AMBON, MalukuTerkini.com – Rektor Universitas Pattimura (Unpatti), Prof. Dr. Fredy Leiwakabessy, M.Pd, menggagas pembentukan ‘Unpatti MusicMetric’ sebagai instrumen penilaian perguruan tinggi berbasis musik.
Gagasan itu disampaikannya saat menutup secara resmi rangkaian Kuliah Umum Internasional dan Knowledge Sharing Diaspora bertajuk “Maluku Musical Heritage Intelligence Initiative” di Aula Rektorat Unpatti, Selasa (6/10/2026).
Gagasan mengenai Unpatti MusicMetric tersebut dicetuskan guna memperkuat ekosistem kebudayaan daerah sekaligus menopang predikat Kota Ambon sebagai Kota Musik Dunia (City of Music).
Melalui langkah strategis ini, Unpatti diharapkan mampu menempatkan posisinya sebagai pelopor serta rujukan utama dalam pengembangan standar akademis berbasis seni musik di tingkat perguruan tinggi.
Dalam sambutannya, Leiwakabessy menegaskan pentingnya mengombinasikan keunggulan teknologi kecerdasan artifisial (Artificial Intelligence/AI) dengan kepekaan rasa seni yang telah mengakar sebagai identitas genetik masyarakat Maluku.

“Teknologi AI saat ini berkembang sangat cepat dan mampu mengolah data secara detail. Namun, rasa musik dan identitas budaya Maluku yang khas tidak boleh hilang. Sentuhan rasa manusia tetap menjadi kunci utama,” tandasnya.
Ia menjelaskan arah pembangunan dan kemajuan Unpatti ke depan berpatokan pada tiga kata kunci utama, yakni digitalisasi, transformasi, dan internasionalisasi demi membawa kampus menuju kualifikasi World Class University.
Sejalan dengan orientasi global tersebut, ia juga mengajak para dosen dan seluruh unsur akademik untuk semakin gencar memperluas jangkauan jejaring kerja sama internasional, khususnya ke kawasan Asia dan Pasifik.
“Kita perlu memperluas kolaborasi internasional, terutama dengan negara-negara di Asia seperti Tiongkok, Jepang, dan Korea, serta kawasan Pasifik. Indonesia Timur adalah masa depan Indonesia, dan kita harus maju bersama melalui kemitraan strategis ini,” ungkapnya.
Leiwakabessy menyampaikan apresiasi dan ucapan terima kasih mendalam atas kehadiran serta kontribusi para tokoh dan pakar internasional yang mengawal agenda tersebut. Penghormatan disampaikan kepada Duta Besar Republik Indonesia untuk Tiongkok dan Mongolia, Djauhari Oratmangun, serta Founder OPUS Solutions Limited sekaligus Global Ambassador for Indonesia Hong Kong Cyberport, Dennis Tedja, B.BA. Ucapan terima kasih juga ditujukan kepada musisi senior Dharma Oratmangun serta Prof. Wilma Latuny, Ph.D, selaku penerima Hibah Diaspora Berdampak Diktisaintek Batch I yang menginisiasi gagasan besar ini.
Kuliah Umum yang diikuti oleh para mahasiswa Fakultas Teknik Unpatti ini tidak berhenti pada seremoni penutupan semata. Sebagai langkah konkret pasca-acara, seluruh hasil pembahasan akan ditindaklanjuti secara terstruktur dan berkelanjutan melalui penyusunan peta jalan (roadmap), penyiapan blueprint, serta pembentukan kelompok kerja (working group) guna membangun ekosistem digital warisan budaya Maluku yang solutif dan berdaya saing. (MT-01)

