AMBON, MalukuTerkini.com – Balai Pelaksanaan Jalan Nasional (BPJN) Maluku menegaskan komitmennya menuntaskan pembangunan ruas jalan Air Nanang–Kota Baru–Werinama di Pulau Seram.

Proyek strategis nasional ini resmi masuk dalam prioritas pembangunan jangka menengah 2025–2029, sebagai jawaban atas keterisolasian wilayah selatan Pulau Seram yang telah berlangsung puluhan tahun.

Pembangunan jalan ini didukung pendanaan besar melalui skema Multi Years Contract (MYC) yang bersumber dari APBN serta Surat Berharga Syariah Negara (SBSN/Sukuk Negara).

Hal itudibahas dalam Rapat Pembahasan Kelanjutan Pembangunan Jalan Air Nanang–Kota Baru–Werinama yang digelar di Kantor Direktorat Jenderal Bina Marga, Kementerian PU, Senin (2/2/2026)

Rapat tersebut dihadiri Kepala BPJN Maluku Yana Astuti,Kepala Seksi Pembangunan Jalan dan Jembatan Mesack Ruhulessin, Kasatker PJN Wilayah II Provinsi Maluku Toce Leuwol, serta PPK 2.6 Melky Hitijahubessy, bersama jajaran Direktorat Pembangunan Jalan dan Jembatan Ditjen Bina Marga.

BPJN Maluku menegaskan, pembangunan ruas ini tidak sekadar mengejar panjang jalan beraspal, namun menitikberatkan pada kualitas dan ketahanan konstruksi, mengingat karakteristik tanah Pulau Seram yang labil dan berada di kawasan rawan patahan geologis. Penguatan badan jalan serta pembangunan jembatan permanen menjadi fokus utama.

Salah satu pekerjaan paling krusial adalah pembangunan Jembatan Wai Bobot, yang menjadi “kunci” penghubung utama menuju Werinama. Jembatan rangka baja permanen ini dirancang untuk menggantikan sistem penyeberangan tradisional yang selama ini berisiko tinggi dan kerap terputus saat banjir.

Selain itu, BPJN Maluku juga merampungkan paket pembangunan 17 jembatan Wai Dawang Cs. Jembatan-jembatan yang sebelumnya hanya berupa konstruksi kayu dan jembatan darurat kini dibangun ulang menggunakan struktur beton dan girder baja, sehingga jalur logistik dapat berfungsi sepanjang tahun tanpa terganggu cuaca ekstrem.

Kehadiran proyek ini disambut antusias masyarakat. Para petani di Werinama dan Siwalalat yang selama ini tercekik biaya transportasi laut berharap besar pada akses jalan darat. Dengan jalan aspal yang tersambung, hasil bumi seperti pala, cengkeh, dan kopra dapat diangkut langsung menggunakan truk ke Bula maupun Ambon dengan biaya jauh lebih murah.

Keluhan mahalnya harga beras dan bahan bangunan akibat ketergantungan pada jalur laut pun diharapkan segera teratasi. Akses darat diyakini mampu menekan harga kebutuhan pokok agar lebih setara dengan wilayah perkotaan.

Kepala BPJN Maluku Yana Astuti mengatakan, proyek ini telah dipastikan berlanjut melalui skema MYC yang dimulai intensif sejak 2025 dan ditargetkan rampung pada 2027.

“Jika ruas Trans Seram Selatan ini tersambung penuh, waktu tempuh dari Bula ke Werinama akan terpangkas signifikan. Akses pasar terbuka lebar dan mobilitas masyarakat meningkat drastis,” ujar Yana.

Dampak ekonomi proyek ini diproyeksikan sangat besar. Biaya angkut hasil pertanian diperkirakan turun hingga 40–60 persen, sektor perikanan ikut terdongkrak dengan masuknya truk pendingin ke desa-desa nelayan, serta terbukanya peluang UMKM baru seperti rest area, warung makan, bengkel, dan jasa transportasi lintas Seram.

Lebih jauh, konektivitas darat ini diyakini mendorong peningkatan Indeks Pembangunan Manusia (IPM) di Kabupaten Seram Bagian Timur. Akses layanan kesehatan dan pendidikan menjadi lebih mudah dan terjangkau, sekaligus mempercepat pemerataan pembangunan di wilayah timur Maluku. (MT-04)