AMBON, MalukuTerkini.com – Perpustakaan yang berada di kawasan Taman Literasi Martha Christina Tiahahu, Jakarta Selatan, kini secara resmi menggunakan nama Perpustakaan Heka Leka.
Penamaan tersebut ditandai dengan penandatanganan plakat oleh Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung serta prosesi gunting pita secara simbolis, Minggu (20/9/2026).
Perpustakaan ini telah menjadi bagian dari Taman Literasi Martha Christina Tiahahu sejak kawasan tersebut hadir sebagai ruang publik. Momentum penamaan dengan nama Heka Leka menjadi titik baru untuk menghidupkan kembali semangat, kolaborasi, dan berbagai kemungkinan pengembangan fungsi perpustakaan sebagai bagian dari ekosistem Taman Literasi.
Melalui pesan video, Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung menyampaikan ucapan selamat sekaligus harapan atas penamaan Perpustakaan Heka Leka.
“Saya Pramono Anung, Gubernur DKI Jakarta, mengucapkan selamat atas peresmian penggunaan nama Perpustakaan Heka Leka di Taman Literasi Martha Christina Tiahahu. Semoga Perpustakaan Heka Leka menjadi ruang yang inklusif bagi masyarakat untuk belajar, bertukar gagasan, dan tumbuh bersama,” ungkapnya.
Acara tersebut dihadiri oleh Direktur Utama PT Integrasi Transit Jakarta (ITJ) Yulham Ferdiansyah Roestam; Direktur Eksekutif Yayasan Heka Leka Stanley Ferdinandus; Staf Khusus Gubernur DKI Jakarta Bidang Pembangunan dan Tata Kota Nirwono Joga; Komisaris PT ITJ Jakarta Budi Siswanto serta Kepala Dinas Perpustakaan dan Kearsipan DKI Jakarta Nasruddin Djoko S.
Penamaan Perpustakaan Heka Leka tidak dimaksudkan untuk menempatkan perpustakaan sebagai ruang yang berdiri sendiri.
Sebaliknya, perpustakaan merupakan salah satu bagian dari ekosistem Taman Literasi Martha Christina Tiahahu yang sejak awal dirancang sebagai ruang publik untuk mempertemukan masyarakat dengan berbagai aktivitas dan pengalaman.
Taman Literasi bukanlah taman yang kemudian diisi dengan kegiatan literasi. Literasi merupakan salah satu nilai yang menyatu dalam keseluruhan ekosistem Taman Literasi, bersama dengan pembelajaran, seni, kebudayaan, kreativitas, komunitas, interaksi sosial, dan berbagai aktivitas masyarakat.
Di dalam ekosistem tersebut, ruang-ruang seperti Plaza Kabaresi, Atap Abubu, ruang terbuka, dan perpustakaan memiliki fungsi yang berbeda namun saling melengkapi.

Perpustakaan menjadi salah satu simpul yang menyediakan ruang bagi masyarakat untuk membaca, belajar, mengakses pengetahuan, dan bertukar gagasan.
Karena itu, momentum penamaan Perpustakaan Heka Leka menjadi semangat baru untuk mendorong agar fungsi perpustakaan dan keseluruhan ekosistem Taman Literasi dapat semakin berdampak dalam membangun budaya literasi warga Jakarta.
Nama Heka Leka membawa semangat “Transformasi dan Harapan”, yang terinspirasi dari makna Heka Leka sebagai proses pemurnian menuju kehidupan yang baru.
Filosofi tersebut menjadi landasan bagi semangat baru yang dibawa melalui penamaan ini. Bukan karena sebuah ruang baru sedang dibangun, melainkan karena sebuah ruang yang telah ada mendapatkan identitas dan energi baru untuk terus berkembang dan memberikan manfaat yang lebih luas bagi masyarakat.
Melalui semangat tersebut, Perpustakaan Heka Leka diharapkan dapat menjadi ruang yang inklusif bagi masyarakat untuk belajar, bertukar gagasan, dan tumbuh bersama. Hal ini sejalan dengan harapan yang disampaikan Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung.
Pengetahuan menjadi bagian penting dari proses transformasi tersebut. Dari pengetahuan lahir pemahaman, dari pemahaman tumbuh perubahan, dan dari perubahan hadir harapan untuk kehidupan yang lebih baik.
Ke depan, berbagai aktivitas seperti diskusi publik, bedah buku, pelatihan, lokakarya, kelas inspiratif, kegiatan membaca, dan program kolaboratif dapat terus dikembangkan di Perpustakaan Heka Leka maupun terhubung dengan ruang-ruang lain di Taman Literasi.
Seluruh aktivitas tersebut merupakan bagian dari upaya untuk menjadikan Taman Literasi Martha Christina Tiahahu sebagai ekosistem ruang publik yang terus bertumbuh dan semakin berdampak dalam membangun budaya literasi masyarakat Jakarta.
Pada akhirnya, penamaan Perpustakaan Heka Leka bukan sekadar perubahan nama. Ini adalah momentum untuk memberikan semangat baru terhadap sebuah ruang yang telah hadir, memperkuat jejaring kolaborasi, dan membuka kemungkinan baru agar Taman Literasi dapat semakin bermakna bagi masyarakat.
Perpustakaan Heka Leka menjadi salah satu simpul di dalam ekosistem tersebut: tempat masyarakat membaca, belajar, bertukar gagasan, dan tumbuh bersama. (MT-01)
