AMBON, MalukuTerkini.com – Direktur Jenderal Bimbingan Masyarakat Kristen Kementerian Agama (Dirjen Bimas Kristen Kemenag), Dr. Jeane Marie Tulung, S.Th., M.Pd, menyampaikan empat pesan penting bagi penguatan Institut Agama Kristen Negeri (IAKN) Ambon pada Dies Natalis ke-8, mulai dari peningkatan mutu akademik hingga penguatan tata kelola dan kolaborasi.

Pesan tersebut disampaikan dalam sambutan tertulis Jeane Marie Tulung yang dibacakan Direktur Pendidikan Kristen Ditjen Bimas Kristen Kemenag, Dr Suwarsono, S.PAK., M.M, secara virtual pada Sidang Senat Terbuka Wisuda Sarjana dan Pascasarjana Periode II Tahun 2026 yang dirangkaikan dengan Dies Natalis ke-8 IAKN Ambon, yang dipusatkan di Auditorium IAKN Ambon, Selasa (27/10/2026).

Dalam sambutannya, ia mengatakan, delapan tahun perjalanan IAKN Ambon sebagai institusi perguruan tinggi merupakan momentum untuk mensyukuri berbagai kemajuan yang telah dicapai sekaligus mengevaluasi hal-hal yang masih perlu dibenahi.

“Memasuki delapan tahun sebagai institut, IAKN Ambon patut mensyukuri pertumbuhan yang telah dicapai. Namun, ulang tahun juga mengundang keberanian untuk mengevaluasi apa yang masih perlu diperbaiki,” kataya


Pesan pertama yang ditekankan ialah menempatkan mutu akademik sebagai dasar setiap pengembangan institusi. Menurutnya, kemajuan perguruan tinggi tidak cukup diukur dari pertambahan gedung, program studi, maupun jumlah mahasiswa, tetapi harus diikuti dengan peningkatan kualitas pembelajaran, penelitian, pengabdian kepada masyarakat, dan lulusan.

Karena itu, IAKN Ambon didorong memperkuat sistem penjaminan mutu internal, akreditasi, evaluasi program studi, serta menindaklanjuti hasil evaluasi secara nyata. Penerapan kurikulum berbasis capaian pembelajaran juga perlu dilakukan secara konsisten agar profil lulusan, kompetensi yang ditargetkan, metode pembelajaran, dan sistem penilaian berjalan selaras.

“Mutu bukan sekadar berkas yang lengkap saat akreditasi, mutu adalah kebiasaan akademik yang dapat dirasakan mahasiswa dan masyarakat,” tegasnya.

Pesan kedua berkaitan dengan penguatan dosen dan penciptaan iklim akademik yang sehat. Ia menilai kualitas perguruan tinggi sangat bergantung pada kemampuan dosen untuk terus belajar, melakukan penelitian, serta memperbarui metode pembelajaran sesuai perkembangan ilmu pengetahuan.

Pengembangan kualifikasi, pembinaan karier, penelitian, publikasi, dan kerja sama ilmiah, menurutnya, perlu dilaksanakan secara terencana. Namun, pencapaian dosen tidak boleh hanya berorientasi pada angka kredit maupun jumlah publikasi. Dosen juga memiliki tanggung jawab membimbing mahasiswa agar mampu berpikir kritis, menjunjung integritas, dan berani menguji gagasan.

Ia juga menegaskan pentingnya membangun lingkungan kampus yang menghargai perbedaan pendapat, membuka ruang kritik, menolak perundungan dan diskriminasi, serta melindungi martabat seluruh warga akademik.

Pesan ketiga yaitu membangun keunggulan akademik dengan bertolak dari realitas dan kebutuhan masyarakat Maluku. Sebagai perguruan tinggi yang berada di wilayah kepulauan, IAKN Ambon memiliki kekayaan sejarah, bahasa, budaya, serta pengalaman hidup antarumat beragama yang dapat menjadi landasan pengembangan keilmuan.

Di sisi lain, kondisi geografis Maluku menghadirkan berbagai tantangan, seperti ketimpangan akses pendidikan antarpulau, kebutuhan pelayanan di pulau-pulau kecil, perubahan lingkungan pesisir, hingga terbatasnya kesempatan kerja bagi generasi muda.

