AMBON, MalukuTerkini.com –Kondisi ekonomi Maluku pada awal kuartal kedua tahun 2026 menunjukkan tren tekanan harga yang cukup signifikan.

Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Maluku meyatakan pada Maret 2026, terjadi inflasi tahunanan (year-on-year) sebesar 3,40 persen.

“Angka ini menunjukkan adanya kenaikan Indeks Harga Konsumen (IHK) yang cukup tajam, dari 107,80 pada Maret 2025 menjadi 111,46 pada periode Maret tahun ini,” ungkap Kepala BPS Provinsi Maluku, Maritje Pattiwaellapia dalam keterangannya yang diterima malukuterkini.com Senin (4/5/2026).

Ia mengungkapkan perkembangan harga berbagai komoditas di tiga kabupaten/kota pantauan menunjukkan tren kenaikan yang hampir merata di hampir seluruh sektor pengeluaran.

“Inflasi y-on-y terjadi karena adanya kenaikan harga yang ditunjukkan oleh naiknya 10 indeks kelompok pengeluaran, yaitu: kelompok perumahan, air, listrik, dan bahan bakar rumah tangga sebesar 9,55 persen; kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya sebesar 8,10 persen; kelompok kesehatan sebesar 5,68 persen; kelompok makanan, minuman dan tembakau sebesar 3,37 persen; kelompok pendidikan sebesar 2,84 persen; kelompok penyediaan makanan dan minuman/restoran sebesar 1,54 persen; kelompok rekreasi, olahraga, dan budaya sebesar 1,42 persen; kelompok transportasi sebesar 0,67 persen; kelompok perlengkapan, peralatan dan pemeliharaan rutin rumah tangga sebesar 0,64 persen; dan kelompok informasi, komunikasi, dan jasa keuangan sebesar 0,18 persen. Kelompok pengeluaran yang mengalami penurunan indeks, yaitu: kelompok pakaian dan alas kaki sebesar 1,64 persen,” ungkapnya.

Komoditas yang dominan memberikan andil/sumbangan inflasi y-on-y pada Maret 2026, rincinya, antara lain tarif listrik, emas perhiasan, bawang merah, beras, cabai rawit, sigaret kretek mesin (SKM), ikan cakalang, labu siam/jipang, cabai merah, daging ayam ras, nasi dengan lauk, tariff rumah sakit, tarif angkutan udara, biaya akademi/perguruan tinggi, kangkung, buncis, kopi bubuk, kacang panjang, sawi hijau dan sigaret putih mesin (SPM).

“Sedangkan komoditas yang memberikan andil/sumbangan deflasi y-on-y, antara lain: ikan layang/momar, ikan tongkol/komu, ikan selar/kawalinya, bensin, lemon, popok bayi sekali pakai/diapers, sabun mandi, tariff angkutan laut, sepatu pria, bawang putih, wortel, baju muslim wanita, ketimun, hand bodylotion, ikan kembung/lema, sagu, baju kaos tanpa kerah/t-shirt anak, baju anak stelan, bayam dan sepatu anak,” rincinya. (MT-06)