi di Maluku. “Tempat tinggal yang tidak sehat, masalah perilaku, kesadaran dan inisiatif hidup sehat yang rendah, akses terhadap pelayanan kesehatan juga rendah, semakin memperburuk derajat kesehatan masyarakat,” katanya.

Ia menjelaskan, kondisi geografis Maluku yang luas, menjadi tantangan tersendiri lagi, apalagi dengan kecilnya APBD Provinsi Maluku, dimana formula perhitungan DAU (Dana Alokasi Umum) hanya memperhitungkan luas daratan, benar-benar membuat percepatan pembangunan menjadi terhambat karena masalah disparitas atau kesenjangan.

“Bisa dibayangkan, akses dan aksesibilitas ke pulau-pulau di Maluku, baik melalui laut maupun udara, begitu sulit dan mahal. Situasi ini mengakibatkan kemiskinan sangat sulit dihindari. Hal ini pula yang berdampak pada tingginya kasus stunting dan gizi buruk di Maluku,” jelasnya.

+

Walau begitu, menurut Widya, kondisi ini tidak membuatnya putus asa dan pesimis.

“Sebagai Duta Parenting, Istri Gubernur, dan ibunya anak-anak Maluku, saya berusaha keras menyempatkan waktu untuk turun langsung ke desa-desa locus stunting di daerah pulau-pulau dan terpencil, untuk menyentuh dan mengajak langsung masyarakat menerapkan perilaku hidup bersih dan sehat,” ungkapnya.

Terhitung selama lima bulan di tahun 2019 lalu, kata Widya, ia sudah turun di tiga kabupaten, langsung ke desa yang menjadi locus stunting.

“Ketiga kabupaten itu adalah Seram Bagian Barat, Kepulauan Aru dan Maluku Tengah. Ketiga kabupaten ini dipilih karena memiliki kasus stunting tertinggi di Maluku. Tantangan untuk bisa mencapai desa-desa ini juga cukup sulit. Mulai dengan menggunakan pesawat terbang, menyeberangi lautan dengan kapal kecil, menumpangi kendaraan roda empat, atau harus sampai di desa yang berada di daerah pegunungan. Beberapa desa dintaranya itu, bahkan belum pernah didatangi oleh pejabat daerah sebelumnya,” katanya.

Widya mengaku dengan berada di desa-desa terpencil, yang kebetulan menjadi locus stunting.

“Saya bisa melihat kondisi masyarakat di sana, berdialog dengan mereka, melihat anak-anak yang terkena stunting dan gizi buruk, dan berdialog dengan ibu-ibu hamil, seakan diri saya ikut merasakan apa yang mereka rasakan. Meskipun dengan cuaca panas, menyeberangi lautan dengan kapal kecil seperti saat saya ke desa Wakua di Kabupaten Kepulauan Aru, atau sampai di desa yang berada di pegunungan Binaya di Pulau Seram yakni desa Piliana di Kabupaten Maluku Tengah, tapi saya menikmati dan mensyukuri semua itu. Saya bersyukur karena bisa bertemu dengan anak-anak dan masyarakat di sana, dan hadirnya saya sebagai ibu mereka, ternyata memang sangat dirindukan,” ungkapnya. (MT-04)

 

Komentar

News Feed