Ia menilai kondisi tersebut dapat menjadi peluang bagi IAKN Ambon untuk mengembangkan kekhasan akademik yang relevan dengan kebutuhan masyarakat. Kajian teologi, pendidikan, seni keagamaan, konseling, kepemimpinan, dan ilmu sosial perlu dihubungkan dengan persoalan nyata yang dihadapi masyarakat kepulauan.

Ia juga mengingatkan agar hasil penelitian tidak berhenti pada publikasi jurnal atau tersimpan di perpustakaan, tetapi dapat dimanfaatkan oleh masyarakat, gereja, dan pemerintah sebagai dasar pengambilan keputusan yang lebih baik.

“Penelitian sepatutnya tidak berhenti di jurnal atau perpustakaan, hasilnya perlu hadir sebagai pengetahuan yang membantu masyarakat, gereja, dan pemerintah mengambil keputusan yang lebih baik,” pesannya.

Sementara itu, pesan keempat adalah menegakkan tata kelola yang berintegritas dan memperluas kolaborasi. Menurutnya, institusi pendidikan yang kuat harus ditopang kepemimpinan yang terbuka, pengambilan keputusan yang adil, pengelolaan anggaran yang akuntabel, serta kerja sama seluruh sivitas akademika.

Ia menegaskan kebijakan kampus harus berorientasi pada kepentingan pendidikan, bukan kepentingan pribadi atau kelompok tertentu. Selain itu, IAKN Ambon perlu memperluas kemitraan dengan pemerintah daerah, gereja, sekolah, lembaga riset, dunia kerja, dan komunitas masyarakat.

Kemitraan tersebut diharapkan membuka ruang pengalaman belajar yang lebih luas bagi mahasiswa sekaligus memperbesar kesempatan lulusan untuk berkarya di tengah masyarakat.

Jeane mengingatkan bahwa keberhasilan kolaborasi tidak cukup diukur dari banyaknya dokumen kerja sama yang ditandatangani, tetapi harus terlihat dari pelaksanaan program dan manfaat nyata yang dihasilkan bersama.

“Kolaborasi yang baik bukan sekadar penandatanganan kerja sama, melainkan kegiatan nyata yang menghasilkan manfaat bersama,” ujarnya.

Ia menyampaikan dirjen Bimas Kristen Kemenag terus mendorong peningkatan mutu dan relevansi pendidikan tinggi keagamaan Kristen. Karena itu, empat arah penguatan tersebut diharapkan dapat diterjemahkan IAKN Ambon menjadi prioritas kerja yang realistis, terukur, dan berkelanjutan.

“Tidak semua program harus dilaksanakan secara bersamaan. Institusi perlu berani menentukan prioritas yang paling mendesak, menetapkan penanggung jawab, mengukur hasil, serta memperbaiki pelaksanaan program secara berkala. Konsistensi dalam menjalankan langkah-langkah tersebut menjadi bagian penting dalam membangun kepercayaan publik dan reputasi akademik perguruan tinggi.

Ia juga mengingatkan bahwa perguruan tinggi tidak cukup hanya menyelenggarakan perkuliahan dan menerbitkan ijazah. Proses pendidikan harus benar-benar membentuk kemampuan lulusan yang dapat diuji dan diterapkan dalam kehidupan nyata.

“Bagi perguruan tinggi keagamaan Kristen, keunggulan tersebut harus berjalan seiring dengan kedewasaan iman, kejujuran, kepedulian, dan penghormatan terhadap martabat manusia. Kita membutuhkan lulusan yang menguasai teknologi tanpa kehilangan hati nurani, mampu bersaing tanpa menghalalkan segala cara, dan berani memimpin tanpa mengabaikan suara orang lain,” ungkapya.

Ia menegaskan, ukuran manusia unggul tidak semata-mata ditentukan oleh kemampuan melampaui orang lain, tetapi juga oleh kemampuannya menggunakan pengetahuan, keterampilan, dan potensi diri untuk memberikan manfaat bagi sesama.

Sidang Senat Terbuka tersebut juga dihadiri Forkopimda Maluku, Forkompimda Kota Ambon serta Senat dan sivitas akademika IAKN Ambon. (MT-01)