AMBON, MalukuTerkini.com – Nilai ekspor Maluku Utara sepanjang Januari–Juli 2026 mencapai US$9.843,79 juta atau sekitar US$9,84 miliar, jauh melampaui nilai ekspor Provinsi Maluku yang pada periode sama hanya mencapai US$33,37 juta.

Perbedaan tersebut menunjukkan kesenjangan nilai ekspor yang sangat besar antara kedua provinsi tersebut.

Plt Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Maluku Utara, Harim Arrosid dalam keterangannya yang diterima malukuterkini.com, Selasa (1/9/2026) mengaku kinerja ekspor Maluku Utara selama tujuh bulan pertama 2026 menunjukkan pertumbuhan yang cukup kuat.

“Nilai ekspor Provinsi Maluku Utara periode Januari–Juli 2026 naik 21,93 persen dibanding periode yang sama tahun 2025, yaitu dari US$8.073,49 juta menjadi US$9.843,79 juta,” ungkapnya.

Kinerja positif tersebut jelasnya,juga terlihat pada capaian ekspor Juli 2026. “Nilai ekspor Maluku Utara pada bulan tersebut tercatat US$1.501,89 juta, meningkat 22,63 persen dibandingkan Juli 2025,” jelasnya.

Ia merincikan, pertumbuhan ekspor Maluku Utara terutama ditopang sejumlah komoditas unggulan. Selama Januari–Juli 2026, peningkatan nilai ekspor terbesar berasal dari Nikel (HS 75) yang naik US$925,38 juta atau 38,58 persen. Selanjutnya, ekspor Aluminium (HS 76) meningkat US$529,11 juta dan Bahan Kimia Anorganik (HS 28) bertambah US$189,22 juta atau naik 61,69 persen.

“Ekspor Besi dan Baja (HS 72) juga meningkat US$133,71 juta atau 2,53 persen. Sementara itu, Berbagai Produk Kimia (HS 38) naik US$1,47 juta, Lokomotif dan Peralatan Kereta Api (HS 86) meningkat US$426,58 ribu, serta Kapal Terbang dan Bagiannya (HS 88) bertambah US$36,51 ribu,” rincina.

Dikatakan, peningkatan juga tercatat pada Daging dan Ikan Olahan (HS 16) sebesar US$1.320 dan Ikan dan Udang (HS 03) sebesar US$270.

“Di sisi lain, ekspor Logam Dasar Lainnya (HS 81) justru mengalami penurunan US$3,25 juta atau 4,17 persen,” katanya.

Harim Arrosid juga menjelaskan, struktur ekspor Maluku Utara selama Januari–Juli 2026 masih sangat didominasi oleh sejumlah komoditas industri dan pertambangan. Ekspor Besi dan Baja, Nikel, serta Bahan Kimia Anorganik secara bersama-sama memberikan kontribusi 94,18 persen terhadap total ekspor Maluku Utara.

“Dari sisi pertumbuhan, ekspor tiga golongan barang tersebut naik 20,67 persen terhadap periode yang sama tahun 2025,” jelasnya.

Berbeda dengan Maluku Utara, nilai ekspor Provinsi Maluku selama Januari–Juli 2026 tercatat hanya US$33,37 juta.

Kepala BPS Provinsi Maluku, Maritje Pattiwaellapia, mengatakan angka tersebut memang mengalami pertumbuhan 17,86 persen dibandingkan periode yang sama pada 2025, ketika nilai ekspor Maluku tercatat US$28,31 juta.

Dalam keterangannya yang diterima malukuterkini.com, Selasa (1/9/2026), Pattiwaellapia mengaku peningkatan tersebut terutama berasal dari ekspor nonmigas, khususnya kelompok ikan dan udang.

“Peningkatan ekspor Januari–Juli 2026 dibanding periode tahun lalu disebabkan meningkatnya nilai ekspor nonmigas yaitu kelompok ikan dan udang dengan peran penuh terhadap nilai ekspor,” ungkapya.

Dijelaskan, struktur ekspor Maluku masih menghadapi persoalan ketergantungan terhadap satu komoditas utama. Kondisi itu terlihat dari tidak adanya kontribusi golongan barang lain, termasuk bahan bakar mineral, terhadap nilai ekspor Maluku selama periode tersebut.

“Selain itu, tidak terdapat kontribusi dari golongan barang lain seperti bahan bakar mineral, sehingga struktur ekspor Maluku masih sangat bergantung pada satu komoditas utama,” jelasnya.

Kinerja ekspor Maluku pada Juli 2026 juga menunjukkan pelemahan. Nilai ekspor pada bulan tersebut tercatat US$4,90 juta, turun 5,32 persen dibandingkan Juli 2025.

“Penurunan tersebut dipengaruhi melemahnya ekspor nonmigas, terutama komoditas ikan dan udang,” katanya. (MT-06)