AMBON, MalukuTerkini.com – Berbekal postur tubuh menjulang setinggi 189,6 sentimeter, student-athlete asal Ambon, Schareylenne Alicya Kastanja, sukses mengantarkan tim basket SMA Nation Star Academy (NSA) Surabaya menembus babak Fantastic Four Honda DBL with Kopi Good Day 2026 East Java-North.

Kepastian tersebut diraih usai NSA mengalahkan SMAN 1 Puri Mojokerto dengan skor 34-25 pada pertandingan yang berlangsung Minggu (27/9/2026).

Dalam laga krusial tersebut, pebasket yang akrab disapa Scha itu tampil dominan dengan menyumbangkan 8 poin dan 12 rebound untuk kemenangan timnya.

Hasil manis ini sekaligus mempertegas peran vital Scha di bawah ring, meski sepanjang kompetisi ia terus berjuang menghadapi pengawalan super ketat dari para pemain lawan.

Scha menceritakan memiliki postur tinggi badan hampir menyentuh 190 sentimeter di usia yang masih 16 tahun memberikan keuntungan sekaligus tantangan tersendiri di lapangan.

Postur jangkungnya kerap membuat ia dikepung oleh tiga hingga empat pemain lawan begitu menerima bola. Pengalaman tersebut salah satunya ia rasakan saat NSA berhadapan dengan SMA Gloria 1 Surabaya, di mana ia beberapa kali terjebak di antara dua pemain lawan yang juga memiliki postur besar.

“Tinggi itu sebenarnya enak kalau nggak dijaga. Kalau dijaga sampai tiga atau empat orang, susah juga buat nerima bola,” ungkap Scha mengenai tekanan defensif yang kerap dihadapinya.

Perjalanan Scha hingga menjadi andalan NSA terbilang cukup panjang. Nona manis asal Ambon ini mengaku telah dikenalkan pada olahraga basket oleh sang Mama Sella Kastanja (Staf pada Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kota Ambon) sejak berusia lima tahun.

Namun, kala itu ia belum tertarik dan lebih menyukai permainan bulutangkis. Ketertarikannya pada basket baru tumbuh saat ia duduk di kelas VII SMP, ketika seorang pelatih melihat potensi postur tubuhnya dan memintanya mencoba bermain basket secara lebih serius.

Sejak saat itu, olahraga yang dulu tidak terlalu diminatinya justru berubah menjadi bagian penting dalam hidupnya. Dari Ambon, Scha kemudian memutuskan merantau ke Surabaya untuk melanjutkan perjalanan basketnya bersama NSA. Musim ini menjadi tahun keduanya melantai di DBL East Java-North, kompetisi basket pelajar terbesar se-Indonesia yang sejak lama menjadi impiannya.

Selain mempertajam posisi bertanding di bawah ring, Scha mengakui bahwa dirinya masih harus banyak belajar mengendalikan emosi selama pertandingan berjalan panas.

Ia mengau sempat mendapat technical foul pada laga melawan SMA Petra 2 Surabaya dan SMAN 16 Surabaya akibat selebrasi yang terlalu terbawa suasana. Pengalaman tersebut menjadi pemicu baginya untuk belajar mengontrol emosi di bawah bimbingan pelatih serta dukungan rekan-rekan setimnya.

Di samping arahan teknis di lapangan, Scha menyebutkan bahwa dukungan terbesar yang menguatkan mental bertandingnya selalu datang dari rumah.

Sang Mama rutin menyaksikan penampilannya melalui tayangan live streaming dan menyempatkan berdoa bersama lewat telepon sebelum laga dimulai.

Pesan sederhana seperti kata semangat serta evaluasi setelah pertandingan—termasuk arahan agar ia tidak panik dan lebih dulu melihat ring sebelum mengambil keputusan—menjadi modal penting baginya.

Tak hanya itu, komunikasi dengan adiknya yang terpaut usia sembilan tahun juga tetap terjalin erat, bahkan ia kerap mengajak sang adik bermain basket saat pulang ke Ambon.

Keberhasilan Scha membawa NSA melangkah ke babak Fantastic Four DBL 2026 menjadi bukti nyata bahwa tinggi badan memang merupakan modal berharga, namun ketenangan, adaptasi terhadap tekanan, dan kedewasaan bertandinglah yang pada akhirnya menentukan langkah sang pemain di lapangan. (MT-01)