AMBON, MalukuTerkini.com – Calon dokter dan lulusan dari Fakultas Kedokteran (FK) Universitas Pattimura (Unpatti) dituntut untuk siap beradaptasi dengan keterbatasan sarana dan prasarana kesehatan saat menjalankan tugas pelayanan medis di wilayah kepulauan.
Kesiapan mental, fleksibilitas, serta ketajaman diagnosis klinis menjadi fondasi utama bagi tenaga medis dalam menghadapi tantangan geografis Maluku yang didominasi oleh lautan dan pulau-pulau terpencil.
Tuntutan adaptasi tersebut ditegaskan oleh Dosen Luar Biasa Kedokteran Kelautan dan Hiperbarik Fakultas Kedokteran (FK) Unpatti, dr. June MN Luhulima, MS, Sp.KL, Subsp. KT(K), saat memberikan kuliah umum bertajuk “Horizon Baru Kedokteran Maluku: Menjelajahi Potensi & Tantangan Dokter Laut-Pulau” di Aula FK Unpatti, Ambon, Jumat (2/10/2026).

Menurutnya, dokter yang bertugas di daerah pesisir dan pulau-pulau kecil sering kali diperhadapkan pada kondisi minimnya fasilitas medis modern serta kendala aksesibilitas transportasi antar-pulau, sehingga mendalam mengenai kedokteran kelautan dan kemampuan memanfaatkan fasilitas terbatas secara maksimal menjadi keahlian wajib yang harus dimiliki.
“Dokter laut-pulau tidak boleh menyerah pada keadaan ketika sarana pendukung terbatas. Justru di sinilah ketajaman analisis klinis, naluri kedokteran, dan kemampuan beradaptasi diuji agar pelayanan kesehatan kepada masyarakat tetap berjalan optimal,” ungkap Dosen Fisiologi Kedokteran FK Universitas Kristen Indonesia (UKI) Jakarta 1982 – 2025 ini.
Ia menjelaskan karakteristik wilayah Maluku yang terdiri atas ribuan pulau menuntut kehadiran dokter laut-pulau yang tidak hanya menguasai ilmu kedokteran umum, tetapi juga memiliki keahlian spesifik dalam menangani penyakit akibat aktivitas bahari, gangguan hiperbarik pada nelayan tradisional, hingga kegawatdaruratan medis di atas laut.

“Pemahaman keilmuan kedokteran kelautan yang diberikan di FK Unpatti merupakan modal strategis untuk menjawab kebutuhan riil masyarakat kepulauan,” jelas June Luhulima yang menyelesaikan pendidikan Spesialis Kedokteran Kelautan pada tahun 2000 ini.
Selain aspek klinis dan teknis, June Luhulima juga mengatakan pendekatan sosial-budaya serta komunikasi yang efektif dengan masyarakat lokal.
“Seorang dokter laut-pulau juga memegang peran kunci sebagai edukator keselamatan bahari, sehingga mampu mendorong pola hidup sehat dan pencegahan risiko kecelakaan kerja bagi masyarakat pesisir,” kata June Luhulima yang menyelesaikan pendidikan magister Fisiologi Olahraga dan Fisiologi Bawah Laut di FK Universitas Indonesia (UI) pada tahun 1989 ini. (MT-01)

