AMBON, MalukuTerkini.com – Badan Meteorologi, Klimatolog, dan Geofisika (BMKG) mengimbau masyarakat di wilayah Maluku untuk mewaspadai potensi kabut asap kategori sedang yang diprakirakan masih akan menyelimuti sejumlah kawasan hingga pekan depan.
Kabut asap tipis hingga sedang tercatat telah menyelimuti wilayah Maluku dalam sepekan terakhir, dengan jarak pandang berkurang menjadi sekitar 1 hingga 5 kilometer.
Kondisi ini kian memburuk pada Rabu (14/10/2026) pagi, di mana paparan asap pekat memicu jarak pandang di bawah 5 kilometer di Kota Ambon, Maluku Tengah, Seram Bagian Barat, Seram Bagian Timur, Buru, Buru Selatan, Kepulauan Aru, hingga Kepulauan Tanimbar Bagian Utara.
Kepala Stasiun Meteorologi Kelas I Pattimura Ambon, Kamari, menjelaskan sebaran asap yang masuk ke wilayah Maluku tersebut dominan dipicu oleh fenomena asap kiriman dari luar wilayah.
“Berdasarkan arah angin yang bertiup dari arah Timur hingga Selatan serta hasil pantauan satelit Himawari 9 SM, sebaran asap yang masuk ke wilayah Maluku sebagian besar berasal dari Provinsi Papua Selatan, khususnya Merauke, serta sebagian kecil berasal dari Pulau Seram dan Pulau Buru,” jelas Kamari dalam keterangannya yang diterima malukuterkini.com, Rabu (14/10/2026).
Ia merincikan berdasarkan pemantauan satelit pada tanggal 14 Oktober 2026, titik panas di wilayah Maluku sendiri sebenarnya hanya terdeteksi satu titik dengan tingkat kepercayaan tinggi, yakni di Kabupaten Buru.
“Namun pola pergerakan angin membawa asap dalam skala yang lebih luas dari kawasan sekitarnya” rinci Kamari.
Mempertimbangkan dinamika atmosfer tersebut, BMKG memprakirakan potensi asap kategori sedang masih akan melingkupi sepuluh wilayah di Maluku selama seminggu ke depan, rentang 15 – 21 Oktober 2026.
“Wilayah yang terdampak meliputi Kota Ambon, Kabupaten Buru, Buru Selatan, Maluku Tengah, Seram Bagian Timur, Seram Bagian Barat, Kota Tual, Maluku Tenggara, Kepulauan Aru, serta Kepulauan Tanimbar Bagian Utara,” jelasnya.
Menanggapi situasi tersebut, BMKG meminta warga untuk meningkatkan perlindungan diri saat berada di luar rumah guna mengantisipasi gangguan kesehatan.
“Masyarakat disarankan agar memakai masker saat beraktivitas di luar ruangan, mengonsumsi lebih banyak air putih, dan segera menutup jendela kediaman apabila asap tercium kian pekat,” katanya.
Bagi kelompok rentan seperti anak-anak, lansia, ibu hamil, dan warga yang memiliki riwayat gangguan pernapasan, BMKG menyarankan agar membatasi atau mengurangi kegiatan di luar ruangan.
“BMKG meminta para pengguna jalan, penyedia jasa transportasi laut, hingga pihak penerbangan untuk senantiasa ekstra waspada apabila terjadi penurunan jarak pandang secara mendadak,” ungkapya.
Kamari mengingatkan agar masyarakat terus memantau pembaruan informasi resmi mengenai cuaca dan kondisi lingkungan dari BMKG maupun instansi terkait.
“Langkah ini penting dilakukan agar proses mitigasi bencana hidrometeorologi, khususnya pencegahan dan penanganan kebakaran hutan dan lahan (Karhutla), dapat berjalan optimal dan terkoordinasi,” katanya. (MT-06)

