Sekilas Info

Ikan Purba Raja Laut Tertangkap Pancing Nelayan

IKAN PURBA – Tim Loka Pengelolaan Sumber Daya Pesisir dan Laut (LPSPL) Sorong Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) mengamankan ikan purba Raja Laut Coelacanth (Latimeria Sp.) yang ditangkap nelayan di Sorong, Papua Barat.

AMBON – Loka Pengelolaan Sumber Daya Pesisir dan Laut (LPSPL) Sorong Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) menemukan ikan purba Raja Laut Coelacanth (Latimeria Sp.).

Sebagaimana dilansir dari laman LPSPL Sorong, Rabu (19/6/2019), ikan tersebut terpancing oleh nelayan dari Kelurahan Pulau Raam Distrik Sorong Kepulauan, Sorong, Papua Barat, Yulius Faidiban dan Yopi Mamoribo, yang tidak sengaja menangkap ikan purba tersebut.

Keduanya tidak pernah menyangka aktivitas melaut yang dilakukan Sabtu (15/6/2019) di perairan Urbinasopen dengan kedalaman sekitar 60 m, akan mendapatkan hasil diluar dugaan.

Ikan yang terpancing pada pukul 08.00 WIT langsung didaratkan dalam kurun waktu kurang lebih dua jam. Pendaratan ikan purba ini dilakukan ke daerah Suprau, Distrik Maladum Mes, dalam keadaan hidup.

Berita terpancingnya ikan Coelacanth mulai menyebar, berawal dari banyaknya masyarakat yang mendokumentasikan ikan tersebut, karena sebelumnya tidak pernah ada nelayan yang mendapatkan ikan purba ini. Saat didaratkan di Suprau, belum ada yang mengetahui jenis ikan tersebut.

Tim LPSPL Sorong langsung bergerak ke lokasi, namun menemukannya sudah berada di Pasar Boswesen Sorong dalam keadaan sudah mati.

Hasil pengukuran morfometri tersaji sebagai berikut:

Panjang total ikan : 98 cm

Berat ikan : 12,48 kg

Lingkar tubuh : 57 cm

Panjang kepala : 22 cm

Panjang sirip dada : 22 cm

Panjang sirip punggung bagian depan : 13 cm

Panjang sirip punggung bagian belakang : 15 cm

Panjang sirip perut bagian depan : 14 cm

Panjang sirip perut bagian belakang : 15 cm

Nama coelacanth berasal dari kata-kata Yunani coelia (berongga) dan acanthos (duri), yang berarti ikan dengan duri berongga. Ikan coelacanth tergolong ke dalam ordo Coelacanthiformes.

Berdasarkan fosilnya, pertama kali muncul di bumi pada zaman Devonian (sekitar 400 juta tahun lalu). 200 juta tahun lebih purba dari usia dinosaurus yang baru muncul di muka bumi pada zaman Triasic.

Ikan ini memiliki keunikan yang tidak dimiliki oleh jenis-jenis lainnya seperti adanya tujuh sirip yang tebal dan berotot (memiliki daging) dengan sirip tambahan pada sirip ekornya, Dengan adanya sirip-sirip berlobi daging yang menyerupai tonjolan tangan dan kaki, ikan coelacanth diasumsikan berkerabat lebih dekat ke ikan paru-paru, mamalia dan reptil (hewan berkaki empat/tetrapoda) daripada dengan kelompok ikan bersirip kipas.

Karena kelangkaannya, Coelacanth, yang di Indonesia dikenal dengan nama latin Latimeria Menadoensis atau dalam bahasa lokal ikan raja laut dimasukkan dalam daftar merah (red list) IUCN dengan status vulnerable (VU) atau rentan, artinya spesies menghadapi risiko tinggi kepunahan di masa depan.

Berdasarkan aturan CITES, Coelacanth dimasukkan dalam daftar apendiks I, yaitu daftar yang memuat jenis-jenis yang telah terancam punah (endangered), sehingga perdagangan internasional spesimen yang berasal dari habitat alam harus dikontrol dengan ketat dan hanya diperkenankan untuk kepentingan non-komersial tertentu dengan izin khusus.

Di Indonesia sendiri, secara nasional ikan raja laut ditetapkan statusnya sebagai biota dilindungi melalui PP Nomor 7 tahun 1999 tentang Pengawetan Jenis Tumbuhan dan Satwa yang lampirannya terakhir dirubah melalui peraturan menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Nomor 106 tahun 2018 yang merupakan perubahan kedua tentang jenis tumbuhan dan satwa dilindungi.

Kementerian Kelautan dan Perikanan melalui Peraturan Menteri Kelautan Nomor 61 Tahun 2018 juga mengatur pemanfaatan dan peredaran jenis ikan yang dilindungi dan/atau jenis ikan yang tercantum dalam Appendiks Convention On International Trade In Endangered Species Of Wild Fauna And Flora (CITES) yang didalamnya termasuk Coelacanth ini sehingga pemanfaatan dan peredarannya dilaksanakan sesuai dengan Permen 61 tahun 2018 tersebut. (MT-06)

Penulis:

Baca Juga

error: Content is protected !!