AMBON, MalukuTerkini.com – Ubi jalar kini tak lagi sekadar dipasarkan dalam bentuk segar. Melalui proses pengolahan dan pembekuan, komoditas ini memiliki nilai tambah dan kini menjangkau pasar Jepang.

Produk ubi jalar manis beku (frozen sweet potato) atau Ipomoea batatas tersebut menjalani pemeriksaan oleh petugas Karantina Sulawesi Selatan sebelum diberangkatkan ke Negeri Sakura.

Produk yang diekspor memiliki spesifikasi khusus menyesuaikan permintaan pasar Jepang. Salah satu karakteristiknya adalah tekstur daging ubi yang lebih lembut setelah melalui proses pengolahan dan pembekuan.

Karakter tersebut menjadi salah satu contoh bagaimana komoditas pertanian lokal dapat dikembangkan menjadi produk bernilai tambah sesuai kebutuhan pasar tujuan.


Sebelum diberangkatkan, petugas Karantina Sulawesi Selatan melakukan pemeriksaan untuk memastikan komoditas telah memenuhi persyaratan karantina dan ketentuan negara tujuan. Pemeriksaan meliputi verifikasi kelengkapan dan kesesuaian dokumen serta pemeriksaan fisik terhadap produk dan kemasannya.

Petugas juga memastikan tidak ditemukan indikasi keberadaan Organisme Pengganggu Tumbuhan Karantina (OPTK) yang menjadi perhatian negara tujuan. Kondisi produk dan kebersihan kemasan turut diperiksa sebagai bagian dari rangkaian tindakan karantina sebelum komoditas diekspor.

Karena dikirim dalam kondisi beku, penanganan suhu menjadi bagian penting dalam menjaga kondisi produk selama perjalanan. Rantai dingin (cold chain) perlu dipertahankan agar karakteristik ubi jalar tetap terjaga hingga tiba di Jepang.

Kepala Karantina Sulawesi Selatan, Sitti Chadidjah dalam keterangannya yang diperoleh malukuterkini.com, Senin (14/9/2026), mengaku pihaknya siap memberikan pelayanan dan pendampingan kepada pelaku usaha agar proses ekspor dapat berjalan lancar.

“Pasar Jepang memiliki persyaratan yang harus dipenuhi secara konsisten. Karantina hadir untuk memastikan aspek karantina terpenuhi sehingga produk dapat diterima dengan baik di negara tujuan. Harapannya, semakin banyak komoditas lokal yang tidak hanya diekspor dalam bentuk bahan mentah, tetapi juga memiliki nilai tambah dan daya saing yang lebih tinggi,” ungkapnya.

Melalui pengawasan dan pelayanan karantina, jelasnya, Karantina Sulawesi Selatan terus mendukung hilirisasi dan perluasan pasar komoditas pertanian daerah, sekaligus mendorong semakin banyak produk unggulan Sulsel mampu bersaing di pasar internasional. (MT-01)