Sekilas Info

Simak! Ini Pandangan Dharma Oratmangun Terkait Wacana Sistem Proporsional Tertutup di Pemilu 2024

Dharma Oratmangun

SAUMLAKI, MalukuTerkini.com - Berbagai pandangan kini muncul menyikapi wacana sistem proporsional tertutup pada Pemilu 2024.

Menyikapi hal ini,  anggota Dewan Pakar Partai Golkar, Dharma Oratmangun memberikan pandangannya. Salah satu putra terbaik Tanimbar yang sukses berkarier di ibu kota negara, mengatakan dengan sistim proporsional terbuka yang sekarang diberlakukan merupakan perbaikan dari berbagai sistem yang telah tempuh dari pemilu ke pemilu.

"Dari setiap pemilu, kita gunakan sistem proporsional terbuka artinya rakyat memilih langsung calon-calon wakilnya melalui partai politik yang mengusung. Rakyat juga bisa mengenal langsung wakilnya dan yang berhak menggunakan kursi wakil rakyat tersebut adalah yang mempunyai perolehan terbanyak,’ kata Dharma kepada malukuterkini.com, , Sabtu (7/1/2023).

Dijelaskan, kehendak mayoritas rakyat itu tercermin didalam perolehan suara masing-masing calon dan tugas partai untuk mengusung telah terpenuhi, sehingga parpol yang ada ‘wajib’ untuk menjaring para calon wakil rakyat dengan memperhitungkan tentang aspek kapabilitasnya serta memperhatikan sungguh-sungguh mengenai faktor elektabilitas calon tersebut.

“Selain itu juga parpol harus membekali calon-calon legislatifnya dengan pelbagai kemampuan yang prima serta akhlak yang baik, sehingga rakyat memilih di standard yang tepat. Inilah kerja-kerja politik yang berkualitas dan elegan sifatnya," jelas Dharma yang juga budayawan nasional ini.

Terkait dengan adanya berbagai wacana untuk mengembalikan sistem pemilihan menjadi proporsional tertutup, Dharma menilai hal sudah tidak tepat dan kurang populer lagi dimata masyarakat.

Bahkan hal ini justru terkesan mengkhianati semangat reformasi yang telah disepakati bersama.

"Boleh-boleh saja gagasan tersebut diangkat kembali sekedar untuk mengingatkan kita semua dalam rangka mengevaluasi kembali telah sejauh mana sistem pemilihan di dalam demokrasi kita dari waktu ke waktu. Mungkin juga parpol ingin agar pengendalian kader-kader yang terpilih lebih taat pada komando parpol," ujar kandidat doktor "Komunikasi Politik dan Diplomasi" Universitas Sahid Jakarta ini.

Namun menurut Dharma, alangkah eloknya jika parpol lebih selektif lagi mempersiapkan kader-kadernya untuk dipersembahkan dalam kontestasi Pemilu dan betul-betul diberi ruang bersaing secara elegan secara internal dan berkontestasi secara santun dan bermartabat di ruang eksternal dengan membangun narasi-narasi yang sifatnya mengedukasi atau mendidik masyarakat untuk memilih dengan cerdas para wakil rakyatnya.

"Bahkan setelah terpilihpun mekanisme pengendaliannyapun melalui fraksi, Jadi semua itu sudah termaktub dalam berbagai regulasi," ungkapnya.

Sudah seharusnya, kata Dharma, parpol-parpol menjual gagasan ide dan program yang selaras dengan ideologi bangsa dan doktrin serta ciri masing-masing parpol.

"Bukan saling menghujat bahkan mencemooh dan menjatuhkan sesama kader maupun parpol. Yang harus diingat, bahwa proses kontestasi Pemilu adalah agenda kebangsaan untuk merajut dan memperkokoh keutuhan negara sekaligus menyusun peradaban bangsa,” katanya.

Sebagaimana diketahui, Ketua KPU Hasyim Asy'ari, akhir tahun 2022 mengungkapkan adanya kemungkinan Pemilu 2024 berlangsung dengan sistem proporsional tertutup.

Pasalnya, saat ini MK tengah memproses gugatan uji materi Undang-Undang (UU) Nomor 7 Tahun 2017 tentang Pemilu terkait sistem proporsional terbuka.

Jika gugatan dikabulkan, sangat mungkin kontestasi elektoral mendatang dilakukan dengan proporsional tertutup, yang artinya dalam pemilihan legislatif (pileg) hanya ada logo partai politik (parpol) di surat suara. Sedangkan dalam sistem proporsional terbuka, yang selama ini diterapkan, selain logo parpol, juga tertera nama dan nomor urut caleg. (MT-06)

Penulis:

Baca Juga

error: Content is protected !!