Sekilas Info

Saat Umat Buddha di Pedalaman Pulau Seram Merayakan Waisak

WAISAK - Ketua Umum/Sanghanayaka Sangha Theravada Indonesia, Bhante Subhapanno Mahathera memimpin prosesi perayaan Tri Suci Waisak 2563 Buddhis Era/2019 yang digelar umat Buddha di pedalaman dataran tinggi pegunungan Von, hutan Bukit Namirang, Negeri Atiahu, Kecamatan Siwalalat, Kabupaten Seram Bagian Timur, Provinsi Maluku, Rabu (19/6/2019) lalu.

AMBON – Umat Buddha di pedalaman dataran tinggi pegunungan Von, hutan Bukit Namirang, Negeri  Atiahu, Kecamatan Siwalalat, Kabupaten Seram Bagian Timur (SBT), Provinsi Maluku juga turut merayakan Tri Suci Waisak 2563 Buddhis Era/2019.

Perayaan Tri Suci Waisak 2563 Buddhis Era/2019 telah berlangsung, Rabu (19/6/2019) lalu. Perayaan berlangsung di sebuah bangunan darurat yang hanya berlantai papan.

Sejumlah kegiatan digelar, diantaranya prosesi pernikahan. Tercatat 23 pasangan berikrar untuk melakukan upacara pernikahan secara masal dengan tata cara Agama Buddha.

Upacara pernikahan massal yang diselenggarakan oleh Majelis Agama Buddha Theravada Indonesia ini dan dicatat langsung oleh petugas Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil (Disdukcapil) Kabupaten SBT.

Prosesi pernikahan dipimpin oleh Wakil Ketua Umum Pengurus Pusat Majelis Agama Buddha Theravada Indonesia (Megabudhi) Pandita Sugiyanto.

“Pemberkahan pernikahan dilakukan oleh Ketua Umum/Sanghanayaka Sangha Theravada Indonesia Bhante Subhapanno Mahathera dan Ketua Bidang Antar Lembaga Sangha Theravada Indonesia Bhante Cittagutto Mahathera. Hadir juga Pembimas Agama Buddha Kanwil Kemenag Provinsi Maluku, Camat Siwalalat, Raja Negeri Atiahu, petugas Disdukcapil SBT dan beberapa tokoh masyarakat lainnya,” jelas Pandita Sugiyanto kepada malukuterkini.com, Jumat (28/6/2019).

Sugiyanto merincikan prosesi pernikahan missal diawali dengan penyalaan lilin dan dupa oleh dua pasang pengantin dan Pandita, dilanjutkan dengan ritual Namakarapatha dan pembacaan ikrar perkawinan yang dipandu Pandita diikuti seluruh pasangan.

“Prosesi dilanjutkan dengan pengikatan pita kuning kedua lengan pengantin dan pengenaan kerudung kain kuning sebagai simbolisasi adanya ikatan pernikahan dan mengarungi kehidupan bersama baik suka dan duka sampai selamanya,” rincinya.

Selanjutnya nasehat kepada pasangan sebagai bekal mengarungi bahtera berumahtangga dari Pandita, disusul penandatanganan ikrar perkawinan dan penyerahan surat keterangan pernikahan secara agama Buddha, pemberkatan oleh Bhante Subhapanno Mahathera dan Bhante Cittaguto Mahathera serta diakhiri dengan ritual penutup,” rincinya.

Dijelaskan, petugas Disdukcapil Kabupaten SBT telah memverifikasi berkas surat keterangan pernikahan secara agama Buddha yang sudah disiapkan.

“Kemudian Pandita melakukan prosesi penetapan persetujuan usulan pencatatan pernikahan penandatanganan dari kedua mempelai dan saksi. Pengantin sudah resmi tercatat di Disdukcapil selanjutnya akan diterbitkan akta pernikahan pada masing-masing pasangan pengantin. Disdukcapil SBT juga telah memproses penerbitan KTP, Kartu Keluarga, Akte Perkawinan dan Akte Kelahiran,” jelasnya.

Usai prosesi pernikahan massal, menurut Sugiyanto dilanjutkan dengan prosesi perayaan Tri Suci Waisak 2563 Buddhis Era/2019 yang diikuti umat Buddha setempat.

Bhante Subhapanno Mahathera dalam wejangan dharmanya menguraikan tiga peristiwa sangat penting dalam agama Buddha.

“Peristiwa itu dimulai dengan Kelahiran Sidharta Gautama 623 tahun sebelum masehi, pencapaian ke-Buddha-an 588 sebelum Masehi. (pencerahan/menjadi Buddha) dan wafatnya Sang Buddha 543 sebelum Masehi. Ketiga peristiwa tersebut berlangsung pada hari yang sama, bulan purnama (bulat penuh) di bulan Waisak,” ungkapnya.

Selain itu, katanya, Bhante Subhapanno Mahathera dalam wejangan dharmanya juga mengharapkan umat dapat mengikuti keteladanan Sang Buddha. “Keteladanan Sang Buddha itu diwujudnyatakan dengan menjaga kerukunan dan kedamaian di lingkungan tempat tinggal,” kata Sugiyanto. (MT-02)

Penulis:

Baca Juga

error: Content is protected !!