AMBON, MalukuTerkini.com – Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Maluku mencatat inflasi tahunan (year-on-year/y-on-y) di wilayah Maluku menyentuh angka 3,68 persen pada Agustus 2026. Lonjakan harga pada sektor transportasi menjadi penyumbang kenaikan terbesarnya.
Kepala BPS Provinsi Maluku, Maritje Pattiwaellapia menjelaskan perkembangan harga berbagai komoditas pada Agustus 2026 secara umum menunjukkan tren kenaikan jika dibandingkan dengan periode yang sama pada tahun sebelumnya.
“Pemantauan yang dilakukan di tiga kabupaten dan kota mencatat adanya peningkatan Indeks Harga Konsumen (IHK) dari 110,00 pada Agustus 2025 menjadi 114,05 pada Agustus 2026. Selain inflasi tahunan, perkembangan harga bulanan (month-to-month/m-to-m) juga mengalami kenaikan sebesar 0,81 persen, sedangkan tingkat inflasi tahun berjalan (year-to-date/y-to-d) tercatat berada di angka 3,68 persen,” ungkap Pattiwaellapia dalam keterangannya yang diterima malukuterkini.com, Selasa (1/9/2026).
Maritje menjelaskan lonjakan inflasi tahunan ini didorong oleh kenaikan indeks pada sepuluh kelompok pengeluaran masyarakat. Kelompok transportasi tercatat melambung paling tinggi dengan kenaikan sebesar 12,13 persen, disusul oleh kelompok kesehatan sebesar 6,47 persen, serta kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya sebesar 4,44 persen. Kenaikan harga juga terjadi pada kelompok pendidikan sebesar 3,45 persen, kelompok makanan, minuman, dan tembakau sebesar 2,96 persen, hingga kelompok rekreasi, olahraga, dan budaya sebesar 2,73 persen. Sektor penyediaan makanan dan minuman atau restoran turut naik sebesar 2,06 persen, perumahan, air, listrik, dan bahan bakar rumah tangga sebesar 1,90 persen, perlengkapan dan pemeliharaan rutin rumah tangga sebesar 1,31 persen, serta kelompok informasi, komunikasi, dan jasa keuangan sebesar 1,21 persen.
“Sebaliknya, hanya ada satu kelompok pengeluaran yang mengalami penurunan indeks, yaitu kelompok pakaian dan alas kaki yang tercatat turun sebesar 2,47 persen,” jelasnya.
Ia merincikan, kenaikan harga ini turut dipicu oleh sejumlah komoditas utama yang memberikan andil inflasi tahunan cukup dominan.
“Tarif angkutan udara, ikan cakalang, bensin, emas perhiasan, dan cabai merah menjadi beberapa komoditas primer pendorong inflasi. Selain itu, kenaikan juga disumbang oleh komoditas lain seperti ikan tongkol, kangkung, mobil, sigaret kretek mesin, nasi dengan lauk, sepeda motor, tarif rumah sakit, ikan tuna, biaya akademi atau perguruan tinggi, bahan bakar rumah tangga, pelumas mesin, biaya pemeliharaan, daging ayam ras, minyak goreng, dan ketimun,” rincinya.
Di sisi lain, menurutnya, tekanan inflasi di Provinsi Maluku masih tertahan oleh sejumlah komoditas yang memberikan andil deflasi secara tahunan.
“Berbagai bahan pangan dan barang konsumsi tercatat mengalami penurunan harga, di antaranya tomat, bawang merah, cabai rawit, sabun mandi, tarif angkutan laut, telur ayam ras, pakaian anak dan dewasa, kelapa, ikan selar, bayam, sepatu pria, lemon, semangka, bawang putih, makanan ringan, ikan kembung, hingga biscuit,” ungkapnya.(MT-06)
