AMBON, MalukuTerkini.com — Fakultas Kedokteran (FK) Universitas Pattimura (Unpatti) menegaskan pentingnya peran mahasiswa kedokteran dalam melakukan aksi nyata di masyarakat melalui fungsi promotif dan preventif.

Keberadaan institusi pendidikan tinggi dinilai harus memberikan dampak konkret dalam mengubah pengetahuan, sikap, dan perilaku masyarakat terhadap kesehatan.

Hal tersebut ditegaskan Dekan FK Unpatti dr Farah Christina Noya MHPEd PhD saat membuka Seminar Edukasi “Health Up 2026” yang digelar oleh mahasiswa FK Unpatti di Ruang Kuliah FK Unpatti, Ambon, Minggu (31/5/2026).

Dalam sambutannya, Farah mengingatkan agar para calon dokter tidak hanya berfokus pada upaya pengobatan atau kuratif setelah penyakit itu mewabah.

“Kedokteran itu ada promosi, ada preventif, ada kuratif. Jangan sampai mahasiswa kedokteran karena nanti akhirnya akan jadi dokter, mengobati, lalu tentang promosi dan preventif, edukasi, diabaikan atau dilupakan. Itu paling penting,” ungkapnya.

Ia juga mengibaratkan penanganan kesehatan yang terlambat seperti petugas pemadam kebakaran yang baru bergerak setelah terjadi kebakaran.

“Tenaga medis harus hadir sejak awal melalui promosi kesehatan untuk mencegah masalah, sekaligus meningkatkan literasi agar masyarakat lebih paham dan waspada. Jika penanganan baru dilakukan saat kasus sudah melonjak, maka penanggulangannya akan menjadi jauh lebih sulit,” jelasnya.

Dikatakan, keberadaan perguruan tinggi saat ini, sesuai dengan arahan Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi, memang diwajibkan untuk memberikan dampak nyata bagi publik.

“Salah satu perwujudannya adalah melalui kegiatan kemahasiswaan yang berbasis pengabdian masyarakat,” ujarnya.

Farah juga mengapresiasi yang tinggi kepada para mahasiswa FK Unpatti, katena di tengah jadwal perkuliahan dan waktu belajar yang sangat padat, namun mampu merencanakan sekaligus mengeksekusi kegiatan edukatif tersebut dengan baik.

Seminar ini juga dinilai menjadi momentum yang tepat di tengah derasnya arus informasi digital. Farah mengaku fenomena media sosial yang kerap menyebarkan informasi kesehatan yang menyesatkan dan membingungkan masyarakat.

“Melalui seminar edukasi ini, peserta dapat mengonfirmasi serta menanyakan langsung berbagai keraguan kepada para pakar yang ahli di bidangnya,” ungkap Farah..

Aksi nyata ini menjadi kian mendesak mengingat adanya indikasi lonjakan kasus baru yang sangat signifikan dalam beberapa tahun terakhir di Maluku. Bahkan, wilayah Kota Ambon saat ini dilaporkan menyumbang angka tertinggi, yakni hampir mencapai 50 persen dari akumulasi total kasus yang ada di seluruh provinsi tersebut.

Menyikapi data tersebut, Farah mengajak seluruh peserta untuk menyadari bahwa masyarakat yang hidup di Kota Ambon merupakan bagian dari masalah ini, sehingga harus bergerak bersama sebagai wujud tindak lanjut dari seminar tersebut.

“Seminar ini tidak boleh berhenti sebagai slogan atau edukasi sesaat tanpa kelanjutan. Harus ada langkah tindak lanjut berupa aktivitas berkesinambungan di masyarakat, khususnya yang berfokus pada upaya pencegahan dan promosi terkait penanggulangan HIV/AIDS,” tandasnya. (MT-01)