AMBON, MalukuTerkini.com – Perkembangan ilmu material kedokteran gigi di era modern saat ini mengalami kemajuan yang sangat pesat seiring dengan perkembangan teknologi produksi yang selalu terbarui.

Aplikasi material tersebut kini telah bersifat multidisiplin, mulai dari bidang konservasi gigi dengan pendekatan minimal invasif, prostodontik untuk pemulihan fungsi kunyah dan estetika, hingga kedokteran gigi anak yang menekankan pada intervensi awal serta pencegahan.

Penggunaan material baru ini diharapkan dapat memperluas jangkauan perawatan sekaligus meningkatkan kualitas hidup para pasien.

Koordinator Laboratorium Penelitian dan Pengembangan Material Kedokteran Gigi Fakultas Kedokteran Gigi (FKG) Universitas Indonesia (UI), Prof Dr drg Yosi Kusuma Eriwati MSi menjelaskan mahasiswa kedokteran gigi wajib mempelajari ilmu material tersebut demi memahami dasar-dasar ilmiah bahan yang nantinya akan mereka gunakan dalam praktik klinis.

“Sifat alami dari email dan dentin gigi manusia yang unik mengharuskan material pengganti atau restorasi memiliki karakteristik fisik, mekanis, kimia, dan biologis yang serupa agar gigi dapat tetap berfungsi dengan optimal setelah diperbaiki,” jelas Yosi saat memberikan materi bertajuk “Perkembangan Ilmu Material Kedokteran Gigi di Era Modern” pada Kuliah Pakar Dentistry Talk di FK Unpatti, Ambon, Jumat (5/6/2026).

Guru Besar Tetap Bidang Ilmu Material Kedokteran Gigi FKG UI ini memaparkan pengembangan material kedokteran gigi mutakhir saat ini berfokus pada berbagai inovasi, termasuk penciptaan material restorasi cerdas atau bioaktif yang mampu menghambat kelekatan bakteri demi mencegah munculnya karies sekunder.

“Selain itu, teknologi kedokteran gigi digital yang berbasis komputer, seperti pemindai intraoral, pencetakan tiga dimensi, dan sistem desain serta manufaktur berbantuan komputer atau CAD/CAM, juga terus dikembangkan untuk mempermudah komunikasi antara dokter gigi dengan laboratorium teknik serta meningkatkan kenyamanan pasien selama proses perawatan. Fokus pengembangan material kedokteran gigi tentunya harus disesuaikan dengan kebutuhan masyarakat sesuai dengan lingkungannya,” ungkapnya.

Yosi yang menempuh pendidikan S1 Kedokteran Gigi UI (1979); S2 Ilmu Material Fakultas Pascasarjana UI (1991); dan S3 Ilmu Material, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam UI (2003) ini juga menjelaskan untuk konteks masyarakat di Indonesia, keberadaan material preventif seperti pasta gigi berfluorida, obat kumur, dan pernis fluorida masih sangat diperlukan di samping penggunaan material restorasi.

“Kendati demikian, inovasi terhadap produk-produk material kedokteran gigi di dalam negeri dinilai perlu terus dikembangkan dengan mengangkat potensi serta kearifan lokal dari masing-masing daerah,” jelas Yosi yang pernah menjabat Dekan FKG UI periode 2014–2018 ini. (MT-01)