AMBON, MalukuTerkini.com – Ketika wisatawan mengalami serangan gigitan ular, tersengat ubur-ubur, atau keracunan hewan laut saat berlibur di Indonesia, rumah sakit terdekat umumnya menjadi tujuan utama.
Namun, bagi sejumlah wisatawan mancanegara, ada satu nomor kontak darurat pribadi yang kerap dihubungi terlebih dahulu sebelum mereka melangkah ke fasilitas kesehatan.
Nomor telepon tersebut milik Dr. dr. Tri Maharani, M.Si., Sp.Em., Sub.Sp.Tok(K)., seorang dokter spesialis gawat darurat dari RS Permata Depok sekaligus pakar toksinologi asal Kediri.
Sosoknya dipercaya menjadi penasihat World Health Organization (WHO) untuk penanganan gigitan ular dan turut menyusun panduan Management of Snakebites. Di tingkat nasional, ia menjabat sebagai Ketua Kajian Gigitan Hewan Berbisa dan Tanaman Beracun Kementerian Kesehatan RI, serta mengelola aplikasi gawat darurat yang ia kembangkan untuk merespons serangan hewan berbisa secara cepat.

Keahliannya yang mumpuni membuat nomor kontak pribadinya disimpan serta dibagikan secara resmi oleh sejumlah biro perjalanan luar negeri, khususnya dari Eropa.
Tri Maharani mengaku salah satu biro perjalanan di Praha, Republik Ceko, secara khusus menyertakan nomor teleponnya agar para turis yang berlibur di Bali atau Ubud bisa langsung berkonsultasi jika mengalami situasi darurat akibat serangan hewan laut maupun ular.
Kerja sama unik ini bermula dari pengalaman seorang wisatawan asal Republik Ceko yang berhasil pulih usai digigit ular di sebuah resor di Ubud. Sebagai bentuk rasa terima kasih dan langkah antisipasi, biro perjalanan tersebut meminta izin resmi kepada Tri untuk membagikan nomor kontaknya kepada calon wisatawan yang akan terbang ke Indonesia.
“Sejak momen tersebut, arus konsultasi dari turis asing tidak pernah berhenti. Selain dari Republik Ceko, dokter yang akrab disapa Maha ini mengaku rutin menerima laporan darurat dari wisatawan asal Jepang, Tiongkok, hingga berbagai negara Eropa lainnya,” ungkapnya.
Kendati demikian, ia menaruh keprihatinan karena wisatawan domestik justru terbilang jarang memanfaatkan layanan penanganan darurat seperti ini.
Maha menilai wisatawan asing memiliki kebiasaan yang lebih terstruktur dalam memetakan risiko kesehatan sebelum berwisata.
“Mereka tidak ragu menghubungi tenaga medis profesional untuk memastikan apakah kondisi gawat darurat yang dialami cukup ditangani dengan pertolongan pertama atau harus segera dirujuk ke rumah sakit,” katanya.
Dedikasi konsultasi jarak jauh ini sebenarnya telah dirintis Maha sejak tahun 2014, jauh sebelum era telemedicine semarak seperti sekarang. Berawal dari pesan singkat dan aplikasi pesan instan, layanan tersebut kini bertransformasi menjadi Virtual Poison Center, sebuah sistem berbasis teknologi yang dikembangkan bersama kalangan akademisi untuk membantu penanganan gigitan hewan berbisa hingga kasus keracunan.
Ia menegaskan keberadaan layanan konsultasi tersebut tidak ditujukan untuk menggantikan fungsi rumah sakit. Tujuan utamanya adalah membimbing korban untuk mengambil tindakan medis yang tepat pada menit-menit awal pasca-kejadian, sehingga kondisi pasien tidak memburuk sebelum tiba di fasilitas kesehatan.
Pengalamannya berinteraksi dengan wisatawan mancanegara selama lebih dari satu dekade membawanya pada satu kesimpulan penting mengenai industri pariwisata tanah air.
Menurut Maha, wisatawan asing sangat memperhitungkan ketersediaan sistem keselamatan yang memadai sebelum menentukan destinasi liburan. Oleh karena itu, ia mendorong pemerintah dan pelaku industri agar tidak hanya menjual keindahan alam semata, tetapi juga memperkuat infrastruktur keselamatan dan integrasi layanan kesehatan darurat.
Ia menegaskan kepercayaan turis asing akan terbangun secara alami apabila mereka mendapat kepastian akan keselamatan diri selama berlibur.
“Keberadaan informasi kesehatan yang jelas dan akses medis yang responsif merupakan kunci utama untuk memberikan rasa aman kepada para pelancong. Orang datang berwisata ingin bahagia. Maka mereka juga harus pulang dengan selamat,” ujarnya. (MT-06)
